MINGGU, 12 MARET 2017
LAMPUNG — Sejumlah pekebun di Dusun Kayu Tabu, Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, ada yang memiliki tanaman alpukat sebanyak 500-600 batang, yang ditumpangsarikan dengan tanaman pisang dan kakao. Banyaknya petani penanam buah alpukat membuat sebagian warga bisa memanen 12 ton buah alpukat per musim, dengan standar panen setahun dua kali, dengan rata-rata per pohon menghasilkan 400 kilogram. Setiap 1 kilogram buah alpukat, terdiri dari 4 buah dengan rata-rata berat per buah sekitar 250 gram, dan masuk kelas pasar premium di wilayah Tangerang dan Cilegon.
![]() |
| Syahbana |
Selama menekuni bisnis jual-beli alpukat dan pengembangan budidayanya, Syahbana menyebut ada beberapa jenis alpukat yang dijualnya meliputi jenis alpukat miki. Sementara khusus untuk aplukat hasil petani Kayu Tabu, memliki rasa mentega minyak yang merupakan ciri khas tanaman warga Kayu Tabu, dan membuatnya terasa enak tanpa harus ada campuran pemanis.
Selama ini, pangsa pasar buah alpukat yang dibudidayakan petani Kayu Tabu di antaranya mengarah ke wilayah Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, dan sebagian ke Semarang, Jawa Tengah, Cilegon, Banten, dan sebagian wilayah Jakarta. Khusus untuk ke pasar swalayan, Syahbana mengaku bisa mengrim per hari 2 ton. Bahkan, bisa lebih saat memasuki masa panen raya di bulan Maret. Sementara, pada saat tidak musim, ia mengirim sekitar 2 kuintal per hari menggunakan kendaraan roda dua, berasal dari pohon alpukat yang ditanam selama 6 tahun berbuah dan 4 tahun untuk jenis alpukat yang distek.
Baca:
Mengenal Buah Alpukat Sipit Asia dari Kelawi
Ia mengaku, khusus untuk jenis pohon alpukat yang dikembangkan olehnya dengan sistem penyambungan yang dibuatnya dengan sistem sambung pucuk, satu pohon menghasilkan sekitar 600 kilogram per pohon dengan umur sekitar 4 tahun, dan berbuah sepanjang tahun.
Selama menjalankan bisnis jual-beli alpukat dan melakukan pengembangan buah alpukat, para konsumen mengaku menyukai jenis alpukat dari Bakauheni, yang banyak diminati pelanggan, khususnya pembeli jus buah dan untuk buah meja.
Untuk proses pengembangan tanaman alpukat, Syahbana menyebut pengembangan bibit sistem sambung pucuk saat ini mencapai sekitar 4.000 bibit dan disebar ke sejumlah petani. Namun, saat ini terkendala permodalan. Sistem penanaman dengan pola kemitraan dan mengembangkan desa yang dekat pantai dan berpotensi menjadi destinasi wisata agro tersebut, juga diakuinya membuat warga penanam alpukat bisa memiliki omzet hingga puluhan juta rupiah saat musim puncak panen alpukat.
Dengan harga per kilogram alpukat saat ini di tingkat petani Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, dan dijual ke swalayan sekitar Rp12.000 hingga Rp15.000, sangat menguntungkan bagi petani alpukat.
Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi