Amry Muraji Kahar, Si Peniup Terompet Black Brothers

MINGGU, 12 MARET 2017

JAYAPURA — Pemilik nama lengkap, Amry Muraji Kahar, dengan nama singkatan Amry MK, biasa dipanggil Aji di rekan sebayanya. Namun, terkenal di Black Brothers dengan nama Amry. Pria kelahiran Ternate, 5 Mei 1948, itu mempunyai bakat meniup terompet sejak kecil dan juga turunan dari orangtuanya.

Amry Muraji Kahar

Di kampung Kalumpang, Ternate, Maluku Utara, keluarga besarnya sering memainkan musik Tajidor yang berbentuk musik orkestra, dengan alat musiknya sebagian besar dari Belanda. Keluarga besar Aji ini juga memiliki alat musik berukuran besar yang  diberikan langsung oleh Ratu Yuliana saat ia masih kecil. Pemberian berbagai macam alat musik dari Ratu inilah, yang membuat keluarga menamakan musik KAYAM yang artinya Kalumpa Yuliana Musik.

Pertama kali, saat masih kecil, Aji memainkan alat musik Klarinet, lalu ia belajar alat musik Trombon, lanjut memainkan Terompet, Saksofon dan terus-menerus Aji mencoba sejumlah alat musik tiup lainnya.

Saat ia masuk ke dalam grup Black Brothers, alat musik yang dimainkannya pertama kali adalah terompet, karena pada saat itu David Rumagesan memainkan alat musik Saksofon. “Sekarang, Bung David sudah tak bisa main saksofon, jadi saya yang main saksofon, jadi semua alat tiup saya kuasai,” kata Amry, kepada Cendana News, belum lama ini.

Aji sempat menciptakan lagu daerah Ternate yang diberi judul Inomote (artinya mari ikut saya). Pencipta lagu Bertemu Takkan Berpisah volume 4 dalam album Kenangan November, Black Brothers ini, saat bergabung dengan Black Brothers dan membuat album sejak 1976 hingga 1978, terdapat beberapa lagu  daerah yang ia ciptakan di luar dari grup legendaris itu. “Ada lagu saya yang sedang saya tulis, judulnya Cako Cako, ada lagu bahasa Inggris yang saya ciptakan dan pernah dibawakan saudara Stevie Mambor, judulnya I am a lone dan ada lagi nanti yang berbahasa Inggris, judulnya Looking For Sameone,” kata ayah dari Jamessar, ini.

Saat anaknya menikah tahun lalu, seluruh personel Black Brothers menghadiri perayaan tersebut, sekaligus reuni grup band tersebut. Pernikahan itu mengundang simpatik pecinta musik, karena terkumpulnya grup Black Brothers di Jakarta.

Pria yang mencicipi pendidikan SD, SMP dan SMA di Ternate itu tak mau tertinggal mengais rejeki di bidang musik. Saat duduk di bangku SMP, Aji telah mengenal musik, saat ia SMA, membentuk sebuah grup band mewakili SMA tersebut dan sering pentas di wilayah Ternate. “Tamat SMA saya ke Sorong, merantau di sana,” kata pria yang kini usianya beranjak 69 tahun.

Pada 1980, Aji masuk ke Night Club Flaminggo, tepatnya di Ancol, Jakarta. Sepuluh tahun itulah ia bergaul dengan pemusik café, masuk ke studio-studio rekaman, bahkan tak jarang ia bergumul dengan pemusik jalanan yang ada di Jakarta.

Nah, ketika Black Sweet datang ke Jakarta antara 1980-1990, mencari dirinya untuk mengasuh mereka yang mayoritas anak-anak asal Key lahir besar di Merauke, Irian Jaya. Sehingga, ia mengangkat grup band tersebut. “Itu grup asuhan pertama saya. Kalau tak salah tahun 1982, mereka sudah mulai beraksi. Itu kebanyakan anak-anak key yang lahir besar di Merauke,” katanya.

Setelah rekan-rekannya hijrah ke Stevie dan Benny ke Negara Australia, sementara Yochy dan Hengky ke Negara Belanda pada 1980-an, Ajji pun hijrah ke Negara Belanda mengajak almarhumah istrinya bernama Marlina pada 1990 bersama anaknya Jamasser, yang saat itu berusia 5 tahun.

Aji sempat mengalami beberapa kesulitan di Negara Belanda, lantaran ia masih berwarga Negara Indonesia. Aturan izin tinggal yang sering berubah-ubah di negara tersebut, membuatnya ambil keputusan berpindah warga Negara dari Indonesia ke Belanda. Sejak itulah, hingga kini ia bersama keluarga berwarga Negara Belanda.

Setibanya di sana, ia bekerja di Kantor Polisi Belanda di bagian perlengkapan, yang biasa disebut dengan Magazine. “Saya sudah pensiun dari polisi, tapi waktu itu tidak ada pangkat. Saya kerja di kantor polisi, tapi diangkat bagian gudang peralatan senjata. Gudang di sana dibilang Magazine. Semua alat polisi ada di situ,” kata pria yang gemar menggunakan topi lukis ini.

Selain bekerja di Kantor Polisi Belanda, ia tetap berkarir musik keliling Eropa bersama almarhum Hengky MS, sesuai dengan janji almarhum vokalis Black Brothers itu. Namun, kelilingnya dia bersama Hengky dan Yochy ke Eropa tak membawa nama Black Brothers, kecuali ada undangan acara di Indonesia, barulah mereka membawa nama Black Brothers. “Saya keliling Eropa seperti ke Jerman untuk bernyanyi. Sudah 90 persen wilayah Eropa sudah saya kelilingi untuk bernyanyi bersama Hengky dan Yochy,” tuturnya, mengenang saat-saat indah itu.

Delapan tahun kemudian setelah Presiden kedua Indonesia, Soeharto, turun, Aji bersama keluarga berkunjung ke Indonesia, tepatnya di Jakarta. Setelah berkunjung ke keluarga istri tercintanya, ia bersama istri dan anak mengunjungi tanah kelahirannya di Ternate, Maluku Utara. “Saat itu masih sekitar tahun 2000 sedang reformasi di Indonesia,” tutur Aji, sambil tersenyum.

Ada keunikan tersendiri bagi pria murah senyum ini, ketika ia manggung di café, dan penontonnya kebanyakan orang-orang tua Belanda yang pernah tinggal di Indonesia, meminta lagu yang tak biasanya ia bawakan setiap menyanyi di café-café. “Saya main band di sana, saya heran kok mintanya lagu potong bebek angsa. Saya pusing, padahal kalau di Night Club, Jakarta bertahun-tahun main, orang mintanya lagu barat, di sini kok potong bebek angsa,” kata Aji, sambil tertawa lebar.

Tak hanya  itu, lagu anak ayam juga membuatnya heran dengan permintaan orang-orang di Belanda sekitar 1990-an itu, dan lagu sepanjang jalan kenangan. “Tambah pusing lagu tek kotek kotek ayam juga harus saya nyanyikan, terus bit lagunya tak boleh diubah. Saya pusing, itu yang minta paling sering orang-orang tua yang pernah lama di Indonesia,” katanya, sambil menampilkan raut wajah, heran.

Black Brothers terkenal di Negara Belanda. Aji sangat menyayangkan di Indonesia nama grup band ini tak seharum di kancah negara luar. “Mulai terkenal di Belanda saat lagu Sajojo keluar, yang diciptakan saudara David, lagu itu melejit seperti roket, setiap hari lagu Sajojo terus kami dengar di sana. Saat kami dikontrak di  café milik orang Rusia, setiap main pasti ada yang teriak nyanyikan lagu Sajojo,” kata Aji, yang gemar makan sagu bakar itu.

Aji berusaha menghibur diri dengan rekan-rekan seperjuangannya di dunia musik, setelah istrinya berpulang ke Yang Maha Esa (YME) pada November 2016, lalu, dan dikebumikan di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta. Namun, ia yang sudah paruh baya ini, tetap semangat menjalani kehidupannya.

Saat ini di bulan Maret, si ahli alat musik tiup ini tengah bersama David Rumagesan dan Yochy Patypeiluhu berkeliling bersama ke beberapa kabupaten di Provinsi Papua, manggung membawa nama Black Brothers, menghibur masyarakat Papua. Sayangnya, personel tak lengkap, pasalnya dua rekannya Stevie Mambor dan Benny Bettay, ada di Negara Australia dan sedang sibuk.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Indrayadi T Hatta

Lihat juga...