PONOROGO — Jadah merupakan makanan tradisional yang berbahan dasar ketan putih yang sudah dimasak selama berjam-jam. Jika ditambah dengan penyajian dibakar semakin menambah tingkat kenikmatan makanan legit satu ini, masyarakat Jawa biasa menyebutnya jadah bakar.
![]() |
| Kuliner jadah bakar milik Aman. |
Salah satu penjual jadah bakar di Ponorogo, Aman (65) warga Desa Wonoketro, Kecamatan Jetis, mengaku, sudah menjadi penjual jadah bakar sejak tahun 2007.
“Kami menyediakan jadah bakar dan jawah awur,” jelasnya saat ditemui Cendana News di lokasi berjualan di kompleks depan Polsek Jetis, Minggu (5/3/2017).
Jadah bakar sendiri merupakan hasil olahan ketan putih yang sudah direndam semalaman, kemudian dimasak atau ditetel dengan menggunakan santan dan ditumbuk hingga halus. Proses penumbukannya sendiri tidak dilakukan sebentar, harus selama berjam-jam hingga ketan benar-benar halus.
“Jika dihaluskan menggunakan mesin rasanya beda dengan yang ditetel atau ditumbuk manual,” ujarnya.
![]() |
| Aman sedang membakar jadah dengan cara tradisional. |
Aman bersama istri memulai membuat ketan dari pukul 07.00-13.00 WIB. Setelah itu, pukul 16.00-21.00 WIB, ia sudah siap menjajakan dagangannya. Untuk satu porsi jadah bakar, Aman menjual Rp 4 ribu dengan isi lima potong jadah.
“Kalau jadah awur, jadah diberi taburan parutan kelapa, harganya Rp 2 ribu,” cakapnya.
Keunikan lain yang ditawarkan oleh Aman, saat proses pembakaran jadah masih menggunakan anglo atau yang biasa disebut dengan arang. Ia pun dengan sabar dan telaten, mengipasi secara manual menggunakan tangan sembari tangan satunya sibuk membolak-balikkan jadah agar tidak gosong. Dalam sehari ia mampu menjual 100 porsi jadah bakar.
![]() |
| Menu jadah bakar yang ada di warung Aman. |
“Kami buka setiap hari, karena ini sumber rezeki keluarga kami,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

