Bencana Kekeringan Diprediksi Landa Kulonprogo dan Gunung Kidul
YOGYAKARTA — Kepala Pelaksana Harian BPBD DIY, Krido Suprayitno, memperkirakan ada sebanyak 14 ribu lebih warga di DIY khususnya Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul, yang berpotensi terdampak bencana kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Bencana kekeringan sendiri diprediksi akan mulai terjadi pada Agustus – September mendatang atau memasuki musim kemarau.
Mengantisipasi hal tersebut BPBD DIY bersama pihak terkait termasuk Dinas Sosial seluruh Kabupaten/Kota DIY, telah membentuk satgas kekeringan yang bertugas mengawasi, mengantisipasi dan mencari solusi terkait masalah kekekeringan. BPBD DIY juga menyatakan telah menyiapkan buffer stok air bersih sebanyak 1000 tangki, yang siap didistribusikan ke daerah-daerah kekeringan apabila dibutuhkan.
“Sampai saat ini kita sudah melakukan droping air bersih sebanyak 150 tangki air bersih ke 9 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul. Droping ini kita lakukan atas permintaan masyarakat. Namun Senin depan, kita akan mulai jemput bola untuk melakukan droping ke daerah-daerah yang membutuhkan, walaupun tanpa ada permintaan dari masyarakat,” katanya di Yogyakarta, Rabu (25/07/2017).
Daerah yang mengalami bencana kekeringan paling parah diprediksi akan terjadi di 2 kecamatan Kulonprogo yakni Kokap dan Kalibawang. Selain itu kekeringan diperkirakan akan terjadi di 14 kecamatan di Kabupaten Gunungkidul.
Ia sendiri menghimbau agar warga masyarakat dapat mengatisipasi hal tersebut dengan cara mengenali pranata mangsa, tidak memanfaatan air secara berlebihan, serta menggiatkan kegiatan kepedulian lingkungan dalam dangka menjaga ketertutupan lahan dan vegetasi.
“Pola kekeringan di Kabupaten Kulonprogo dan Gunungkidul itu berbeda. Di Kulonprogo potensi kekeringan tersebar secara tidak merata. Sementara di Gunungkidul kekeringan merata di 14 kecamatan. Sehingga pola penangannyanya pun berbeda,” katanya.
Dengan penanganan yang lebih terstruktur, BPBD DIY sendiri berharap pengalaman bencana kekeringan tahun 2004-2005 lalu, yang mengakibatkan kerusakan lingkungan dimana ribuan lahan produktif berubah menjadi lahan kritis tidak terulang kembali. Yakni denga cara melakukan antisipasi sedini mungkin.
“Kita berharap tahun 2019-2020 mendatang sudah tidak ada lagi droping air bersih di seluruh wilayah DIY. Karena penanganan kekeringan kita lakukan secara terstruktur,” tegasnya.