Sejak Zaman Jepang, Perjalanan Gambang Semarang, Berat

MINGGU, 12 MARET 2017

SEMARANG — Perjalanan Gambang Semarang dalam menunjukkan eksistensinya, tidak selamanya mulus. Menurut Djawahir, beberapa kali mereka sering mengalami kejadian tragis saat melakukan pentas. Seperti pada 1942, saat mulai menikmati kepopulerannya, Gambang Semarang pernah diundang untuk manggung di arena pasar malam Magelang, bersama penari utama Neni dan Royom, dan dibubarkan oleh pasukan Jepang.

 Buku Lintasan Sejarah Semarang karya Djawahir Muhammad

Dalam pementasan itu, mereka berhasil menghibur masyarakat Magelang. Tetapi, baru separuh jalan pementasan, tiba-tiba segerombolan pasukan Jepang menyerbu ke panggung. Tanpa basa-basi, mereka langsung memberondong siapapun yang ada di dekatnya. Pementasan menjadi kacau. Pemain Gambang Semarang dan masyarakat lari tunggang-langgang menyelamatkan diri. Tetapi, tidak sedikit dari mereka tewas di tempat terkena pelor Jepang.
Baca:
Gambang Semarang, Riwayatmu Kini..
Alat musik untuk pentas dirusak semua oleh tentara Jepang. Yang paling tragis adalah nasib yang menimpa Neni dan Royom. Malam itu, mereka menghilang tanpa jejak. Kabar menyebutkan, jika mereka diculik tentara Jepang untuk dijadikan Geisha. Sejak itu, Gambang Semarang menjadi vakum, dan baru pada 1949 atas prakarsa Lian Kian, kesenian tersebut berhasil dihidupkan kembali.

Namun, masalah kembali muncul ketika pada 1970-an, kesenian Gambang Semarang diboikot oleh Walikota Semarang, Hadiyanto. Asal-mulanya saat Kelly Puspita mengarang lagu yang berjudul ‘Gado-Gado Semarang’. Dalam salah-satu bait liriknya, yaitu “Jare Semarang Kaline banjir, Jo sumelang yen rak dipikir, Sing kondhang yo lik mung gertakane, Gertak Semarang rak ana nyatane” (Semarang sungainya banjir, Jangan miris jika tidak usah dipikir, Yang terkenal hanya gertakannya, Menggertak semarang tidak ada gunanya), dianggap mengkritik Pemerintah.

Selain itu, gerakan tarian yang dilakukan oleh pasangan laki-laki dan perempuan dianggap terlalu erotis, karena menonjolkan bagian tubuh yang terlarang. Akhirnya, Walikota menyatakan, Gambang Semarang adalah seni yang terlarang. “Akibat pemboikotan itu, Gambang Semarang menjadi sepi pementasan. Setiap ada yang menanggap, selalu dilarang oleh Pemerintah,” imbuh Djawahir.

Selepas 1990-an, kesenian Gambang Semarang mulai mengalami kemunduran drastis. Masuknya era televisi yang membawa budaya instan ternyata lebih diminati oleh generasi muda. Gejala postmodernisme yang menganggap Gambang Semarang adalah kebudayaan usang membuat kesenian tersebut terancam hilang. Banyak anak muda yang tidak mau belajar, karena dianggap terlalu kolot. Karena itu, banyak pemain Gambang Semarang yang mulai menua, kesulitan untuk mencari pengganti hingga akhirnya meninggal dunia.

Akibatnya, kesenian tersebut semakin tidak terurus. Generasi terakhir Gambang Semarang, Dimyato Jayadi, meninggal dunia pada 2012 di usia 70 tahun. Dengan meninggalnya Jayadi, berakhir pulalah seniman Gambang Semarang generasi 1950-an, karena semasa hidupnya kelompok Sentra Gambang Semarang pimpinannya adalah kelompok terakhir yang masih bertahan. “Di masa tuanya, Jayadi masih mau mencari anak-anak muda yang ingin bermain Gambang Semarang, agar tidak hilang,” tutur Djawahir.

Lebih Lanjut, Djawahir menambahkan, perhatian pemerintah dalam mengembangkan Gambang Semarang dirasakan kurang. Pemerintah dianggap kurang memahami fungsi Gambang Semarang yang membawa pesan untuk membaurkan fanatisme etnis antar suku yang berdiam di kota Lumpia tersebut. Padahal, apa yang diwariskan Lie Hoo Soen merupakan bagian yang tidak ternilai dari perkembangan kebudayaan di Semarang. Harapan Djawahir adalah Pemerintah bisa mengajak anak-anak muda untuk kembali mementaskan Gambang Semarang. Bahkan, agar bisa mengikuti perkembangan zaman, diharapkan generasi mendatang bisa menciptakan lagu-lagu baru untuk ditampilkan. “Saya juga berharap ada media masa yang berbaik hati untuk mengekspose Gambang Semarang ketika pentas,” katanya.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Lihat juga...