PADANG—Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat (Sumbar) Merry Yuliesday mengatakan, meski PADA 2016 lalu penderita gizi buruk di Sumbar mengalami penurunan. Dari 490 kasus pada 2015 menurun pada 2016 menjadi 411 kasus, namun di sisi lainnya daerah yang memiliki anak gizi buruk itu terdapat di daerah tertinggal.
![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat Merry Yuliesday. |
Merry menjelaskan, penyebab tingginya kasus gizi buruk di daerah tertinggal tersebut, akibat dari kesulitan bagi ibu untuk melakukan kontrol pengobatan kepada anaknya ke Posyandu, kemiskinan, persepsi masyarakat soal biaya berobat sangat mahal, diperparah lagi sulitnya akses jalan di daerah tersebut.
“Sebenarnya banyak hal penyebab terjadinya gizi buruk itu, kita lihat saja pada sektor pendidikan, pola asuh anak dan sanitasi lingkungan yang kurang bersih. Ke depan, persoalan yang ditemui ini akan kita lanjuti dengan cara menjangkau daerah yang terjauh itu,” ujarnya, Kamis (2/3/2017).
Dikatakannya, tidak hanya daerah tertinggal yang dikatakan memiliki kasus gizi buruk, tetapi juga terjadi di kota besar, sperti Kota Padang, merupakan tertinggi kedua kasus gizi buruk di Sumbar dengan 68 kasus. Kasus Gizi Buruk daerah Padang merupakan daerah yang jauh dari pusat perkotaan,” tutupnya.
Menurutnya, Dinkes Sumbar telah mengintruksikan tim kesehatan untuk aktif turun ke masyarakat, sebagai upaya mensosialisasikan tentang gizi buruk. Upaya lain yang dilakukan ialah pelatihan konselor ASI. Saat ini terdapat 355 tenaga konselor ASI yang tersebar di 19 Kabupaten/Kota dan 264 Puskesmas.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Muhammad Noli Hendra