YOGYAKARTA — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PB NU) Said Aqil Siradj, menyebut Islam merupakan agama budaya, agama peradaban, serta agama kemajuan dan kemanusiaan. Sebaliknya Islam bukan merupakan agama yang hanya berdasarkan akidah dan syariat saja. Bukan pula agama teologi dan ritual ibadah saja.
![]() |
| Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PB NU) Said Aqil Siradj |
Hal itu diungkapkan dalam acara launching Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Yogyakarta, bertema menjembatani Islam Nusantara dan Dunia, bertempat di kampus setempat Jalan Lowanu Yogyakarta, Jumat (10/03/2017).
Said Aqil mengatakan bukti nyata hal itu adalah peristiwa hijrah Nabi Muhammad ke kota Madinah 15 abad lalu. Di mana di kota itulah Rasulullah membangun sebuah konstituti modern yang bukan berdasarkan etnis ataupun agama. Sebab dikatakan, di Madinah pada saat itu penduduknya sangat beragam. Baik muslim dan non muslim, maupun Arab dan non Arab. Namun semua diperlakukan sama, baik secara hukum, fasilitas, perlindungan maupun kebebasan.
“Itu yang namanya negara Madinah. Karena Rasulullah tidak pernah mendeklarasikan negara agama Islam atau negara Arab. Sejak 15 abad lalu, Nabi Muhammad sudah mencoba dan berhasil membangun sebuah konstitusi modern, konstitusi negara yang bukan berdasar agama atau etnis. Tapi membangun peradaban,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Said Aqil mengatakan untuk membangun peradaban berprinsip tawassuth (moderat) itu butuh kecerdasan dan tidak bisa asal-asalan. Di mana setiap elemen masyarakatnya harus mampu menggabungkan nilai-nilai universal dan kemampuan fiqih. Tak hanya itu, penggabungan tawassuth dan akidah juga diperlukan agar tidak memunculkan sikap radikal, atau ekstrim.
“Tidak bisa hanya mengandalkan jenggot panjang, gamis congkrang, tidak bisa. Bukan soal itu. Sebagaimana diungkapkan Imam Syafii, kita harus menggabungkan Alquran dan Hadist dengan akal. Tanpa akal kita tidak akan bisa mencapai tawassuth,” katanya.
Ia menambahkan ajaran hakikat sebagai pondasi dan syariat sebagai benteng atau tembok, harus digabungkan dalam membangun sebuah peradaban. Begitu pula ke-Islaman dan sikap nasionalis atau kebangsaan.
“Sejak 1914 KH Hasyim Asyari sudah punya agenda besar untuk menggabungkan Islam dan kebangsaan. Sebab Islam tanpa nasionalisme tidak akan bisa menyatukan umat. Nasionalisme tanpa Islam tidak akan memiliki nilai atau ruh. Karena itu Islam dan nasionalisme harus menjadi satu. Di dunia hanya KH Hasyim Asyari memiliki konsep itu. Karena di Timur Tengah ulama besar pasti bukan nasionalis dan nasionalis bukan ulama,” katanya.
Di akhir sambutannya, Said Aqil mengingatkan agar bangsa Indonesia berhati-hati terhadap kekuatan besar negara-negara seperti Cina dan Australia. Tanpa membawa Islam yang moderat, kedua negara besar tersebut bukan tidak mungkin akan tinggal diam dan ‘mengambil’ Indonesia.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana