Sukses Berdagang Bubur Bayi Organik Ditopang Damandiri

JUMAT, 3 FEBRUARI 2017
 
JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Harsiah, begitu rekan-rekan sesama anggota Tabur Puja Posdaya Bacang RW 02, Srengseng Sawah, memanggilnya. Ia bertugas sebagai Penanggung Jawab (PJ) kelompok 2 Tabur Puja atau biasa disebut PJ 2. Dalam keseharian perempuan yang tinggal di lingkungan RT 07 ini memiliki banyak waktu untuk mengkoordinir anggota kelompoknya yang berjumlah 15 orang.

Harsiah (kiri) menyerahkan setoran cicilan Tabur Puja.

Melalui pertemuan rutin kelompok pada Kamis pekan keempat setiap bulannya, Harsiah biasa mengisi acara tersebut dengan saling berbagi pengalaman dengan seluruh anggota. Pengalaman yang didapat sehari-hari dalam menjalankan usaha masing-masing di rumah. Jika usaha sepi, mereka akan saling memberi masukan untuk mencari solusi atau jalan terbaik keluar dari kesulitan.

Seluruh anggota kelompok di bawah PJ 2 sudah memasuki pinjaman Tabur Puja putaran ketiga. Jumlah pinjaman mereka rata-rata antara Rp 2-3 juta. Dana tanggung renteng juga belum tersentuh, berarti cicilan pinjaman mereka sejauh ini lancar dalam pantauan sistem Tabur Puja.

“Sama seperti PJ yang lain, saya kedepankan edukasi dan imbauan persuasif kepada anggota. Mengedepankan cara itu, akhirnya rekan-rekan bisa memahami hak dan kewajiban mereka. Haknya adalah mendapatkan pinjaman sesuai kondite pembayaran dan jumlah tabungan, kewajibannya adalah membayar cicilan tepat waktu,” terang Harsiah.

Selain mengurus kelompok tanggung renteng, Harsiah juga ikut menjadi anggota Tabur Puja. Bahkan ia sudah memasuki periode pinjaman putaran ketiga dengan jumlah pinjaman Rp 3 juta. Sama seperti anggota lainnya, ia juga mengawali dengan mendapat pinjaman sebesar Rp 2 juta. Dengan menunjukkan kondite yang baik, lambat laun pinjamannya naik. Hal menarik yang dilakukan Harsiah dengan pinjaman Tabur Puja adalah memaksimalkan usaha Bubur Bayi Organik yang sudah sejak lama ditekuninya.

Banyak sekali produk bubur bayi di super market maupun toko waralaba. Berbagai merk varian rasa, tinggal pilih, ambil lalu bayar di kasir. Begitu mudahnya cara berbelanja dewasa ini dengan pilihan produk yang bervariasi. Namun semakin banyak pilihan, pastinya semakin bingung juga masyarakat menentukan mana yang terbaik. Harga mahal belum tentu baik, begitu pula sebaliknya.

Bubur bayi buatan Harsiah bukan seperti tepung bubur bayi kemasan pada umumnya, akan tetapi memang bubur yang dibuat dari beras. Cara membuatnya sederhana, terlebih dahulu beras dimasak sampai menjadi bubur, lalu dicampur berbagai bahan organik seperti hati ayam, daging ayam, daging sapi, brokoli, ikan dan lain sebagainya. Fungsi bahan-bahan organik tersebut adalah sebagai penyedap rasa.

“Saya menyebutnya bubur sehat, tapi pelanggan banyak yang menyebutnya bubur organik karena bukan kemasan seperti yang dijual mini market. Kemasan kami sama seperti masyarakat membeli bubur ayam sebagai sarapan pagi. Namun ini bukan bubur ayam, akan tetapi bubur bayi organik atau bubur sehat,” imbuhnya.

Untuk usaha bubur bayi organik ini, Harsiah sudah membuka dua outlet, masing-masing di daerah Srengseng Sawah dan Griya, Jakarta Selatan. Dengan harga hanya Rp 10-15 ribu saja, ibu hamil dan bayi bisa menyantap makanan sehat. Peminatnya cukup banyak dengan segmen pasar masih tertuju pada ibu hamil, anak bayi serta balita. Jadi, sebenarnya selain untuk bayi atau balita, bubur ini juga menyehatkan bagi ibu yang sedang mengandung.

Harsiah.

“Semakin banyak ibu yang sedang mengandung, semakin laku dagangan saya,” pungkas Harsiah.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...