JUMAT, 24 FEBRUARI 2017
SEMARANG — Sindiran masyarakat, yang menyebut Jawa Tengah memiliki obyek wisata baru berupa ‘jeglongan sewu’ (seribu lubang –red), karena banyaknya jalan yang berlubang mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Mereka siap menggelar operasi sapu lubang.
![]() |
| Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat meninjau ruas jalan berlubang. (Dok: Pemprov Jateng) |
Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VII Semarang Kementerian PUPR, Achmad Hery Marzuki, menyampaikan, saat ini pihaknya telah menyelesaikan 8.000 jalan yang berlubang, dan di pertengahan 2017 ini akan mulai menambal 10.000 lagi. Untuk mempercepat realisasi, pihaknya akan menambah waktu kerja dari pukul 21.00-24.00 WIB.
Lebih lanjut, Heri mengatakan, kecelakaan yang kerap terjadi akibat kondisi jalan memang dirasa mengkhawatirkan, karena itu perbaikannya akan menggunakan teknik rigid pavement, yaitu penambahan beton, agar material jalan tetap kuat jika dilewati truk bermuatan besar. “Jalan raya Tonjong akan jadi contoh pemasangan beton tersebut,” ujar Heri, saat dikonfirmasi, kemarin.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, meminta masyarakat untuk bersabar menunggu hasil perbaikan ‘jeglongan’, karena Pemprov dan Kementerian PUPR tidak mempunyai kesaktian seperti Bandung Bondowoso yang bisa menyelesaikan semuanya dalam semalam. Dia juga mengapresiasi koordinasi Pemerintah Pusat dengan provinsi dan kabupaten. “Jika terlalu nusu-nusu (terburu-buru) hasilnya tidak maksimal,” kata Ganjar.
Ganjar juga meminta kepada masyarakat untuk bersabar dan percaya kepada Pemerintah dapat menyelesaikan persoalan infrastruktur jalan. Bagaimana pun, perbaikan jalan tidak dapat dilakukan secara instan dan ada tahapan-tahapan yang harus dilewati.
Sementara itu, pengamat infrastruktur Universitas Diponegoro (Undip), Bagus Haryo Setiaji, menyarankan agar proses penambalan dilakukan dengan membuang dulu bagian yang terkena air, baru kemudian bagian yang berlubang tersebut ditutup dengan campuran aspal, sehingga bisa bertahan lama. “Setiap jalan harus lebih tinggi dari muka air dan dibuat agak miring, agar air bisa masuk ke saluran pembuangan,” ujarnya.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Istimewa