Mangut Kepala Manyung Bu Fat, Kuliner Bersantan di Semarang

SABTU, 25 MARET 2017

SEMARANG — Siapa yang tidak mengenal santan, cairan hasil perasan daging kelapa tersebut sering digunakan oleh ibu rumah tangga sebagai bumbu masakan sehari-hari. Di tangan Ibu Fatimah dan Ibu Yoto, santan bisa digunakan sebagai bumbu rahasia untuk membuat kuliner istimewa yang membuat nama mereka menjadi legendaris di Kota Semarang.

Mangut Kepala Manyung Bu Fat

Di Kota Semarang, siapa yang tidak mengenal Mangut Kepala Ikan Manyung atau Jambal Roti Bu Fat, yang ada sejak 1969 di Jalan Ariloka, Kerobokan, Semarang, Jawa Tengah? Awalnya, Fatimah dan Suyoso mencoba berjualan makanan secara sederhana. Mereka mencoba meracik sendiri bumbu-bumbu untuk membuat mangut. Karena dirasa pas di lidah, warung mangut tersebut lambat laun menjadi laris. Hingga 2017, Warung Mangut Kepala Manyung Bu Fat sudah mempunyai dua cabang, pertama di Erlangga Barat dan terbaru di Banyumanik.

Menurut salah satu pengelola di Jalan Elangga Barat, Yani, bahan dasar Mangut Kepala Manyung sebenarnya sama seperti biasanya, yaitu Kepala Ikan Manyung yang diasapkan, tomat dan santan sebagai bahan inti. Selain itu bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit hijau rebus, kemiri, kencur, kunyit, lengkuas, daun salam, daun jeruk, garam, dan penyedap. Tetapi, khusus untuk kuliner racikan Bu Fat, ada resep rahasia yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga membuat masakan mangut rasanya menggigit lidah. “Setiap membuka cabang, keluarga Bu Fat selalu rutin mengontrol agar kualitasnya tetap terjaga, sementara untuk bumbu rahasia selalu diracik di pusat,” terang Yani, saat ditemui Sabtu (25/3/2017).

Santan adalah salah satu kunci untuk membuat Mangut Kepala Manyung menjadi spesial. Kombinasi antara racikan santan dengan kepala Manyung akan membuat rasanya menjadi manis, pedas dan gurih di lidah. Fungsi santan sebagai penyeimbang, karena jika tidak memakainya masakan tersebut akan terasa seperti seperti sop atau gulai.

Lebih lanjut, Yani mengatakan, santan yang dipakai pun harus kental, karena itu santan disiapkan setengah jam sebelumnya. Sementara untuk mencampurkan dengan kepala ikan Manyung dilakukan 15 menit kemudian, kecuali jika ada kiriman keluar kota, santan harus disiapkan satu hari sebelumnya, kemudian dicampur dengan kepala Ikan Manyung dan dibekukan.

Yani, pengelola Warung Bu Fat.

Untuk memakannya harus dikukus terlebih dahulu, jangan sampai terkena bara api langsung, agar cita rasa santan di Mangut tidak hilang. Terkadang untuk mengurangi sedikit rasa pedas, para pelanggan menambahkan daun pepaya, agar sedikit terasa pahit. “Ikan Manyung asap sebagai bahan dasar kami datangkan dari Demak dan Juwana, agar rasanya tidak berubah, karena di antara warung Bu Fat tidak boleh ada perbedaan rasa, agar namanya tetap terjaga,” tambahnya.

Dalam sehari, Warung Mangut Kepala Manyung Bu Fat di Erlangga Barat sanggup menghabiskan 25 kepala Manyung. Untuk harga yang ditawarkan bervariasi, antara Rp50-80.000. Harga yang bervariasi itu tergantung pada besar Kepala Manyung yang akan disajikan. Biasanya satu Kepala Manyung dihabiskan oleh 2-3 orang, walaupun tak jarang juga 1 orang sanggup menghabiskannya. Karena itu, disarankan bagi yang ingin memakannya, siang hari adalah waktu yang tepat, karena makanan tersebut dianggap sebagai kuliner porsi besar.

Saat ini, warung Mangut Kepala Manyung Bu Fat sudah menjadi salah satu ikon kuliner Kota Semarang. Tak heran, banyak para artis dan tokoh nasional ketika berkunjung ke Semarang menyempatkan diri mampir ke warung makan tersebut, di antaranya, Yovie Widianto, Muhammad Nuh, Purnomo Yusgiantoro, hingga mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, Walikota Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Tak Jarang warung yang buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 18.00 WIB tersebut juga sering mewakili Kota Semarang untuk mengikuti Festival Kuliner berskala nasional, seperti Festival Kuliner Kampung Legenda yang diadakan di Grogol pada Agustus 2016 dan Event Pekan Raya Indonesia di BSD Tangerang pada Oktober 2016.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...