SELASA, 7 MARET 2017
PADANG — Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat (Sumbar), Merry Yuliesday, mengakui, penyakit jantung menjadi pembunuh nomor dua di Sumbar setelah stroke. Menurut Merry, tingginya angka kematian tersebut dipicu oleh kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi makanan berkolesterol.
| Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday. |
Makanan berkolestrol yang dimaksud Merry, yakni makanan bersantan yang merupakan makanan yang sering dimasak oleh masyarakat di Sumbar, seperti gulai, es rumput laut, dan jenis makanan dan minuman lainnya. Ia menyatakan, hal tersebut memicu terjadinya penyakit jantung.
“Cara agar terhindar dari penyakit jantung, yaitu butuh perubahan pola makanan masyarakat, minimalnya mengurangi mengkonsumsi makanan yang bersantan,” katanya, Selasa (7/3/2017).
Sementara itu, melihat penyakit jantung yang sangat berbahaya, Dinas Kesehatan Sumbar juga telah memiliki program sebagai upaya memberikan pengobatan dan pelayanan khusus jantung.
“Kita sudah memiliki program untuk dokter spesialis jantung yang ada di kabupaten/kota di Sumbar. Namun untuk saat ini peralatan medis jantung yang kita miliki belum ada, mengingat harganya yang cukup mahal,” tegasnya.
Menurut Merry, dengan adanya program tersebut, pasien yang menderita penyakit jantung di Sumbar tidak perlu lagi dirujuk ke Padang.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, mengakui, berharap agar pelayanan penyakit jantung merata berada di seluruh daerah di Sumbar. Hal ini mengingat, jika unit pelayanan penyakit jantung tidak merata di daerah-daerah, akan membuat risiko meninggal dunia menuju rumah sakit sangat besar.
“Misalnya di Pesisir Selatan. Cukup jauh ke Kota Padang. Apalagi Pesisir Selatan yang berada di perbatasan di ujung sana, sangat jauh menuju Padang,” ujarnya.
| Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, bersama Pengurus Yayasan Jantung. |
Nasrul menyebutkan, Yayasan Jantung yang merupakan ujung tombak dari perpanjangan tangan pemerintah, supaya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Sumbar dan RSUP M Djamil Padang, serta rumah sakit daerah. Supaya terjadi pemerataan dokter spesialis jantung di daerah.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa