MINGGU, 12 MARET 2017
SEMARANG — Kecemasan Djawahir dan Jayadi akan punahnya Gambang Semarang, agaknya kini bisa sedikit terobati. Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Gambang Semarang Art Company (GSAC) mencoba kembali membangkitkan gairah Gambang Semarang.
![]() |
| Direktur GSAC, Tri Subekso |
Menurut Direktur GSAC, Tri Subekso, kegelisahannya melihat kesenian Gambang Semarang yang mulai memudar menjadikannya mempunyai impian untuk bisa melestarikannya. Bersama dengan beberapa orang temannya, pada 2012 mereka mendirikan komunitas GSAC.
Menurut Tri, Gambang Semarang merupakan seni pertunjukan hibrida Jawa dan Cina, baik dari sisi alat musik, tarian maupun kostum pemainnya. Sejak kemunculan Gambang Semarang di era 1930-an, anggotanya multiras yang mencakup keturunan pribumi dan Tionghoa. Perpaduan inilah yang senantiasa dipertahankan oleh GSAC hingga sekarang.
Baca:
Gambang Semarang, Riwayatmu Kini..
Sejak Zaman Jepang, Perjalanan Gambang Semarang, Berat
Anggota komunitas tersebut juga berasal dari berbagai suku, baik Jawa, Tionghoa maupun lainnya. Perpaduan ini juga merepresentasikan wajah Semarang yang sangat heterogen. “Kami juga mewadahi masyarakat pemerhati Kesenian Gambang Semarang, baik dari kalangan media, seniman, komunitas seni maupun budayawan. Salah-satu komitmen adalah melanjutkan spirit akulturasi yang membesarkan kesenian ini,” terang Tri.
Bagi GSAC dan komunitas anak muda lainnya yang mengembangkan Gambang Semarang, kesenian hanya akan berkembang jika dihidupi melalui wadah komunitas yang benar-benar fokus pada aksinya secara konkrit, yakni hadir dalam ranah seni pertunjukan. Melalui perform yang disajikan, masyarakat bisa menikmati dan mengapresiasi.
Jika GSAC mencoba menampilkan Gambang Semarang mendekati versi aslinya, yang dilakukan oleh Suara Nusantara (SN) sedikit berbeda. Mereka mencoba menghybrid Jazz dengan Gambang Semarang. Menurut Bassist SN Fauz Haqqi, ia merasa miris dengan kondisi musik tradisional di tengah gempuran budaya impor. Akibatnya, banyak generasi muda tidak tahu, bahwa zaman dulu Gambang Semarang sempat berjaya. Karena itulah, salah-satu tujuan SN dibentuk adalah untuk membuktikan kepada masyarakat, bahwa masih ada tradisi Jawa dalam genre Jazz.
“Pada pergelaran Loenpia Jazz 2014, Suara Nusantara menampilkan Gambang Semarang dalam balutan musik Jazz,” tambah mahasiswa Unnes tersebut.
Apa yang dilakukan oleh GSAC dan SN membuktikan, bahwa masih ada kelompok pemuda yang mencoba untuk menghidupkan kembali kesenian Gambang Semarang. Walaupun jalan yang ditempuh berliku, tetapi satu kesimpulan yang bisa diperoleh membuktikan, perjuangan yang diwariskan para pendahulu mereka dalam mempertahankan eksistensi Gambang Semarang sudah bisa dilanjutkan oleh GSAC dan SN. Setidaknya, untuk memberikan semangat kepada Djawahir Muhammad.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin