Desa Klaten dan Pasuruan Melestarikan Karawitan Jawa di Lampung

KAMIS 9 MARET 2017

LAMPUNG—Bila Anda mengunjungi Desa Klaten dan Desa Pasuruan  di Lampung Selatan, maka Anda menemui remaja yang memainkan gamelan untuk kesenian karawitan. Siswa sekolah di sini mungkin juga mengenal elektone, gitar, drum, tetapi mereka juga tahu kendang, rebab, balungan, demung, kethuk, slenthem, bonang, suling dan beragam alat musik tradisional lainnya. Paguyuban Keluarga Yogyakarta di Desa Pasuruan melestarikan keseniannya lewat kelompok karawitannya. Sementara Sanggar Karawitan “Wahyu Laras” melaksanakan tanggungjawab itu di Desa Klaten.  

Anak anak yang belajar memainkan gamelan di sanggar Wahyu Laras.
Cendana News mengunjungi dua sanggar musik gamelan  tersebut. Mereka rutin mengadakan latihan setiap Minggu  dan steiap Rabu Malam.  “Kalau siang memang jarang dimainkan karena sebagian warga di sini sibuk bekerja tapi kalau mau mengetahui bagaimana bunyi semua gamelan ini bisa datang Minggu malam karena sebagian anggota pecinta musik gamelan aktif berlatih,” ungkap Widodo, salah seorang pengurus Paguyuban Keluarga Yogyakarta , Kamis (9/3/2017).

Guru sekolah dasar SDN 1 Pasuruan mengaku pada 2016 khusus untuk siswa kelas 6 SD diberi les tambahan atau ekstrakurikuler gamelan. Siswa aktif belajar gamelan dipandu oleh instruktur musik diantaranya Rukun Haryoto dan Ngadiuk yang memiliki keahlian dalam memainkan alat musik tradisional tersebut. 

Sebagian siswa ungkap Widodo bahkan pernah tampil dalam beberapa kesempatan memperagakan alat musik gamelan memainkan beberapa lagu tradisional Jawa yang diajarkan selama latihan. Alat musik gamelan yang dibeli oleh Paguyuban Keluarga Yogyakarta tersebut selain digunakan untuk latihan juga kerap digunakan untuk tampil dalam berbagai kegiatan.

Bahkan beberapa kali manggung dalam kegiatan ulang tahun desa serta kegiatan lain yang “menanggap” atau menggunakan karawitan sebagai hiburan utama saat resespsi pernikahan atau pesta. Gamelan yang tertata rapi tersebut ungkap Widodo akan mengalun indah saat dimainkan pada malam hari ketika anggota PKY berlatih lengkap dengan sinden atau penyanyi khusus lagu lagu Jawa yang hadir.

Anak anak berlatih gamelan di sanggar Paguyuban Keluarga Yogyakarta.
Kelompok kesenian lain yang secara kebetulan masih di kecamatan yang sama, tepatnya di Desa Klaten, berada di rumah salah satu warga bernama Mesidi (45) yang menjadi lokasi tempat berlatih sanggar gamelan karawitan bernama “Wahyu Laras”. 
Meski sang pemilik rumah tidak berada di rumah, namun beruntung salah satu pemain dan juga  pelestari kesenian tradisional bernama Samadi (65) yang rumahnya berada tepat di depan rumah penyimpanan alat musik tradisional tersebut bisa menerangkan secara mendetail sejarah tumbuhnya kesenian tradisional di desa Klaten.

Samadi mengungkapkan, kesenian tradisional karawitan hanyalah salah satu kesenian tradisional yang ada di Desa Klaten. Kelompok kesenian lain yang ada di desa tersebut elompok kesenian tradisional dengan alat musik tradisonal. Salah satunya adalah kesenian kuda kepang atau kuda lumping yang masih tetap dilestarikan. 

Sebagian besar masyarakat yang merupakan pendatang dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta membuat kesenian tradisional masih lestari untuk mengungkapkan kedekatan dengan tempat asal.

“Sebagian pemain musik khususnya untuk karawitan memang berasal dari kaum usia tua. Mereka bermain musik untuk mengobati rasa kangen saat berada di tanah Jawa dan suasana itu masih bisa dirasakan di sini,” terang Samadi sambil menunjukkan seperangkat gamelan yang tersimpan rapi.

Khusus di sanggar musik “Wahyu Laras”, Samadi  mengaku menggunakan jenis gamelan pelog slendro yang merupakan gamelan yang larasnya pelog atau slendro. Dalam musik karawitan Jawa sia menerangkan istilah laras slendro dan laras pelog yang dalam istilah modern dikenal dengan “tangga nada” yakni susunan nada dalam satu oktaf. 

Kedua laras tersebut sering digunakan dalam gending yang dimainkan dalam gamelan Jawa, gending inilah yang memberikan susunan melodi yang membentuk suasana dan karakter tertentu dalam musik Jawa.

“Kalau ingin mengetahui bagaimana suara dan cara memainkannya memang harus kita mainkan tapi karena latihan biasanya dilakukan setiap malam nanti bisa datang ke sini ikut main,” ungkap Samadi sambil tersenyum.

Meski demikian secara kebetulan, dia mengungkapkan ada beberapa anak usia sekolah yang rata rata adalah cucunya tertarik untuk belajar cara memainkan alat musik gamelan. Beberapa kali latihan diakuinya anak anak tersebut diajari cara membaca urutan nada sebelum mempraktekkan langsung cara memukul gamelan. Sebuah papan hitam dengan tulisan menggunakan kapur tulis disiapkan untuk pelajaran sekaligus untuk pedoman beberapa lagu yang akan dimainkan para pemusik.

Samadi kembali menerangkan laras slendro merupakan sistem urutan nada yang terdiri dari lima nada dalam satu gembyang (oktaf) nada yang dibunyikan dengan menggunakan Bahasa Jawa. Nada nada tersebut diantaranya; 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo) 6 (nem). 

Sesuai asalnya ungkap Samadi menggunakan pengejaan Bahasa Jawa yang merupakan singkatan dari angka bahasa Jawa di antaranya jo,ro,lu,mo,nem yang merupakan nama singkatan angka dari bahasa Jawa, ji berarti siji (satu), ro berarti loro (dua), lu berarti telu (tiga), mo berarti limo (lima) dan nem berarti enem (enam).

Sebuah lagu berjudul “La Kae Macane Ucul” atau berati “Lha Itu Macannya Lepas” lengkap dengan notasi angka dan lirik lagu disiapkan di papan tulis untuk panduan bagi pemain musik. Dia menambahkan rumitnya gamelan Jawa memang baru bisa dimengerti saat sudah dimainkan terlebih dalam memainkan laras pelog.  

Dalam gending masih dapat dibagi lagi menjadi dua yakni Pelog Barang, Pelog Barang, Pelog Bem. Pelog Barang tidak pernah membunyikan nada 1 (ji) sedangkan pelog Bem tidak pernah membunyikan nada 7 (tu).

“Karenanya para pemain meski sudah cukup umur kami selalu rajin berlatih untuk mengasah kemampuan terutama saat akan ada pertunjukan di suatu tempat latihan hampir dilakukan setiap malam,” terang Samadi.

Samadi menerangkan secara emosional gending gending yang mengunakan laras slendro dapat memunculkan perasaan gembira, ramai dan menyenangkan. Khusus dalam karawitan aras  slendro mampu menghasilkan suasana yang mampu memancing kesedihan, kerinduan, rasa cinta dan lain lain. 

Dia terlihat tekun dan sabar mengajari anak anak kecil yang ingin berlatih bagaimana memainkan alat musik gamelan yang disimpan di salah satu rumah warga tersebut.

Mewariskan Tradisi Musik Ke Generasi Muda Butuh Ketelatenan
 

Gamelan Karawitan Wahyu Laras di Desa Klaten diketuai oleh Badiman (65)  dan didukung Suratman (40), Kepala Dusun V. Menurut mereka  tersebut, kesenian karawitan yang merupakan kesenian tradisional saat ini masih dikenal terbatas di kalangan orang dewasa bahkan kaum tua. 
Samadi.
Samadi yang memiliki kepedulian untuk mengajar anak anak mengaku masih kesulitan untuk mengajak anak anak maupun generasi muda mempelajari kesenian tradisional khususnya anak usia sekolah.Samadi mengungkapkan saat ini anak anak menyesuaikan kebutuhan serta ekstrakurikuler yang diajarkan di sekolah di antaranya musik modern, olahraga serta kegiatan lain. 
Sementara sekolah yang mengkhususkan ektrakurikuler gamelan hanya SDN 1 Pasuruan. yang belajar di Sanggar Paguyuban Keluarga Yogyakarta. Samadi juga memberi pelajaran bagi anak anak yang ingin mengenal dan mempraktekkan cara memainkan alat musik gamelan di Desa Klaten.

“Sebagai generasi tua kita ingin mewariskan kesenian tradisional ini ke generasi muda namun tentunya perlu dukungan pihak sekolah serta kemauan dari anak anak,” terang Samadi.

Dia mengungkapkan jika generasi muda tidak dikenalkan cara memainkan alat musik tradisional dikuatirkan kesenian tradisonal khususnya gamelan hanya akan menjadi kenangan. Sebab saat ini anak anak muda lebih menyukai bermain gadget (gawai) berupa smartphone (telepon pintar) untuk aktivitas harian. 

Samadi  berharap sekolah yang dekat dengan lokasi sanggar dengan akses yang mudah bisa ikut belajar secara berkelanjutan seperti yang dilakukan SDN 1 Pasuruan. Saat ini hanya anak anak dan cucu yang tinggal berdekatan dengan lokasi penyimpanan alat musik yang masih aktif berlatih. Meski demikian dia mengaku khusus di Desa Klaten tetap direncanakan melatih anak anak muda untuk memainkan gamelan karawitan.

Karawitan Wahyu Laras ungkap Samadi juga kerap diundang ke daerah lain untuk mengisi acara hiburan dengan tarif sekali tampil Rp5juta dan hingga Rp8 juta tergantung jarak. Uang tersebut digunakan sebagai biaya operasional pengangkutan alat, honor para pemain musik serta sebagian untuk uang kas. 

Harga yang mahal untuk seperangkat alat gamelan yang harus didatangkan dari Yogyakarta tersebut diakui Samadi. Tambahnya harga itu untuk investasi kesenian serta warisan tradisional yang harus dijaga dan dilestarikan bagi generasi mendatang.

Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi

Lihat juga...