MINGGU, 12 MARET 2017
LAMPUNG — Berada di ujung Selatan Pulau Sumatera dan memiliki ketinggian sekitar 1500 meter di atas permukaan laut, membuat Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, dianugerahi keindahan alam yang mempesona. Jejak-jejak letusan Gunung Krakatau Purba yang tergambar dalam bukit-bukit dengan batu-batu besar teronggok juga membuat Desa Kelawi menyimpan sejarah geologi yang sangat menarik.
![]() |
| Pulau Jawa tampak di kejauhan dari atas Pematang Malang, Lampung Selatan |
Hal demikian disampaikan oleh Syahbana Abdul Rohman (36) warga Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni. Potensi alam tersebut hingga kini dijaga oleh masyarakat dengan kearifan lokalnya menjaga alam dengan melestarikan berbagai tanaman endemik lokal yang ada di hutan Dusun Kayu Tabu, seluas 2.000 meter persegi.
Selain itu, lokasi yang berada di ketinggian membuat penduduk desa bisa menikmati suasana matahari terbit (sunrise), dari puncak Pematang Malang, yang berada di ujung tebing yang berbatasan dengan wilayah yang dikenal dengan Pematang Tumpang, dan melihat matahari terbenam dari puncak bukit yang dikenal dengan nama Bukit Mega Kuning.
Menurut Syahbana, akses jalan yang sulit membuatnya belum terjamah oleh jepretan-jepretan kamera yang selanjutnya diunggah ke media sosial. Pada Minggu (12/3/2017), Syahbana secara khsusus mengajak Cendana News menyusuri jalan-jalan yang dibangun dengan sistem rigid beton yang merupakan hasil swadaya masyarakat, melintasi hutan tutupan sumber penyedia air bagi warga, melintasi perkebunan kakao, alpukat, pisang, cabe jawa serta berbagai tananaman perkebunan yang bisa diambil hasilnya sekaligus sebagai bagian konservasi alam.
![]() |
| Spot Batu Alif |
Beberapa spot wisata yang belum begitu dikenal wisatawan di wilayah Desa Kelawi, di antaranya spot bukit Mega Kuning, Tanjakan Menangis, Lubuk Kumbung, Pematang Malang, Way Cercap, Jembat Batu, Batu Alif, Minang Ruah dan Pematang Tumpang.
Lokasi yang menjadi tempat tujuan awal untuk dikunjungi dan menarik di sebelah Timur dikenal dengan nama Pematang Malang. Dinamakan pematang malang, karena wilayah tersebut memiliki wilayah yang melintang dari Timur ke Barat, dan di beberapa bagian berupa tebing tinggi.
Di lokasi tebing pada bagian atas terdapat sebuah batu yang dikenal dengan batu numpang, semacam batu untuk bertapa dan tetap bertahan meski berada di atas tebing. Sementara pada bagian sekitarnya merupakan tanah subur yang ditanami jagung. Lokasi Pematang Tumpang juga dikenal karena lokasi tersebut merupakan lahan subur yang “menumpang” di atas batu dan digunakan untuk bertani warga. “Dari atas pematang malang, pematang tumpang kita bisa melihat Pulau Jawa sangat dekat, karena hanya berjarak sekitar 30 mil, dan ini menjadi puncak paling tinggi di Kelawi. Melihat suasana laut di sebelah Timur kalau pagi bisa melihat matahari terbit,” terang Syahbana.
Sebuah gubuk di puncak Pematang Malang, menjadi semacam gardu pandang untuk melihat sejumlah pulau di Selat Sunda, di antaranya Pulau Rimau Balak di sebelah Timur, Pulau Kandang Lunik, Kandang Balak, Pulau Dua, Pulau Kelapa, Pulau Panjurit, Pulau Sangiang dan Pulau Sindu yang terletak di dekat area pertambakan intensif yang dipandang dari atas menyerupai karpet berpola petak-petak.
![]() |
| Syahbana menunjukkan batu pertapa di samping tebing Pematang Malang |
Sepanjang mata memandang, hembusan angin semilir dari arah Timur cukup indah ditambah dengan birunya laut yang menghampar dengan beberapa kapal roll on roll (Roro) datang dan pergi di alur masuk dan keluar Pelabuhan Bakauheni, di ujung Sumatera dan jalur baru yang merupakan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).
Kapal-kapal Roro yang ada di sebelah kanan, tepat di dekat Pulau Sindu dilihat dari ketinggian bak kapal mainan. Padahal, kapal-kapal tersebut tengah melakukan proses docking (perbaikan) serta anchor (menunggu jadwal operasi) serta kapal-kapal nelayan juga seperti mainan kecil.
Syahbana juga mengatakan, pepohonan bakau selayaknya pagar alam yang membatasai area laut dan perkampungan warga dan area pertambakan terlihat menghijau, meski kontur wilayah pantai di wilayah tersebut bukan berpasir, melainkan berlumpur, sehingga pandangan mata tidak akan menemukan garis pantai putih di sebelah Timur.
Puas melihat lokasi Pematang Tumpang, Pematang Malang sekaligus Way Cercap atau lokasi tebing tempat mengalirnya air dari ketinggian menyerupai air terjun jika dilihat dari bawah, perjalanan yang ditempuh sekitar 15 menit dari pusat Dusun Kayu Tabu bisa dilanjutkan ke sisi Barat.
Spot di sisi Barat yang dikenal warga dengan sebutan lokal, di antaranya Jembat Batu (lokasi yang dipenuhi tumpukan batu) serta tanjakan menangis berada di sisi Barat. Lokasinya pun hanya ditempuh sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor dan karena belum resmi dijadikan lokasi wisata, belum ada tiket atau biaya tambahan. Hanya cukup menyiapkan uang membeli bensin kendaraan roda dua untuk mengakses sejumlah spot tersebut.
Lokasi sisi Barat berupa perbukitan batu-batu, menyerupai magma yang membeku dan kini disisihkan di tempat yang rapi oleh warga untuk pertanian jagung, menjadi spot untuk memandang pantai wilayah Barat. Saat hari cerah, Syahbana memastikan semua pulau di sisi Barat Lampung bisa terlihat, di antaranya gugusan Gunung Krakatau, Pulau Sebesi, Pulau Sebuku dan satu garis lurus pandangan bisa melihat sekaligus Batu Alif (Batu menjulang menyerupai hurf Alif Arab), serta Pulau Mengkudu yang merupakan pulau dengan sajian menarik pasir timbul. “Lokasinya sangat terjal, bahkan jalan yang dilalui sudah menjadi siring karena memang jarang dilalui orang, hanya pekebun saja yang melintasinya,” terang Syahbana.
Rasa lelah bisa terbayar, karena dari atas bukit yang dinamakan Mega Kuning bisa melihat pemandangan birunya laut. Sebutan Mega Kuning dinamai oleh warga karena di bukit sisi Barat ini bertentangan dengan bukit sebelah Timur yang dikenal dengan Pematang Malang.
Disebut Mega Kuning, karena lokasi ini menjadi lokasi melihat semburat matahari terbenam (sunset) yang berwarna kuning keemasan, ditambah saat musim jagung menguning matahari berada di atas pucuk jagung dan tenggelam di antara Pulau Krakatau dan Sebesi.
Lokasi Lubuk Kumbung pun berada dekat dengan bukit Mega Kuning, menyerupai lembah atau kumbung yang cukup menawan selayaknya pemandangan perbukitan dan menyerupai punden berundak dan Piramida dari susunan batu-batuan sisa ledakan Krakatau.
Dari puncak ketinggian Bukit Mega Kuning, pemandangan birunya pantai berbatu Batu Alif di sebelah kiri bawah pandangan dan sebelah kanan atas Pulau Mengkudu terlihat seperti lukisan. Lokasi yang jarang dijamah tersebut merupakan kekayaan alam Desa Kelawi yang jarang dikenal sebagai destinasi wisata.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

