Misi Utama Damandiri Entaskan Kemiskinan di Indonesia

SELASA, 21 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (21/02/2017), Ketua Yayasan Damandiri, Dr. (HC) Subiakto Tjakrawerdaja mengutarakan hal-hal substansial terkait perjuangan Yayasan Damandiri selama 21 tahun memberdayakan rakyat Indonesia.

 Dr. (HC) Subiakto Tjakrawerdaja, Ketua Yayasan Damandiri.
Pada era kepemimpinan Subiakto Tjakrawerdaja, selain melanjutkan program-program pemberdayaan masyarakat dari pengurus sebelumnya, Yayasan Damandiri kembali menguatkan misi sebenarnya dari pendiri Yayasan Damandiri, H.M. Soeharto, atau akrab juga disapa Pak Harto, Presiden Kedua RI.

“Misi sebenarnya Yayasan Damandiri sejak awal pendiriannya adalah mengentaskan kemiskinan di Indonesia,” sebut Subiakto Tjakrawerdaja kepada Cendana News, di Lantai 11, Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pembangunan selama 32 tahun pemerintahan Pak Harto di Indonesia telah membuat kehidupan bangsa lebih baik dibandingkan kehidupan era sebelum proklamasi kemerdekaan. Namun seiring perkembangan dan pergantian masa, sejak 2000 hingga akhir september 2016, jumlah keluarga miskin bertambah. Bahkan menurut data BPS akhir September 2016, keluarga-keluarga miskin tersebut semakin terperosok masuk ke jurang kemiskinan terdalam. Yang lebih parah, masyarakat desa yang dulunya sangat diperhatikan kesejahteraannya oleh Pak Harto, sekarang masuk dalam tingkatan miskin.

Program mengentaskan kemiskinan Yayasan Damandiri diwakili dua program kuat, bernama Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) dan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja). Kedua program tersebut disinergikan mengangkat empat aspek pembangunan Yayasan Damandiri selama ini, yakni kesehatan, pendidikan, kewirausahaan dan lingkungan.

Dengan Posdaya, para kader dan anggota di dalamnya bahu-membahu memberdayakan masyarakat sekitar untuk memahami lalu memanfaatkan potensi lokal yang mereka miliki. Misalnya, bagaimana memanfaatkan lahan untuk bercocok-tanam, memaksimalkan pendidikan bagi anak kurang mampu dalam bentuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) beriuran ringan, sampai memaksimalkan perawatan para lansia melalui program-program yang bersinergi dengan instansi pemerintah terkait.

Sedangkan Tabur Puja memperbaiki taraf kehidupan masyarakat, memanfaatkan keahlian yang memang dimiliki masyarakat. Jika masyarakat bisa berdagang, silakan berdagang dengan suntikan modal usaha bunga ringan 1,5 persen dari Tabur Puja. Begitu pula bagi masyarakat yang sudah memiliki usaha tapi kurang berkembang, dapat pula memanfaatkan Tabur Puja. Kehadiran Tabur Puja menguatkan ekonomi keluarga secara bertahap.

“Program mengentaskan kemiskinan yang dijalankan Yayasan Damandiri selama ini punya ciri khas sendiri, yakni melalui proses berdasarkan prinsip kerja alam dan membangun tanpa limbah, atau zero waste,” demikian Subiakto Tjakrawerdaja menambahkan.

Mengentaskan kemiskinan berdasarkan prinsip kerja alam menitikberatkan pada bagaimana melaksanakan pembangunan dengan apa yang dimiliki saat ini. Masyarakat diberdayakan memanfaatkan setiap potensi sumber daya alam sekitarnya menggunakan sumber daya manusia yang ada, yaitu mereka sendiri. Jika ada kekurangan, biarkan semua berproses apa adanya sampai berhasil.

Learning by doing, seperti itu saja prinsipnya,” imbuhnya.

Agar program berjalan dengan lancar, perlu penelitian, edukasi dan penggalian mendalam oleh intelektual mumpuni di bidangnya. Dalam hal ini, untuk setiap program pemberdayaan masyarakat, Yayasan Damandiri bersinergi dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trilogi Jakarta Selatan, serta Universitas Pancasila, Jakarta Timur.

Lalu Damandiri menyempurnakan konsep pengentasan kemiskinan yang dijalankan dengan Tabur Puja, berupa kredit lunak bunga ringan untuk memperbaiki ekonomi masing-masing keluarga. Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah bahwa kegiatan masyarakat dalam memberdayakan potensi alam berjalan seiring perbaikan ekonomi masyarakat itu sendiri.  Semua yang dilakukan masyarakat dalam menggali potensi alam mereka tidak menggunakan segala sesuatu yang bisa merusak lingkungan. Bahkan masyarakat harus bisa mengubah apa yang sudah tidak berguna menjadi berdaya-guna. Contohnya, memanfaatkan limbah plastik kemasan menjadi industri daur ulang, pembuatan pupuk organik dari sampah-sampah rumah tangga dan lain sebagainya.

“Kami berupaya agar semua berjalan dengan memaksimalkan apa yang ada, seiring perbaikan ekonomi masing-masing keluarga di masyarakat. Dengan mengandalkan siklus alamiah dan menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi tepat guna, itulah cara kami untuk mengentaskan kemiskinan secara bertahap di Indonesia,” pungkas Subiakto Tjakrawerdaja.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...