KAMIS, 9 MARET 2017
MATARAM — Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan Desa (BPMPD) NTB, Rusman menyebutkan, Festival Desa Inovatif (FDI) yang akan digelar akhir Maret 2017 nanti diharapkan mampu mendorong pertumbuhan desa-desa kreatif di Indonesia, terutama di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
![]() |
| Kepala BPMP NTB, Rusman, [kanan] bersama Yuni Riawati saat menggelar konferensi pers |
“Kegiatan FDI sendiri dilakukan sebagai ajang sharing pengetahuan dan inovasi yang dilakukan masing-masing desa dalam memajukan proses pembangunan di desa masing-masing bidang pendidikan dan kesehatan” kata dalam acara konferensi pers terkait pelaksanaan FDI di kantor BPMPD NTB, Kamis (9/3/2017).
Rusman menjelaskan, setiap desa nantinya akan berbagi pengalaman dengan desa lain terkait inovasi yang telah dilakukan melalui warung inovasi yang tersedia dan bisa dicontoh untuk diterapkan di desa masing-masing. Dengan demikian, desa bersangkutan akan semakin kaya pengetahuan dan inovasi dalam upaya memajukan pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan.
Dikatakan, kegiatan inovatif yang dimaksud antara lain merujuk pada upaya-upaya yang dilakukan masyarakat, fasilitator atau pemerintah desa, kecamatan maupun kabupaten yang dilakukan dengan cara kreatif. Berbeda dari biasanya dan terbukti memberikan hasil bermanfaat bagi masyarakat dan aplikatif serta dapat diadopsi desa atau daerah lain.
Sementara itu, Koordinator Generasi Sehat Cerdas (GSC) NTB, program Kementerian Sosial RI, Yuni Riawati mengatakan, ide FDI sendiri lahir dari hasil diagnosa yang dilakukan pelaku program GSC NTB yang menemukan banyak kegiatan inovatif atau inisiatif kreatif yang dilakukan masyarakat dalam memajukan pembangunan desa bidang pendidikan dan kesehatan.
“Bidang kesehatan misalkan, bagaimana kader Posyandu melakukan pendampingan dan pemahaman kepada ibu-ibu di pedesaan terutama ibu hamil dan yang memiliki anak balita supaya mau berpartisipasi aktif memeriksakan kehamilan dan anak balitanya dengan mendatangi rumah setiap warga, sehari sebelum acara posyandu dilaksanakan,”sebutnya.
Dimana dulu ketika kegiatan Posyandu dilakukan hanya melalui pengumuman corong di masjid, tingkat kehadiran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan kehamilan dana anak balita sangat rendah, tapi berkat kreatifitas kader Posyandu, tingkat partsisipasi warga menjadi lebih.
“Praktik-praktik baik tersebut belum banyak diketahui publik, dan hanya berseliweran di desa-desa atau bahkan hanya berseliweran di benak para pelakunya, karena belum dikelola dengan baik dan inilah yang akan ditampilkan dalam kegiatan FDI pada 30-31 Maret 2017 di Taman Budaya dan akan diikuti oleh seluruh desa di delapan Kabupaten NTB,”jelasnya.
Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi