Musik Dua Warna Iringi Kesenian Tradisional Jaranan di Penengahan

KAMIS, 9 MARET 2017

LAMPUNG — “Ning nang ning nung ning nang ning, Ning nang ning nung ning nang ning,”suara yang keluar dari gendang, terompet, gong dipadukan dengan angklung menjadi daya tarik tersendiri bagi warga untuk mendekati dan menonton kesenian tradisional yang selalu membuat berdecak kagum.

Angklung dan gendang yang juga digunakan untuk mengiringi kuda lumping

Jaranan atau kuda kepang, kuda lumping atau encling, sebuah kesenian tradisional yang masih menjadi tontonan menarik dan dinantikan oleh masyarakat. Atraksi yang di luar logika seperti orang makan beling, buka kelapa dengan mulut hingga makan api tetap menjadi pusat pembicaraan.

Di tengah masih banyaknya minat masyarakat untuk menonton, kesenian tradisional terus menghadirkan warna warna baru untuk terus menambah daya tarik. Mulai dari penambahan atraksi, hingga alat musik.

Selama ini, alat musik yang digunakan masih tradisional, namun seiring berkembangnya zaman, satu persatu alat musik modern sudah mulai ikut mewarnai kesenian tersebut, salah satunya elektone atau dikenal dengan organ. Di Penengahan Lampung, yang sudah menerapkan yakni sanggar kuda lumping Sari Budoyo.

Gendang dan kenong mendominasi alat musik untuk kesenian kuda lumping

Salah satu pemain musik sanggar kuda lumping Sari Budoyo, Jumino (45) menyebutkan, tarian ritmis yang disuguhkan masih menyesuaikan alunan musik dari gendang, terompet, gong dipadukan dengan angklung serta alat musik tradisional lain. Alat alat musik tradisional tersebut dalam sanggar Kuda Lumping Sari Budoyo biasanya dilakukan oleh pemain khusus yang tetap dan terlatih.

“Pemain musik tradisional dalam kuda lumping Sari Budoyo terkadang melekat ke personalnya sehingga ada sebutan Mardi Gendang, Sapto Gong atau Samin Suling karena setiap alat musik biasanya dikuasai satu orang dan ini sudah berlangsung lama,”ungkap Jumino yang dikenal dengan nama Jumino Kenong karena selalu menabuh kenong saat atraksi kuda lumping Sari Budoyo tampil dalam suatu acara kesenian saat berbincang dengan Cendana News, Kamis (9/3/2017).

Menurut Jumino, perkembangan zaman modern ikut mempengaruhi penambahan alat alat musik pada kesenian kuda lumping. Jika semula kuda lumping cukup dilengkapi dengan alunan gendang, terompet, kenong, gong serta angklung, kreasi tambahan pun mulai dilakukan dengan menyesuaikan permintaan dan usulan dari anggota sanggar.

Sukoco salah satu pengurus sanggar kuda lumping Sari Budoyo

Usulan yang diterima tersebut diantaranya dengan ditambahnya kreasi gerakan, atraksi, bahkan penambahan alat musik modern yang mulai diminati oleh penonton dan penari kuda lumping. Iringan yang semakin menarik selain membuat betah penonton juga akan semakin menjadikan kuda lumping Sari Budoyo ditanggap di beberapa tempat yang berimbas pada pemasukan uang kas sanggar kuda lumping tersebut.

Penambahan alat musik modern pada kesenian kuda lumping Sasri Budoyo tersebut dibenarkan oleh Sukoco (28), salah satu pemuda yang ikut mendedikasikan diri pada kesenian tradisional kuda lumping. Penambahan alat musik tersebut menjadi sebuah improvisasi dari alat musik kuda lumping untuk menambah musik ritmis yang mengalun selama penari yang menunggangi kuda lumping terbuat dari anyaman bambu menari.

Alat musik elektone dalam kesenian tradisional kuda lumping terang Sukoco merupakan iringan tambahan selain alat musik utama. Bahkan terkadang ditampilkan pada babak kedua saat para penari kuda lumping mendekati masa masa trance atau mabuk, sebab sebagian penari kuda lumping diakui oleh Sukoco sebagian ada yang murni menari dan justru sebagian yang mabuk dan akan ditambah oleh penonton yang ikut mabuk dengan adanya alunan musik.

“Perpaduan musik elektone biasanya ditambah tabuhan musik tradisional yang semakin dimeriahkan oleh penyanyi yang dikenal dengan sinden,”terang Sukoco.

Kolaborasi alat musik tradisonal dengan modern tersebut terang Sukoco merupakan sebuah perkembangan yang menyesuaikan dengan selera penonton saat ini. Sebab bagi penonton melihat kuda lumping selain hanya melihat penari yang sudah mabuk juga mendengarkan alunan penyanyi yang pada era sebelum tahun 2011 hanya berisi lagu lagu tradisional Jawa namun kini mulai dipadukan dengan lagu lagu Lampung, Indonesia dan bahkan lagu Banyuwangi.

Jika sebelumnya penyanyi hanya menyanyikan lagu “Sluku Sluku Batok” yang merupakan lagu Jawa kini iringan musik elektone pada kesenian kuda lumping mulai diiringi dengan lagu “Gerajakan Banyuwangi” yang merupakan lagu Banyuwangi serta lagu “Mak Ngidok Saumpami” yang merupakan lagu Lampung.

Meski ada penambahan alat musik modern, namun tidak mengurangi satu pun alat musik tradisional yang sudah ada. Penambahan diakuinya sebagai improvisasi untuk mempercantik alunan musik.
“Kreasi baru yang menarik tersebut bahkan berimbas sanggar kuda lumping Sari Budoyo diundang ke daerah lain diantaranya ke berbagai kecamatan yang ada di Lampung Selatan,”sebutnya.

Alat musik yang digunakan mengiringi kesenian kuda lumping disiapkan

Sukoco mengaku sebagian penabuh alat musik tradisional berupa gendang, kenong, peniup seruling, gong rata rata masih dimainkan oleh generasi tua. Namun seiring dengan seringnya mengadakan latihan, berbagi ilmu kepada generasi muda membuat sebagian generasi muda mulai bisa memainkan alat musik yang selama ini dipegang oleh generasi tua. Selain untu meneruskan ke generasi selanjutnya dengan mempelajari cara memainkan alat musik tradisional sesuai dengan ritme tarian khas kuda Lumping Sari Budoyo membuat kesenian kuda lumping tetap bisa lestari.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...