MINGGU, 12 MARET 2017
SEMARANG — Nafasnya mulai tersengal-sengal saat bicara, saat mengambil teh di meja tangannya terlihat gemetar. Sejurus kemudian dengan mata berkaca-kaca, Djawahir Muhammad (63) berkata, “saat ini saya ingin sekali nonton pagelaran Gambang Semarang”.
![]() |
| Pementasan Gambang Semarang Art Company |
Sambil menerawang ke depan, Djawahir kembali mengisahkan pada 1980-90-an, ketika kesenian Gambang Semarang mencapai masa kejayaan. Saat itu, ia yang berteman akrab dengan Jayadi sering diajak manggung di berbagai tempat. Dalam seminggu, order pentas bisa mencapai empat kali di Pemprov, Pemkot maupun hajatan masyarakat. Bahkan pada 1998, kelompok kesenian Gambang Semarang diundang oleh pengelola Taman Mini Indonesia Indah untuk melakukan pertunjukan di depan Presiden Soeharto.
Tetapi, kini, satu-persatu teman Djawahir yang biasa memainkan Gambang Semarang sudah meninggal. Sementara, generasi muda seolah acuh tak acuh untuk meneruskan. Akhirnya, kesenian yang memadukan akulturasi budaya Cina, Betawi dan Jawa, tersebut terancam punah.
Sejarah Gambang Semarang dimulai pada 1930, ketika anggota Volskraad (Dewan Rakyat) Lie Hoo Soen saat bertugas pada waktu itu, melihat minimnya kesenian yang ada di Semarang. Karena itu, ia menawarkan ke Walikota Boissevain untuk membentuk komunitas budaya. Setelah mendapat persetujuan, Lie bergegas ke Jakarta menemui teman-temannya pemain Gambang Kromong Betawi, untuk membentuk paguyuban baru di Semarang. Akhirnya, Walikota Semarang memberi kawasan khusus di daerah Kampung Jagalan, agar mereka bisa mengembangkan kesenian tersebut.
Langkah pertama yang dilakukan kelompok tersebut adalah menentukan jenis musik yang akan dimainkan. Melihat anggota komunitas tersebut berasal dari berbagai etnis, terbersitlah ide dalam pemikiran Lie untuk mengakulturasi kebudayaan Cina, Betawi dengan Jawa, untuk menampilkan corak keberagaman dengan irama yang dibuat spesifik. Karena itu, ia menggabungkan alat musik gesek Cina Sukong dan Kongahian, Betawi dengan Gambang dan Jawa, yaitu Kenong dan Saron. Ide tersebut disepakati oleh walikota dan akhirnya komunitas Gambang Semarang mulai melakukan pementasan keliling.
“Titi nadanya tidak persis seperti di Eropa yang dimulai dengan ‘do re mi fa so la si do’. Gambang Semarang tidak mengenal nada ‘si’ dan ‘fa’ serta selalu diulang, jadinya ‘mi so la do re mi” terang Djawahir.
Gambang Semarang mulai mendapatkan tempat luas di masyarakat, ketika Komposer lagu asal Magelang, Jawa Tengah, Oey Yok Siang, bergabung. Saat itulah, lagu-lagu Gambang Semarang mulai variatif, karena Oey memasukkan unsur keharmonisan budaya dengan titinada.
Selain itu, lagunya juga kerapkali bermakna kritik sosial, seperti lirik lagu ‘Aksi Kucing’, yang berbunyi, “Apa guna Bung malu-malu kucing, Meong-Meong di belakang suaranya Nyaring, Jangan suka Bung, diam-diam kucing, sudah menerkam sebelumnya berunding”.
![]() |
| Budayawan Semarang Djawahir Muhammad |
Walaupun hanya terdiri dari empat baris dan terkesan nyinyir, tetapi ‘Aksi Kucing’ mengandung sindiran kepada kelompok masyarakat yang pekerjaanya memancing kerusuhan. Karena kepopulerannya lagu tersebut, sampai diremix oleh Band White Shoes and The Couple Company pada 2007.
Selain ‘Aksi Kucing’, lagu hits lainnya karangan Oey adalah ‘Ampat Penari’, yang menceritakan tentang sensualitas penari Gambang Semarang Ong Sam Nio, atau yang lebih dikenal dengan Nyah Sam.
Ong adalah penari kelas wahid yang pernah dimiliki kelompok tersebut, karena ia berhasil meramu gerakan tari yang dikenal dengan Egolan (Goyangan) Lele. Setiap Nyah Sam menari, masyarakat selalu antusias melihat hingga akhir. Jumlahnya bisa mencapai ratusan. Berkat Egolan Lele, nama Nyah Sam meroket hingga Jakarta. “Tarian Egolan Lele didasari atas empat jenis gerakan, yaitu ngondek, ngeyek, nggenjot dan lambeyan, gerakan tersebut bisa dimainkan apik oleh Nyah Sam,” kenang Djawahir.
Egolan Lele Nyah Sam juga sempat menuai kontroversi, karena gerakannya terlalu “panas”. Lenggak-lenggoknya yang dibuat perlahan dengan ritme teratur dianggap membuat birahi laki-laki cepat naik. Menurut Djawahir, paras Nyah Sam yang ayu dengan bodi yang aduhai seringkali membuat para suami rela meninggalkan istrinya semalaman di rumah hanya untuk menonton Egolan Lele. Akhirnya, banyak ibu-ibu yang mendatangi Nyah Sam untuk protes.
Selain lagu dan tarian, biasanya hiburan selanjutnya adalah lawakan. Temanya bisa diambil dari masalah sosial yang sedang hangat dibicarakan. Dalam lawakan tersebut, juga disetting ada yang menjadi tokoh protagonis dan antagonis. Mereka berdua bercakap-cakap dengan diiringi ilustrasi musik, terkadang saat lawakan inilah terjadi pola interaksi dengan penonton.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin
