Pemuda Katolik Diharap Mampu Cegah Disintegrasi Bangsa

MINGGU, 26 MARET 2017

MAUMERE — Saat ini, ada 3 persoalan utama yang sedang dihadapi segenap elemen bangsa dan negara ini, yakni terorisme, radikalisme dan ancaman disintegrasi bangsa. Untuk itu, Organisasi Pemuda Katolik harus bisa berjuang menangkal tiga isu tersebut dengan cara menjalin kerjasama antar seluruh  elemen bangsa, khususnya organisasi keagamaan dan pemuda yang ada di agama lainnya.

Karolin Margaret Natasa

Demikian disampaikan Ketua Umum Pemuda Katolik, Karolin Margaret Natasa, kepada Cendana News dan media lainnya di Maumere, Minggu (26/3/2017). Ia mengatakan, terkait pelarangan pendirian rumah ibadah, Pemuda Katolik terus berusaha mengadvokasi dan melakukan komunikasi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah, agar kasus penyerangan rumah ibadah tidak terjadi lagi. “Demo di DKI Jakarta tidak dipungkiri akan berpengaruh kepada kehidupan masyarakat di berbagai daerah, dan kita perlu memberikan pemahaman bersama, bahwa setiap agama itu ada di mana pun di negara kita, sehingga bisa hidup berdampingan secara baik dan bisa tercapai kebebasan beragama,” ungkapnya.

Pemuda Katolik, lanjut Karolin, memberikan apresiasi kepada Pemerintah yang telah berupaya menjamin kebebasan beragama dan mendirikan tempat ibadah serta terus berperan aktif terhadap berbagai persoalan yang ada di daerah, khususnya terkait toleransi dan ancaman disintegrasi bangsa. “Kami di tingkat pusat sering bertemu secara rutin dan membuat pernyataan bersama dengan berbagai organisasi pemuda dan ormas lintas agama lainnya, sebab bila kita semua bergandengan tangan, apa pun suku dan agamanya semua bisa hidup berdampingan dengan damai,” tuturnya.
Karolin berharap, apa yang sudah dilakukan pengurus di tingkat pusat bisa dilakukan oleh jajaran pengurus di daerah, sebab dalam menjaga kehidupan berbangsa dan bernegara, Pemuda Katolik menjadi garda terdepan. “Banyak Pemuda Katolik saat ini yang tidak terlatih dengan baik akibat terputusnya kaderisasi, sehingga tidak bisa berbuat lebih banyak terkait dengan kondisi bangsa dan negara saat ini yang sedang diuji nilai tolernasi beragama dan kebhinekaan,” sebutnya.

E.P. da Gomez, politisi senior di Kabupaten Sikka, dalam pengarahannya kepada Pemuda Katolik dari Kabupaten Sikka, Lembata dan Flores Timur di Maumere, Sabtu (25/3/2017) sore mengatakan, pada 1963-1965, Pemuda Katolik dan Partai Katolik di Kabupaten Sikka selalu berhadapan dengan Partai Komunis Indonesia, baik di pemerintahan maupun legislatif. “Pada 1963, di Sikka dan segenap wilayah di NTT, dibentuk Pemuda Katolik untuk menghadang Partai Komunis Indonesia yang sudah mulai mengakar dan meresahkan masyarakat,” ungkapnya.

Kader Pemuda Katolik dalam pertemuan Mapenta dan Makomcab di Maumere.

Menurut Gomez, sebagai sebuah organisasi yang juga berbasis agama, Pemuda Katolik saat ini harus melakukan 3 hal, yakni menjadi pejuang yang idealis, menjadi oportunis dan apatis dan permasalahan ini yang terjadi saat ini di masyarakat. “Ini menjadi tantangan barisan Pemuda Katolik untuk bisa menjadi organisasi yang disegani dan menjadi panutan bagi organisasi lainnya dan masyarakat khususnya warga gereja,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Lihat juga...