Masjid Laweyan, tak Lekang Waktu Meski Empat Zaman Berlalu

SELASA, 6 JUNI 2017

SOLO — Penyebaran Agama Islam di Kota Solo, Jawa Tengah, dapat ditelusuri dari keberadaan kampung Laweyan. Kampung Laweyan ini disebut-sebut salah satu kampung tertua,  karena keberadaannya jauh lebih lama dibanding berdirinya Kota Solo, yakni 300 tahun sebelumnya.

Istirahat di area beduk dan kentung berusia ratusan tahun.

Ketua Takmir Majis Laweyan, Achmad Sulaiman, kepada Cendana News banyak bercerita tentang sejarah Masjid Laweyan, serta awal mula penyebaran Islam di Solo. Disebutkan, sebelum masjid ini berdiri, di lokasi tersebut sudah berdiri pura, karena saat itu masyarakat setempat masih banyak yang memeluk agama Hindu.

“Dulu belum ada ajaran Islam, agama kepercayaan masyarakat masih Hindu-Budha. Sebelum dijadikan masjid, banyak penganut yang melakukan ibadah di Pura. Tapi sejak ajaran Islam masuk dan pengageng pura itu juga masuk Islam, tempat ibadah umat Hindu itu pun diubah menjadi masjid. Dulu awalnya berupa masjid papan,” ungkap Sulaiman, Selasa (6/6/2017).  

Disebutkan, Masjid Laweyan sendiri dibangun pada tahun 1546 masehi, pada masa Pemerintahan Sultan Hadiwijaya di Kerajaan Pajang. Keberadaan masjid ini pun berawal dari seorang penasihat agama Islam Kerajaan Pajang, yakni Ki Ageng Henis, yang disebut-sebut  masih merupakan cucu dari Prabu Brawijaya ke V.

Achmad Sulaiman.

Syiar ajaran Islam Ki Ageng Henis sampailah kepada Ki Ageng Beluk, di daerah Laweyan. Persahabatan terjadi di daerah ini, antara pendeta Hindu Ki Ageng Beluk yang memiliki Pura, dan Penasehat Agama Kerajaan Pajang, Kiai Ageng Henis. 

“Singkat cerita karena kebaikan dan akhlak yang baik yang ditunjukkan oleh Kiai Ageng Henis mendorong Ki Ageng Beluk, masuk agama Islam. Setelah itu Pura Hindu diubah menjadi langgar atau masjid kecil oleh Ki Ageng Beluk. Hingga akhir hayatnya, Kiai Ageng Henis tetap merawat dan menjaga Masjid Laweyan tersebut,” ceritanya.

Ditegaskan Sulaiman, keberadaan Masjid Laweyan ini  jauh sebelum berdirinya masjid Agung Solo, yakni pada tahun 1763. Terlebih dibandingkan dengan Kota Solo,  Masjid Laweyan berada 300 tahun sebelum berdirinya Kota Solo. Hebatnya, hingga kini, bangunan masjid ini tampak masih kokoh berdiri, bahkan beberapa ornamen masjid juga masih terjaga dengan baik.

Papan informasi.

“Kalau bangunan aslinya sudah diubah, yakni pada pemerintahan Pakubuwono (PB) X. Ornamen yang dipercaya ada sejak pada awal masjid dibangun yakni berupa kentongan dan beduk, yang bentuknya tidak bulat. Sementara tiang-tiang penyangga masjid itu dulu berasal dari Sisa Kerajaan Kartasura. Saat Kerajaan Kartasura dipindah ke Solo, tiang-tiang yang kayunya dijadikan Masjid Agung. Setelah Masjid Agung direhap oleh PB X, kayu dari Masjid Agung digunakan untuk masjid Laweyan ini,” ungkapnya.

Keberadaan Masjid Laweyan yang berada tepat dipinggir Sungai Jenes, menjadi lokasi yang strategis untuk penyebaran agama Islam. Sebab, jauh sebelum ada transportasi darat, transportasi air merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan Solo dengan daerah sekitarnya sampai wilayah Gresik, Jawa Timur, hingga ke Laut Jawa.

“Kalau orang dulu menyebutnya Bandar, sejenis Dermaga yang menghubungkan Solo Raya, sampai ke Gresik. Ini merupakan jalur perdagangan, sehingga banyak saudagar dari  berbagai negara yang masuk ke Solo. Termasuk Saudagar Islam yang turut menyebarkan Islam di Solo,” terangnya.

Mimbar Masjid Laweyan dari PB X.

Tak heran jika masjid yang bangunan intinya hanya seluas 162 meter persegi ini menjadi saksi sejarah banyaknya saudagar dari berbagai negara yang masuk ke Solo. Masjid inipun sudah melalui empat masa kerajaan, yakni Kerajaan Pajang, Kerajaan Mataram Islam, Kerajaan Kartosuro dan Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

“Baru jauh setelah itu, di Laweyan ini muncul tokoh seperti KH Samanhudi, yang lahir pada 1868 dan mendirikan Sarekat Dagang Islam. Pada 1912 diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hingga saat ini kampung laweyan juga terkenal dengan kampung pengusaha batik laweyan,” jelasnya.

Masjid Laweyan yang terletak di perbatasan Kota Solo dengan Kabupaten Sukoharjo, menjadi masjid tertua ke dua di Jawa Tengah, setelah masjid Agung Demak. Kini, selain Masjid Laweyan, keberadaan makam-makam kerabat dari empat kerajaan yang pernah berkuasa serta makam Kiai Ageng Henis yang berada tepat di samping Masjid Laweyan  juga menjadi daya tarik tersendiri.

Pengendara melintas di depan Masjid Laweyan.

Pengunjung akan semakin banyak  berdatangan, terutama pada 10 hari menjelang Lebaran. Kebanyakan dari mereka melakukan iktikaf dan tadarus Al Quran, serta berziarah ke makam Ki Ageng Henis untuk mendoakan para pendahulu dan pendiri yang telah meninggal dunia.

“Jadi masjid ini berdiri kokoh hingga Solo menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masjid ini pun masih dijaga hingga saat ini dan menjadi masjid yang pengelolaannya dilakukan oleh negara,” pungkasnya. {Harun Alrosid/ Satmoko/ Foto: Harun Alrosid}
Source: CendanaNews

Lihat juga...