Meski Musim Hujan, Warga Desa Bakauheni Kesulitan Air

MINGGU, 12 MARET 2017

LAMPUNG — Meski musim penghujan terus mengguyur wilayah Lampung Selatan, namun sebagian warga yang tinggal di beberapa wilayah sulit air terpaksa bergantung pada mobil tangki yang menjajakan air bersih secara keliling.

Masri saat melayani warga membeli air bersih

Salah-satu warga Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, yang ditemui Minggu (12/3/2017), Arman (34), mengatakan, sejak setahun terakhir ia mengaku menggantungkan air bersih untuk kebutuhan minum dengan membeli air bersih yang dipasok dari mobil tangki kekiling. Menurutnya, akibat lokasi yang berada di perbukitan membuatnya sulit untuk membuat sumur. Upaya untuk membuat sumur bor yang pernah dilakukannya pun gagal, meski telah empat kali berpindah lokasi pengeboran.

Arman bahkan lebih memilih membeli air bersih untuk minum dan keperluan lain dari penjual air bersih menggunakan mobil tangki keliling, yang selalu datang saat ditelepon. Khusus untuk kebutuhan mandi, Arman mengaku terpaksa menimba air menggunakan jerigen dari sumur umum yang terletak di Dusun Kepayang, tak jauh dari tempat tinggalnya.

Kondisi kesulitan air bersih tersebut diakui Arman semakin parah saat musim kemarau melanda, karena saat musim penghujan seperti saat ini pun ia masih mengalami kesulitan air bersih. “Pernah mencoba membuat sumur gali, tapi tak mendapat mata air. Demikian juga saat membuat sumur bor, malah tidak berhasil, saya terpaksa meminta air dari tetangga terkadang dari sumber mata air umum untuk mandi, tetapi untuk keperluan minum saya membeli dari tangki, meski pengeluaran cukup besar,” terang Arman.

Keinginan untuk pindah mencari lokasi yang memiliki sumber air bersih yang bagus, sempat terbersit di benak Arman. Namun sejak proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), ia mengaku harga tanah di Bakauheni mulai melambung tinggi. Harga tanah kavling yang semula ditawarkan murah, pasca pembebasan tanah untuk lahan tol sejumlah tanah kavling menjadi mahal mencapai Rp300.000 per meter.

Arman terpaksa bertahan menempati rumah yang kini ditinggali, dengan sulitnya air yang memaksanya harus memberli air seharga Rp150-250.000, tergantung kapasitas tangki. Saat musim penghujan, harga air bersih yang dijual menggunakan tangki masih tergolong murah, Rp75.000 untuk ukuran 1500 liter, dengan menggunakan tandon air. Sementara saat musim kemarau, ukuran yang sama dibelinya seharga Rp100.000. Harga tersebut tergantung jarak tempuh sumber air yang diambil untuk dijual, sehingga semakin dekat harga yang ditawarkan pun semakin murah.

Sementara itu, penjual air bersih dari perusahaan swasta air bersih, Masri (60), mengaku setiap hari berkeliling memenuhi kebutuhan air bersih sebanyak 3-4 kali. Masri mengaku menjual air bersih ke sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan, di antaranya Kecamatan Palas, Kalianda, Bakauheni serta Ketapang, terutama wilayah yang sulit memperoleh air bersih.

Air bersih yang dibawa menggunakan mobil tangki dengan kapasitas 5000 liter diambil dari pesisir Gunung Rajabasa, yang selanjutnya dikirim ke pemesan yang terlebih dahulu memesan. “Perusahaan air bersih kami memiliki sekitar lima armada yang setiap hari memasok air kepada warga yang membutuhkan. Saat musim hujan, sehari bisa lima kali pengiriman. Tapi, saat musim kemarau kami kewalahan bisa mencapai sepuluh kali pengiriman per mobil,” ungkapnya.

Berdasarkan catatannya, sejumlah kecamatan yang cukup tinggi permintaan air bersih selama musim kemarau di antaranya Kecamatan Bakauheni, Ketapang dan Palas. Selain beberapa lokasi tersebut, merupakan daerah perbukitan dan tanah padas, akses air bersih dan fasilitas serta pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), belum menjangkau, sehingga sebagian warga terpaksa membeli air bersih dari mobil tangki. Pada hari normal, ia mengaku masih bisa memenuhi permintaan air bersih dengan jumlah empat tangki atau sekitar 20.000 liter dengan masing-masing kapasitas tangki mencapai 5000 liter.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...