JUMAT, 3 MARET 2017
JAKARTA — Pendiri Rumah Amanah Rakyat (RAR), Ferdinand Hutahaean, menilai saat ini Indonesia menjadi negeri sesak dengan isu. Negara yang kehilangan kebenaran, bahkan telah menjadi negara yang subur dengan kebohongan. “Yang lebih menyedihkan, negeri sekarang diurus dengan senda gurau berlebihan, mengakibatkan negara kehilangan keseriusan dalam pemerintahannya,” ujarnya di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (3/2/2017).
![]() |
| Ferdinand Hutahaean |
Presiden Jokowi, beber dia, telah memperlakukan Baginda Sri Raja Salman Bin Abdulaziz Al Saud, sebagai tamu agung yang dimuliakan ketika di meja makan. Presiden sibuk merekam sebuah video dan merekam Raja Salman sedang menikmati makanannya yang kemudian diunggah di sebuah situs internet. Sebagai kepala negara, Joko Widodo semestinya bisa menunjukkan etika yang baik. “Memang tidak mudah memimpin negara sebesar Republik Indonesia ini. Dibutuhkan kapasitas dan kapabilitas yang cukup besar untuk mampu memimpin Indonesia, sebuah negara yang serba multi di sudut-sudut kehidupan,” ujarnya.
Di sela kunjungan Raja Salman ke Indonesia, sambungnya, tampaknya ada yang sudah merencanakan untuk memproduksi isu demi kepentingan politik. Dugaan rancangan skenario kepentingan politik itu melibatkan orang-orang penting di republik ini. Padahal, menurut Direktur Eksekutif Watch (EWI) ini, sesungguhnya, rancangan itu bukan sesuatu yang penting. Namun, karena isu ini berkaitan dengan seorang terdakwa penodaan agama Islam, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, maka isu itu menjadi sensitif. Terdakwa turut diundang Istana untuk menyambut langsung Raja Salman di Bandara Halim Perdana Kusumah.
“Sungguh sebuah praktek ketidak-patutan ditunjukkan rezim ini. Raja Salman adalah pemimpin negara, di mana Islam turun dan di sanalah Quran diturunkan. Apakah pantas penoda agama Islam turut menyambut Raja Salman?,” sesalnya.
Ahok, kata dia, sebenarnya tidak salah. Yang salah adalah orang yang mengajak Ahok turut serta dalam rombongan itu, bahkan presiden tampak begitu sumringah tersenyum dengan momen jabat tangan itu. “Seorang terdakwa yang dibela oleh Presiden, inilah pangkal masalahnya, sehingga negara ini menjadi negara penuh isu, negara yang over dosis dalam kebohongan, negara yang diurus hanya dengan senda gurau,” pungkasnya.
Jurnalis: Adista Pattisahusiwa/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adista Pattisahusiwa