JUMAT, 12 MEI 2017
BREBES — Bagi masyarakat pedesaan, alat-alat musik tradisional seperti rebana kasidah, hadroh, angklung, darbuka dan gamelan, sudah biasa dijumpai dalam setiap aktivitas keseharian. Alat-alat tersebut biasa digunakan untuk memeriahkan setiap acara keagamaan rutin ataupun khusus lomba kasidah ataupun hadroh.
![]() |
| Alat-alat Marawis |
Di Brebes, Jawa Tengah, ada sebuah desa penghasil alat-alat musik tradisional tersebut. Tepatnya di Desa Kaliwadas, Kecamatan Bumiayu. Hampir sepanjang jalan ini banyak sekali berjejer toko-toko penjual alat-alat musik seperti rebana, hadroh, bahkan marching band.
Salah seorang perajin yang sudah cukup sukses, H.M Sodikin (48), mengatakan, bahwa sebagian besar penduduk di Desa Kaliwadas adalah seorang perajin alat musik. Mereka biasa membuat beragam jenis alat musik yang berkualitas. Produk-produknya pun sudah sampai ke luar pulau dan kerap juga dikirim ke Jakarta untuk memenuhi permintaan pasar di Tanah Abang. “Masyarakat kami sudah sejak dulu berprofesi sebagai perajin alat-alat musik. Kami bisa membuat angklung dengan 18 nada, rebana kasidah, alat hadrohnya Habib Syeh juga kami bisa, darbuka dengan lingkar bahan alumunium, gamelan, dan set marching band berbagai kualitas,” katanya.
Sodikin mengaku memulai usaha ini sejak 2000. Saat itu, ia hanya bermodalkan Rp500.000 yang digunakan untuk membeli alat-alat finishing seperti kompresor dan cat, sreta lainnya. Ia memulai usahanya ini dari membuat alat-alat rebana kasidah, kemudian mulai membat satu set hadroh, hingga marching band.
“Pertama kali saya membuka usaha ini pada 2000, hanya bermodal lima ratus ribu, waktu itu saya menjadi seorang Kepala Sekolah di SMP swasta. Saya memanfaatkan waktu luang untuk membuat rebana kasidah, alat-alat hadroh, bahkan marching band. Seiring waktu, banyak pesanan dari berbagai pihak, baik masyarakat sekitar ataupun luar kota, akhirnya saya putuskan untuk keluar dari sekolah dan fokus mengembangkan usaha,” tuturnya.
Dari kegigihannya, sekarang Sodikin sudah mempunyai showroom sendiri yang cukup besar dan tempat untuk produksi. Kini, proses pembuatan alat-alat musiknya bahkan diserahkan kepada masyarakat sekitar. Ia hanya membelikan bahan-bahan dan melakukan quality control terhadap produk. Sedangkan pembuatan alat musik terserah perajin. Ada yang di workshopnya ada juga di rumah pekerja sendiri, karena perajin bisa lembur dengan sistem borongan, sehingga hasilnya lebih banyak. Semakin banyak barang yang dibuat, juga semakin banyak pula penghasilan perajin.
![]() |
| H. Sodikin, Pemilik Toko dan Perajin. |
“Alat-alat musik buatan masyarakat Desa Kaliwadas ini sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Harganya juga relatif lebih murah dari harga pasar, karena memang langsung dari produsen. Distributor alat musik pasar Tanah Abang juga kerap mengambil produk-produk buatan kami, dari mulai hadroh, rebana, gamelan, angklung, hingga marching band. Selain itu, saya juga memproduksi dengan berabagi kualitas, dari mulai silver, gold, dan platinum. Sehingga pembeli tinggal menyesuaikan anggarannya sendiri,” tutup Sodikin.
Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto
Source: CendanaNews

