KAMIS, 9 FEBRUARI 2017
JAYAPURA — Maraknya jurnalis abal-abal di tanah Papua, terlebih khusus di Kota Jayapura dan juga menyikapi verifikasi media nasional maupun lokal oleh Dewan Pers akhir-akhir ini, sekumpulan jurnalis gelar aksi damai di lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Papua, Kamis (09/02/2017).
| Aksi damai jurnalis di Kota Jayapura terkait kebebasan pers. |
Dalam aksi damai tersebut terlihat sejumlah jurnalis memegang papan hitam yang telah tertulis dari kapur. Tulisan tersebut buah dari isi hati jurnalis yang dicurahkan ke papan hitam dan ditulis langsung oleh jurnalis yang sebagian besar berdomisili di Kota Jayapura.
Berbagai macam kalimat di papan hitam itu di antaranya tertulis Kami Jurnalis Menulis Fakta, bukan Hoax, Jurnalis Bukan Mata-mata, Bersama Kata Jaga Bhinneka, dan kalimat-kalimat lainnya. Selain itu, para jurnalis ini juga melakukan orasi di tengah keramaian arus lalu-lintas lingkaran Abepura bawah.
Salah satunya seperti yang dilontarkan oleh Vanwi, koresponden Suara Pembaruan, di sela-sela aksi mengatakan, aksi damai ini berangkat dari individu jurnalis yang ada di Kota Jayapura dalam melihat kekerasan terhadap jurnalis yang masih marak terjadi di Papua.
“Ini kepedulian kami atas kebebasan pers yang ada di Indonesia, khususnya di Papua. Masih banyak kekerasan di Papua,” kata Vanwi.
Aksi ini juga sekaligus sosialisasi menyampaikan kepada publik Papua bahwa jurnalis bekerja dilindungi Undang-undang Pers nomor 40 tahun 1999.
“Di aksi ini juga kami sepakat menolak jurnalis yang menulis hoax tanpa fakta, dan kami juga menolak jurnalis abal-abal. Kami juga bosan dengan media sosial yang membeda-bedakan kami yang satu dan lain serta pesan kami dari timur Indonesia harus damai,” ujarnya.
Sementara, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Jayapura, Dhoto Eveerth, mengapresiasi rekan-rekan jurnalis yang menggelar aksi damai kebebasan pers. Ia menambahkan, AJI Indonesia maupun Kota Jayapura hingga kini tetap menolak adanya Hari Pers Nasional yang terus didegungkan setiap 9 Februari.
“Kami AJI tolak Hari Pers Nasional, karena itu adalah ulang tahun salah satu organisasi pers. Hari pers itu adalah hari bersama untuk semua media,” kata Dhoto yang juga jurnalis Surat Kabar Harian (SKH) Harian Pagi Papua (HPP), Jayapura.
| Seorang jurnalis dengan papan hitam ditulis menggunakan kapur tulis. |
Aksi kepedulian jurnalis ini berlangsung 3 jam lamanya dan berjalan dengan damai serta tertib. Sejumlah pengendara yang melintas mengabadikan aksi damai tersebut menggunakan kamera dari telepon genggam mereka.
Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta