JUMAT, 31 MARET 2017
PADANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Kehidupan nelayan tradisional memang tidak seberuntung nelayan yang menggunakan peralatan canggih. Namun, hal itu tidak membuat Edi Junaidi, seorang nelayan tradisional di Kelurahan Gates Nan XX, Kecamatan Lubuk Kilangan, Padang, Sumatera Barat (Sumbar), merasa putus asa untuk mengais rezeki di lautan lepas.
![]() |
| Ketua Posdaya Sejahtera Latifah saat menemui Edi, nelayan tradisional yang merupakan nasabah Tabur Puja. |
Edi yang ditemui di tepi pantai Jumat (31/3/2017), menceritakan, nasib seorang nelayan sangat tergantung dengan kondisi alam. Jika cuaca buruk seperti hujan dan badai, maka terpaksa berdiam diri di dalam rumah, bersama empat orang anaknya. Hal yang paling dikhawatirkan, jika cuaca buruk berlangsung lama sehingga tidak ada sumber pemasukan untuk kebutuhan belanja keluarga.
“Nasib nelayan itu, kadang-kadang dapat ikan, kadang-kadang tidak. Jika pun ada dapat ikan, terkadang hanya sedikit bahkan tidak bisa membayarkan kebutuhan untuk melaut. Tapi, inilah mata pencarian satu-satunya untuk keluarga saya,” ucapnya.
Kegigihan dan tingginya rasa semangat yang ditunjukkan oleh Edi ini, diarahkan Tabur Puja di Posdaya Sejahtera untuk mengajukan permohonan pinjaman modal usaha guna perbaikan dan penambahan alat tangkap untuk melaut. Keinginan Edi pun dipenuhi oleh Tabur Puja sebanyak Rp2 juta, modal usaha itu digunakan sesuai harapan Edi yakni memperbaiki kapal dan menambah sejumlah peralatan untuk melaut.
Dengan adanya sejumlah perbaikan kapal dan penambahan peralatan untuk melaut, Edi pun semakin mantap untuk menangkap ikan di lautan lepas. Buktinya, dari pengakuan Edi, jika cuaca bersahabat, rata-rata setiap pulang melaut, ia bisa mendapatkan penghasilan Rp400.000. Jumlah penghasilan itu, dikatakannya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, aktivitas nelayan tradisional itu tidak bisa rutin dilakukan, selain tergantung cuaca, juga tergantung musim ikan. Apabila dihitung dan dirata-rata penghasilan per bulan mencapai Rp4 juta.
“Kami para nelayan sangat mengetahui, kapan musim ikan itu ada, dan kapan tidak ada. Jadi meski cuaca bagus, jika tidak musim ikan, para nelayan pun bakalan tidak melaut, dan lebih memilih untuk memancing sebagai kebutuhan untuk dimasak di rumah,” katanya.
Ia juga mensyukuri, dengan adanya perbaikan dan penambahan peralatan melaut, telah mempengaruhi jumlah tangkap ikannya. Ia juga bersyukur atas kepercayaan penuh yang telah diberikan Tabur Puja terhadap mata pencariannya. Apalagi dalam melakukan pinjaman modal usaha, Tabur Puja tidak meminta jaminan seperti surat-surat penting. Hal tersebut, menurut Edi, sangat membantu masyarakat yang kurang mampu untuk dapat memperbaiki ekonomi kehidupan.
“Yang saya lihat di Tabur Puja ini bukan soal jumlah pinjamannya, tapi soal kepercayaan yang diberikan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra