Katrina Hadriani, Cinderella Loenpia Jazz Semarang

MINGGU, 12 MARET 2017

SEMARANG — Bagi laki-laki, cara terbaik untuk memikat perempuan adalah dengan membelikan bunga atau mengajak makan malam. Tapi, hal itu tidak akan berlaku jika ingin menarik hati Katrina Hadriani. Bagi Katrina, laki-laki idaman adalah orang yang akan mendukung penuh kariernya di bidang musik Jazz. “Kalau sudah menikah harus tetap ngejazz,” kata gadis kelahiran Pekalongan itu.

Performance Katrina Hadriani saat melantunkan musik Jazz

Katrina menceritakan ketertarikannya pada dunia Jazz, dimulai pada saat lulus SMA. Saat itu, ia terkena ‘jebakan Batman’ temannya yang bernama Yogi. Suatu hari, ia melihat performance Band Jepang membawakan lagu bergenre Jazz Rock. Karena dirasakan nadanya sedikit aneh, ia menanyakan hal tersebut kepada Yogi. Untuk menuntaskan rasa penasaran, Yogi mengajak Katrina untuk menonton komunitas Jazz Ngisoringin (di bawah Pohon Beringin).

Pertama kali ketika menonton putri pasangan Johannes Supadi dan Agus Budiyati, Katrina merasa tidak paham sama sekali, karena Jazz yang dimainkan versi original dari Amerika. Akhirnya tiap hari Katrina diberi kaset Jazz oleh Yogi. Lambat-laun, karena sering mendengarkan, Katrina mulai tertarik dan sering datang ke pertunjukan Komunitas Jazz Ngisoringin (JNR).

Kekagumannya pada musik Jazz, semakin bertambah karena ia melihat penonton yang datang juga dari aliran metal dan rock. “Suatu waktu saat jump session, tiba-tiba saya disuruh nyanyi lagu Ten 2 Five dan Alicia Keys di panggung, tanpa ada persiapan sama sekali,” katanya.

Awalnya juga Katrina merasa tidak percaya diri, jika harus menyanyi Jazz, karena suaranya berintonasi sopran yang lebih cocok untuk menyanyi pop dan klasik. Tetapi, setelah berkonsultasi dengan musisi-musisi senior, ia merasa yakin untuk menggeluti Jazz, karena menurut mereka Jazz adalah musik penuh improvisasi yang disesuaikan dengan suara penyanyinya.

Ingin Membesarkan Loenpia Jazz
Sebagai pecinta musik Jazz, Katrina sempat merasa gelisah dengan perkembangan musik yang berasal dari Amerika tersebut, karena belum ada even di Kota Semarang yang bisa menampung kreativitas pemusik Jazz seperti di kota lainnya, meski dipenuhi oleh musisi berbakat. Padahal, ia seringkali melihat di kota-kota lain sudah ada festival Jazz tahunan seperti Java Jazz di Jakarta dan Ngayogjazz di Yogyakarta.

Karena itu, di ulang tahun ketiga JNR, bersama band-band yang sering manggung di sana Katrina berinisiatif untuk membuat festival tahunan musik Jazz. Ide yang terbersit waktu itu adalah menggelar pertunjukan Jazz di tempat-tempat bersejarah di Kota Semarang. Alasannya, selain untuk memperkenalkan Jazz ke masyarakat juga untuk melestarikan kebudayaan di kota itu. Karena itulah, nama yang dipakai untuk festival adalah Loenpia Jazz, karena Loenpia adalah makanan khas Kota Semarang.

Uniknya, pertama kali terlibat, Katrina diserahi tugas untuk mengurus konsumsi. “Waktu itu saya kewalahan untuk mencari loenpia dalam jumlah banyak. Setelah bekerja keras, akhirnya dapat juga, tetapi pas hari H ternyata tidak bisa ikut karena harus ke Bandung,” kenang gadis berzodiac Taurus itu.

Meski tak bisa ikut saat pementasan Loenpia Jazz yang pertama, lulusan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro ini tidak patah arang. Ia tetap bekerja keras, agar penyelenggaraan tahun depan berjalan lebih meriah. Di tahun berikutnya “pangkatnya” dinaikkan menjadi logistik, kemudian content manager yang mengurusi banyak hal, mulai dari perizinan, pendanaan, band yang tampil hingga animo penonton diserahkan kepada pemilik ukuran sepatu nomor 40 tersebut.

Katrina Hadriani

Karena beratnya tanggungjawab yang diemban, Katrina sampai berkali-kali dimarahi orangtuanya, karena harus pulang malam. Apalagi, statusnya waktu itu masih menempuh kuliah. “Setiap ujian akhir, sering Mama ngomel kok ngeband terus, kapan sinaune (belajarnya),” terang Katrina, sambil tertawa.

Kerja kerasnya alam merencanakan festival Loenpia Jazz, terbayar ketika di 2016 musisi yang manggung mencapai lebih dari 200 orang, berasal dari komunitas Jazz Yogyakarta, Surabaya, Malang, Tegal, Solo, Bandung. Panitia juga berhasil mengundang musisi besar dari Jakarta seperti Fariz RM, The Groove, Rio Sidik Quartet dan Dewa Budjana. Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif (Kemenparkraf) mencatat jumlah pengunjung yang datang di GOR Jatidiri untuk menonton mencapai 17.000 orang.

Katrina tidak menyangka, bahwa hanya dalam 4 tahun, pergelaran Loenpia Jazz sudah bisa menarik banyaknya animo masyarakat. Padahal, di awal ia mengakui pada 2012 hanya ingin menyelenggarakan secara sederhana, dengan mengundang komunitas dari Solo dan Yogyakarta untuk meramaikan ulang tahun JNR. “Perkembangan musik Jazz sekarang berbeda, karena ada trend seperti Loenpia Jazz. Orang bisa menyaksikan sendiri Jazz itu seperti apa. Selain itu, banyaknya penyanyi nasional yang memadukan unsur Jazz di musik mereka seperti Rizky Febrian dan Kunto Aji, juga membawa dampak positif,” tukasnya.

Pernah Bercita-cita Jadi Perawat, Pemain Band dan Ahli Tata Kota
Katrina dilahirkan di Pekalongan, 28 April 1991. Umur 1 tahun, ia pindah ke Semarang untuk menempuh pendidikan di SD Pedurungan Tengah, kemudian melanjutkan ke SMP Dominico Savio dan SMA 2 Semarang. Setelah lulus SMA, Katrina melanjutkan ke Universitas Diponegoro. Saat ditanya tentang cita-cita, Katrina tertawa karena semenjak kecil selalu berubah. Waktu SD, ia ingin menjadi perawat, SMP menjadi pemain Band dan SMA mempunyai hasrat menjadi ahli tata kota.

Tetapi, takdir berkata lain. Meski mengaku tidak sengaja terjerumus Jazz, Katrina malah jatuh cinta dan tidak mau berpisah dengan musik yang mempunyai ciri ayunan “swing” tersebut. Saat ini, semua warga Semarang mengenal Katrina sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Loenpia Jazz.

Selain aktif di Loenpia Jazz, Katrina juga berniat mengembangkan obsesinya untuk mengeluarkan album Jazz. Saat ini, ia terlibat dalam dua Band Jazz. Pertama adalah Fatty Katty yang diproduseri sendiri, sementara lainnya adalah Be All Right, komunitas Band bersama teman-temannya. Setiap minggu, Fatty Katty punya jadwal tetap manggung 2 hingga 3 kali di café-café Semarang.

Kuantitas kaum hawa dirasa masih sedikit dalam dunia Jazz, juga sempat menjadi perhatiannya. Seringkali ketika Band Fatty Katty atau JNR akan manggung, ia sering mengundang mereka untuk datang. Tetapi, satu yang pasti, walaupun ingin memperkenalkan Jazz kepada perempuan, ia merasa belum terpikirkan untuk membentuk Girl Band Jazz, karena baginya Jazz adalah musik smooth yang bisa dinikmati oleh semua golongan dan usia, jadi tidak perlu ada pengkotak-kotakan.

Katrian juga mengaku, jika hingga kini belajar Jazz secara otodidak, ketika dirasa menemui kesulitan, ia akan kembali membuka real book, buku panduan lagu Jazz yang sedang tren di Amerika. Kalau memang dirasa belum cukup, maka jalan lainnya adalah konsultasi ke musisi senior. Bagi Katrina, Jazz adalah dunia kekeluargaan, tempat saling membagi ilmu yang dimiliki.

Ketika ditanya sampai kapan akan menekuni musik yang telah membesarkan namanya, gadis yang beralamat di Jalan Pedurungan Tengah 5C No. 39 itu menjawab tidak tahu. Karena, ia merasa sudah jatuh cinta, tetapi yang pasti Katrina menyampaikan pesan, bahwa ia masih akan berkarier lama di dunia Jazz. “Saya ingin punya pekerjaan yang tidak mengganggu waktu ngeband, begitu juga setelah menikah harus tetap ngejazz,” ujarnya.

Keinginannya ke depan adalah membumikan Jazz di Semarang setiap saat. Jika suatu waktu ada wisatawan bertanya, apa yang menarik ketika datang ke kota tersebut, semua orang akan menjawab lihatlah Loenpia Jazz.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...