MINGGU, 12 MARET 2017
YOGYAKARTA — Kompleks Museum Perjuangan Yogyakarta di Jalan Kolonel Sugiono Nomor 24, Kota Yogyakarta, pada Minggu (12/3/2017), nampak sepi. Tak ada satu orang pun yang nampak mengunjungi museum dengan bangunan unik berbentuk melingkar seperti silinder yang dikenal dengan istilah ‘Ronde Tempel’ itu. Sejumlah patung kepala tokoh-tokoh pejuang yang menghiasi bangunan nampak hanya diam, seolah menunggu untuk sekedar diingat dan dipandang.
![]() |
| MUseum Perjuangan tampak dari depan |
“Setiap hari memang selalu seperti ini. Sepi. Jarang sekali ada pengunjung yang datang. Paling hanya sesekali, saat ada rombongan,” ujar salah seorang penunggu museum, Nyino.
Museum Perjuangan merupakan salah-satu dari sekian banyak museum yang ada di Kota Yogyakarta. Dibangun pada 17 Agustus 1959, dan mulai dibuka pada 17 November 1961 ini, merupakan salah-satu bangunan monumental yang memuat sejarah perjuangan Bangsa Indonesia dari masa pergerakan nasional hingga masa mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
Didirikan dalam rangka peringatan Setengah Abad Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1958 di Yogyakarta, museum ini menjadi bagian atau unit dari Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. Peristiwa gempa bumi dahsyat pada 27 Mei 2006 silam, sempat membuat bangunan museum mengalami kerusakan dan terpaksa ditutup. Museum baru dibuka kembali pada Juli 2008 setelah dilakukan pemugaran.
![]() |
| Relief yang dibuat di sekeliling tembol luar bangungan |
Boleh dibilang, Museum Perjuangan Yogyakarta merupakan museum dengan bangunan paling unik di antara museum lainnya. Bangunanya dibuat dengan memadukan gaya arsitektur Romawi Kuno pada bagian atas, dan model bangunan berbentuk Candi Mataram Hindu pada bagian bawahnya. Di sekeliling bangunan luar berbentuk melingkar ini nampak terdapat relief-relief perjuangan bangsa Indonesia dan patung wajah para pahlawan nasional.
Relief tersebut menceritakan riwayat perjuangan bangsa Indonesia secara kronologis, mulai dari berdirinya Budi Utomo hingga terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara sejumlah patung pahlawan nasional yang terpampang, di antaranya patung Ki Hadjar Dewantara, Jendral Soedirman, Wahidin Sudiro Husodo, RA Kartini, dan sebagainya. “Museum ini terbagi dalam dua ruang pameran. Ruangan lantai atas dan bawah tanah. Koleksinya merupakan benda-benda bersejarah yang pernah dipakai pejuang, seperti tempat tidur Presiden Soekarno, sepeda, buku, perlengkapan minum, dan lain-lain,” ujar Nyino.
![]() |
| Nyino |
Menurut Nyino, untuk masuk ke dalam museum, pengunjung hanya dikenai biaya Rp3.000 untuk orang dewasa dan Rp2.000 untuk anak-anak. Untuk menarik jumlah pengunjung, pengelola sendiri tak jarang menggelar sejumlah acara di sekitar lokasi museum. Termasuk juga program kunjungan museum di malam hari. “Memang sampai saat ini jumlah pengunjung masih tak seberapa. Paling-paling hanya 10 orang per hari. Kalau dibanding dengan biaya perawatan jelas jauh,” katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

