Jutaan Tuna Netra di Indonesia, Belum Dapat Akses Pendidikan

SABTU, 29 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Dari total penduduk Indonesia, sekitar 250 juta orang, jumlah penyandang tuna netra yang ada saat ini diperkirakan mencapai 1,5 persen atau sekitar 3,75 juta orang. Namun, dari jumlah itu belum banyak penyandang tuna netra yang bisa mendapat akses pendidikan. 

Sejumlah penyandang tuna netra saat mengikuti pelatihan e-Pub

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah anak penyandang disabilitas, termasuk tuna netra, pada 2016 yang mendapatkan akses pendidikan baru mencapai 12 persen. Sementara, sebanyak 88 persen belum mendapat akses pendidikan sama sekali. Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Persatuan Tuna Netra Indonesia, (Pertuni), Aria Indrawati, dalam acara Sosialisasi dan Pelatihan penggunaan buku E-Pub bagi penyandang tuna netra hasil kerjasama Pertuni dan Yayasan Damandiri, serta Yayasan Mitra Netra di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (29/4/2017).

Tak hanya belum mendapat akses pendidikan secara merata, mayoritas penyandang tuna netra di Indonesia hingga kini juga belum mendapat akses untuk memperoleh ilmu pengetahuan dari buku bacaan. Hal itu terjadi, karena minimnya fasilitas yang memungkinkan penyandang tuna netra mampu mengakses hal tersebut.

“Saat ini, banyak gerakan masyarakat untuk mendorong perilaku gemar membaca buku. Bahkan, ada Duta Baca Indonesia yang selalu mengajak dan membantu masyarakat yang kesulitan baca buku. Tapi, nyatanya mereka tidak pernah bicara bagaimana kesulitan penyandang tuna netra dalam membaca buku. Bisa jadi, karena mereka tidak tahu, atau mengira penyandang tuna netra tidak butuh membaca buku,” katanya.

Menurut Aria, secara regulasi atau ketentuan, hal itu sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang nomor 26 tahun 2014, pasal 44 ayat 2, tentang Hak Cipta yang mengecualikan fasilitasi bagi akses para penyandang tuna netra pada buku dari kategori hak cipta. Namun, sayangnya klausul tersebut masih berskala umum, sehingga butuh aturan pendukung terkait pelaksanaan teknis, guna mengatur penerbit buku mendukung pengaplikasian UU tersebut.

“Kenyataannya, sampai saat ini memang kesulitan tertinggi dalam mengakses buku dimiliki para penyandang tuna netra. Maka, adanya pemanfaatan teknologi adaptif menggunakan perangkat komputer dan telepon pintar, untuk mengakses buku E-Pub, akan sangat membantu para penyandang tuna netra di seluruh Indonesia,” katanya.

Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan yang menaungi para penyandang tuna netra, Pertuni selama ini selalu berupaya memperjuangkan peningkatan kualitas hidup penyandang tuna netra di Indonesia. Baik itu di bidang pendidikan, seperti mendorong penerapan wajib belajar 12 tahun bagi penyandang tuna netra, maupun di bidang advokasi, seperti aksesibilitas politik, olahraga, fasilitas layanan publik, pelayanan keuangan bank, kesehatan, dan lain-lain.

Tak kecuali, menjembatani proses peralihan dari dunia pendidikan ke dunia kerja, bagi para penyandang tuna netra. Baik itu untuk penyandang tuna netra yang belum mengenyam pendidikan sama sekali, maupun yang telah mengenyam pendidikan. Salah satunya, dengan pemanfaatan teknologi adaptif untuk membantu penyandang tuna netra dapat mengakses buku bacaan.

“Selama ini, bersama Yayasan Damandiri, kita fokus untuk mengadakan pelatihan kewirausahaan bagi para penyandang tuna netra. Karena penyandang tuna netra juga butuh pekerjaan. Butuh makan. Sementara, peluang pekerjaan formal bagi mereka sangat terbatas, sehingga peluang yang lebih besar adalah dengan membuka usaha sendiri. Dan, fokus kita adalah menumbuhkan semangat kewirausahaan itu,” katanya.

Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), Aria Indrawati

Meski mengakui tidak mudah mengubah stigma masyarakat yang melihat para penyandang tuna netra hanya identik bekerja sebagai tukang pijat, Aria mengatakan, dengan berbagai upaya peningkatan kualitas hidup, salah satunya dengan memanfaatkan teknologi adaptif buku E-Pub, diharapkan mampu mendorong penyediaan lapangan kerja lebih banyak bagi penyandang tuna netra, yakni melalui jalur wirausaha.

“Dengan penggunaan buku E-Pub, hasil kerjasama Yayasan Damandiri dan Yayasan Mitra Netra, saya berharap penyandang tuna netra yang memiliki pendidikan tinggi bisa menciptakan lapangan kerja bagi tuna netra lainnya dengan cara mendirikan usaha. Sehingga, para penyandang tuna netra, baik yang berpendidikan tinggi atau tidak bisa medapat pekerjaan, dan bisa hidup lebih sejahtera dan mandiri,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Source: CendanaNews

Lihat juga...