TPA Wisata Edukasi Talangagung, Manfaatkan Sampah sebagai Sumber Energi Alternatif

SENIN, 27 FEBRUARI 2017

MALANG — Selain dapat menyebabkan bencana banjir, pengelolaan sampah yang tidak benar ternyata juga dapat memicu pemanasan global. Hal tersebut terjadi karena tumpukan sampah yang tidak tertutup oleh tanah akan membusuk, sehingga dengan mudah melepaskan gas-gas berbahaya ke udara, di antaranya adalah gas methane yang memiliki sifat mudah terbakar.

Reaktor pemurnian gas methane

Gas-gas methane tersebut biasanya dapat dengan mudah terbentuk di tempat-tempat yang terdapat tumpukan sampah, seperti di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih menggunakan metode penimbunan sampah Open Dumping. Karena itu, saat ini TPA  Edukasi Wisata Talangagung di daerah Kepanjen, Kabupaten Malang, tidak lagi menggunkan metode penimbunan sampah open dumping. Tetapi, menggunakan metode Controlled Landfill (urug terkendali) dan memanfaatkan gas methane yang dihasilkan sebagai energi alternatif.

Adalah Koderi, dari petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Malang, yang menjadi inovator pemanfaatan gas methane di TPA tersebut. “Gas methane jika pada sistem open dumping  merupakan gas yang berbahaya, karena ancaman gas methane tersebut juga berpengaruh pada pemanasan global, karena satu ton gas methane setara dengan dua puluh satu ton CO 2 bahayanya,” jelasnya kepada Cendana News, Senin (27/1/2017).

Koderi mengatakan, menurut Undang-undang (UU) Nomor 18 Tahun 2008, untuk kategori kota kecil, kota sedang, minimal TPA menggunkan sistem control landfill (sistem pengelolaan TPA urug terkendali), sedangkan untuk kota besar dan kota politan itu Sanitary Landfill. Sementara pada kenyataannya, di Indonesia masih banyak TPA yang mengunakan sistem Open Dumping.

Koderi menunjukkan instalasi gas methane

Lebih lanjut, Koderi menyampaikan, bio gas yang ada di TPA terdiri dari bermacam mikro gas, namun yang paling dominan adalah gas methane. Karena itu, dengan menggunakan sistem penimbunan sampah Controlled Landfill, sejak 2010 di TPA Talangagung sudah mulai memanfaatkan gas methane hasil residu sampah di TPA sebagai energi alternatif untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Secara sederhana, proses pemanfaatan gas methane dapat dijelaskan sebagai berikut. Sampah-sampah yang dibawa oleh truk sampah ke dalam TPA, ditata dan dilakukan proses pengurukan (covering) atau penutupan sampah dengan tanah. Selanjutnya dipasang pipa verikal untuk menangkap gas yang ada untuk selanjutnya dilakukan proses pemurnian, sehingga didapat gas methane.

Setelah itu, dilakukan flaring atau pengendalian gas methane untuk selanjutnya didistribusikan ke rumah-rumah warga melalui instalasi pipa yang telah  terpasang,  agar dapat dimanfaatkan warga sekitar untuk keperluan memasak. “Hingga saat in,i sudah ada dua ratus enam rumah warga yang sudah memanfaatkan gas methane untuk kegiatan memasak,” papar Koderi.

Pemanfaatan gas methane untuk memasak

Koderi mengatakan lagi, dengan motto Inovasi Pengelolaan TPA  Tiada Henti, hasil inovasi terbaru yang telagh dihasilkan adalah bisa mandi air hangat “Susu Tante Jupe” (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan Juga Pemaksaan) dengan tetap memanfaatkan gas methane untuk merebus air dan bisa mandi menggunakan shower seperti di hotel. “Ini adalaha sebuah edukasi bagi masyarakat, bagaimana transfer energi ke air, sehingga air bisa menjadi hangat dan bisa digunakan untuk mandi,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Lihat juga...