Kurang Kesadaran, Tugu Perjuangan Lampung Selatan, Terlantar

MINGGU, 12 MARET 2017

LAMPUNG — Tugu Perjuangan Lampung Selatan yang berada di depan Taman Makam Pahlawan Kesuma Bangsa, tak jauh dari Monumen Patung Pahlawan Nasional Raden Intan II, sering dilintasi orang setiap hari. Namun, Tugu Perjuangan yang merupakan saksi bisu perlawanan rakyat Kalianda terhadap Belanda itu, terlihat mulai tidak terawat.

Tugu Perjuangan Lampung Selatan

Berdasarkan catatan Cendana News, Tugu Perjuangan tersebut pernah mendapat pembenahan pada Agustus 2016, yang dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan (Disbertam) yang kini dilebur menjadi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Selatan, sebelum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Perbaikan yang dilakukan di antaranya pengecatan pada beberapa bagian berupa penebalan tulisan, pengecatan pada tembok serta pencabutan rumput yang mulai meninggi di sekitar monumen tugu perjuangan Lampung Selatan tersebut.

Selayaknya sebuah simbol perjuangan yang menggambarkan perjuangan masyarakat Kalianda, tugu perjuangan yang kini terlihat seperti tidak terurus, bahkan beberapa bagian rumput telah meninggi. Sementara perbaikan pada tembok dengan pengecatan mulai memudar, karena hujan yang membuat luntur cat.

Salah satu warga Lampung Selatan yang kerap melintas di Tugu Perjuangan Lampung Selatan, Al Hasan (30), mengakui saat melintas di lokasi tersebut selalu ingat akan makna tugu perjuangan tersebut. “Kalau saya sebagai generasi muda, ingat dengan adanya tugu perjuangan tersebut merupakan saksi sejarah perjuangan pahlawan asal Kalianda dan beberapa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kesuma Bangsa. Tapi, kalau melihat bangunannya dan lokasinya mulai memprihatinkan dan kurang ada perhatian,” terang Alhasan, warga Lampung Selatan, Minggu (12/3/2017).

Relief di Tugu Perjuangan Lampung Selatan

Alhasan yang kerap memiliki keperluan di Kalianda, mengaku jarang melihat ada pengunjung yang berada di area Tugu Perjuangan yang memiliki pintu gerbang, dan pada bagian Tugu Perjuangan bisa digunakan untuk melihat kota Kalianda dari ketinggian sekitar 7 meter. Beberapa tangga yang ada di ruangan tugu, dengan sebuah pintu besi menyerupai rolling door yang menghubungkan ruangan luar ke ruangan dalam serta tangga penghubung ke bagian atas, jarang dikunjungi orang.

Beberapa bagian keramik di bagian depan tugu perjuangan Lampung Selatan tersebut terlihat mengelupas dan rusak pada beberapa bagian. Selain kurangnya perhatian, minimnya kunjungan ke Tugu Perjuangan Lampung Selatan tersebut akibat kurangnya pendidikan terkait perjuangan pahlawan Kalianda yang diajarkan di sekolah.

Meski terwujud dalam bentuk Tugu Perjuangan, Alhasan menilai masyarakat masih memandang sejarah sebagai sesuatu yang kurang penting. Kurangnya berbagai kegiatan di sekitar Tugu Perjuangan juga membuat Tugu Perjuangan terkesan hanya merupakan sebuah tugu peringatan tanpa makna.

Berbagai kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh generasi muda untuk lebih menghargai perjuangan bahkan kadang tidak terlihat dengan adanya beberapa coretan di dinding yang meski tak nampak namun sangat merusak bagian-bagian bangunan di sebagian wilayah tersebut. “Seharusnya ada kegiatan positif, terutama oleh generasi muda saat peringatan hari pahlawan atau kegiatan lain, sehingga bisa menimbulkan kepedulian dan akhirnya Tugu Perjuangan akan diperhatikan,” ungkap Alhasan.

Lokasi Tugu Perjuangan berada tepat di dekat pertigaan yang dikenal dengan nama pertigaan patung Raden Intan II. Khusus untuk tugu Raden Intan II, pun perbaikan monumen baru dilakukan pada 2016, lalu, saat Haul ke-160 Pahlawan Raden Intan II, dengan proses pengecatan dan pembersihan patung atau monumen. Sementara kompleks Tugu Perjuangan berada tepat berada dekat dengan beberapa kantor pemerintahan Kabupaten Lampung Selatan.

Kurangnya perhatian, tidak adanya kunjungan ke Tugu Perjuangan Lampung Selatan tersebut bahkan terlihat dari perbedaan mencolok di media sosial. Hampir tidak ada anak-anak muda yang mengunggah  foto-foto dengan latar belakang Tugu Perjuangan. Foto-foto ala selfie, wefie yang digemari anak muda saat ini bahkan di Kota Kalianda nyaris tidak ditemukan. Berbeda dengan unggahan foto saat berada di Tugu Tuping Kalianda, wisata kuliner Kalianda serta beberapa lokasi di Kota Kalianda yang menurut Alhasan memiliki nilai sejarah yang sama pada Tugu Perjuangan Lampung Selatan.

Alhasan

“Kurangnya penyadaran akan nilai-nilai perjuangan pahlawan lokal, mungkin membuat tugu ini jarang dikenal, bahkan jika ditanya nama Kolonel Makmun Rasyied atau asal Lampung Selatan, mungkin banyak yang tidak tahu,” ungkapnya.

Alhasan berharap, ada kegiatan sosial yang bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih menghargai nilai-nilai sejarah serta upaya Pemerintah untuk melestarikan beberapa peninggalan sejarah berupa bangunan di Lampung Selatan. Ia juga berharap, agar generasi muda lebih memperhatikan beberapa peninggalan sejarah, termasuk Tugu Perjuangan Lampung Selatan yang terkesan terlantar dan tak diperhatikan tersebut.

Sementara itu, peleburan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (Disbertam) yang kini dilebur menjadi Dinas Lingkungan Hidup dinilai menjadi salah-satu penyebab pengelolaan Tugu Perjuangan Lampung Selatan tersebut semakin tidak terurus. Salah-satu warga lain yang tinggal di Kalianda, Lampung Selatan, Saprudin (44), mengungkapkan perlu adanya perhatian dari pemerintah daerah, meski dalam beberapa perkembangan tata pemerintahan saat ini belum ada yang memiliki tugas dalam pemeliharaan cagar sejarah atau peninggalan benda-benda atau monumen sejarah yang ada di Lampung Selatan.

“Setidaknya perlu ada perhatian khusus, jangan hanya menjelang hari pahlawan atau hari-hari besar tertentu saja, karena Tugu Perjuangan Lampung Selatan ini simbol perjuangan masyarakat Lampung Selatan dalam mengusir penjajah,” terang Saprudin.

Lokasi yang sebagian ditumbuhi pohon peneduh dan terkesan rimbun di depan Tugu Perjuangan Lampung Selatan dan bersuasana gelap saat malam hari membuat tugu perjuangan Lampung Selatan semakin jarang dikunjungi orang. Sementara kantor pimpinan daerah Muhamadiyah tepat di sebelahnya masih selalu ramai saat ada kegiatan organisasi atau kegiatan mahasiswa.

Saprudin bahkan mengungkapkan saat ini dengan munculnya tempat-tempat baru untuk berkumpul, seperti Dermaga Bom Kalianda, membuat tempat seperti Tugu Perjuangan hanya dilintasi dan bahkan tak dipandang orang, dan hanya diingat saat peringatan hari pahlawan saja.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...