Bisnis Properti Semakin Bergairah

JAKARTA  – Konsultan properti Colliers International meyakini bahwa sektor properti di Indonesia semakin bergairah pada tahun 2017 karena sejumlah indikasi telah menyiratkan potensi perkembangan ke arah tersebut.

“Kami menyampaikan properti pada 2017 seharusnya lebih baik,” kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, dalam paparan properti di Jakarta, Selasa.

Menurut Ferry, pertanda untuk ke arah tersebut meski secara umum dalam tingkat eksekusi atau penjualan atau penyewaan properti dinilai masih belum terlalu terlihat, tetapi dari segi minat sudah semakin kelihatan.

Dia mengakui bahwa pada saat ini, salah satu sektor yang paling berat dalam beberapa tahun terakhir adalah sektor perkantoran yang selama 2-3 tahun terakhir adanya pasokan yang sangat banyak.

Hal tersebut, lanjutnya, juga membuat pihak penyewa perkantoran dinilai memiliki opsi yang lebih banyak sehingga bisa mendapatkan harga yang sesuai keinginan mereka.

“Ini karena limpahan suplai ruang kantor yang banyak,” katanya.

Meski secara umum nilai “asking rent” perkantoran di wilayah Jakarta meningkat, tetapi ada sejumlah bangunan terutama di kawasan sentrabisnis (“central business district”/CBD) yang memiliki tingkat Grade A atau Premium yang tingkat harganya meningkat.

Sebagaimana diwartakan, perusahaan pengembang Crown Group menyatakan, properti di Sydney, Australia, semakin menarik bagi investor di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, antara lain karena pasokan hunian masih belum memadai dalam memenuhi jumlah permintaan yang ada.

Head of Global Capital Crown Group, Prisca Edwards, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (4/7), menyatakan, situasi “backlog” (kekurangan perumahan) yang dihadapi Sydney selama beberapa dekade terakhir adalah salah satu alasan utama mengapa pasar properti Sydney sebagai salah satu yang paling menarik di kawasan Asia.

Menurut dia, hal tersebut karena pada dasarnya kecepatan pengembang menciptakan tempat tinggal baru di kota tersebut tidak dapat mengikuti permintaan tambahan setiap tahun.

Ia juga berpendapat bahwa rencana biaya tambahan pajak hunian di Sydney dan di kawasan Negara Bagian New South Wales (NSW), Australia, lainnya tidak akan banyak mempengaruhi permintaan baik dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan data investasi properti terbaru di Australia ditemukan bahwa satu dari 10 pembeli di NSW adalah orang asing.

Sebelumnya, Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman HD, mengemukakan, Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih harus memperpendek proses pembuatan izin pendirian properti yang selama ini memakan waktu tunggu yang sangat lama.

Nukman mengatakan lamanya kepengurusan perizinan menyebabkan ketidakpastian biaya dan waktu bagi pelaku usaha. Karena itu, Pemda DKI harus menyederhanakan proses perizinan salah satu cara dengan memangkas waktu.

Nukman tidak mempermasalahkan biaya perizinan. Namun ia menggarisbawahi pemangkasan waktu keluarnya perizinan. (Ant)

Lihat juga...