Hj. Yana Fajriana, Tiada Henti Dorong Kreativitas Anggota Tabur Puja Damandiri

JUMAT, 24 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Ramah dan cekatan, begitulah kesan pertama saat bertemu dengan Hj. Yana Fajriana, Sekretaris Posdaya Bahagia binaan Yayasan Damandiri di RW 01, Kelurahan Ceger, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Perempuan dengan hobi membuat kerajinan tangan ini bergabung dengan Posdaya Bahagia sejak dibentuk awal pada 2014.

Yana Fajriana

Kegiatan Yana, sapaan karibnya, ketika mengikuti PKK tingkat RW maupun Kelurahan membuatnya langsung cocok dengan filosofi yang dikembangkan Damandiri, yakni memberdayakan masyarakat dalam satu lingkaran besar yang saling berkaitan satu sama lain secara berkelompok. Berdasarkan pengalaman dan kecocokan filosofi itu, ia menghimpun warga RW 01 Ceger, agar aktif dalam setiap kegiatan Posdaya Bahagia.

Dengan keterampilan administrasi dan kecekatannya, perempuan asli Betawi, kelahiran 29 Agustus 1971 ini menjadi bagian penting dalam kepengurusan Posdaya Bahagia hingga sekarang. “Bank Sampah, Kebun Bergizi dan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera atau Tabur Puja adalah tiga program yang lahir dari pemberdayaan yang kami lakukan kepada warga, setelah dibentuknya Posdaya oleh Yayasan Damandiri di wilayah RW 01 Ceger,” sebut Yana, kepada Cendana News.

Keramahan yang dimiliki Yana, menjadikan sosialisasi sebagai senjata andalan dalam menggerakkan warga. Buah pikir yang kerap disampaikan Yana dalam sosialisasi adalah bagaimana anggota Posdaya, khususnya yang ikut Tabur Puja, mengembangkan hasil kerajinan tangan demi membangun ekonomi produktif rumah tangga. Untuk menjaga gaung sosialisasi, Yana terjun langsung dalam kepengurusan Tabur Puja Posdaya Bahagia sebagai administrasi.

“Hubungannya dengan ikut menjadi pengurus Tabur Puja adalah, agar saya bisa melihat talenta-talenta yang ada di warga RW 01. Mulai dari membuat kuliner berupa makanan ringan sampai kerajinan tangan daur ulang memanfaatkan limbah kemasan kopi, sabun cuci dan lain sebagainya,” sambung perempuan yang menghabiskan masa lajangnya di daerah Saharjo, Tebet, ini.

Dari sebuah talenta, berkembang menjadi industri kreatif untuk dikembangkan sebagai ekonomi produktif. Jika sudah mulai berjalan bagus, dapat dibuat identitas produk atau brand/merk sendiri, agar dapat bersaing di pasaran. Minimal pasar kelas menengah ke bawah bisa dijadikan tujuan penjualan produk-produk warga, begitulah pikir Yana selama ini.

“Tapi, hingga kini belum ada warga yang bisa mencapai taraf itu. Mereka masih konvensional, sebatas menjadi penjual makanan jadi atau produk-produk kerajinan jadi, untuk dijual kembali. Saya ingin mereka bisa melakukan lebih dari itu, yakni memproduksi sendiri kerajinan tangan, lalu menjadikan itu sebagai komoditi untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka masing-masing,” imbuhnya.

Berdasarkan pemikiran itu, Yana bersama para pengurus Posdaya Bahagia mengikuti pelatihan kerajinan tangan batik celup dan lampur kreasi, yang diadakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Trilogi. Setelah itu, Yana mulai membuka workshop bagi warga.

Namun, usaha tersebut ternyata belum kunjung berhasil melahirkan kreativitas warga, karena warga masih berkonsentrasi untuk perbaikan taraf ekonomi keluarga lewat Tabur Puja. Yana tidak menyerah begitu saja, ia tetap berpikir positif. Kemungkinan kerajinan batik celup dan lampu kreasi masih terlalu rumit dan menyita waktu para anggota Posdaya.

Setelah mencari informasi, Yana menemukan lagi peluang usaha kerajinan tangan yang diyakininya cukup mudah untuk dikerjakan warga di rumah, sambil menjalankan usaha mereka sehari-hari, yaitu seni menempelkan tisu di bahan tertentu, misalnya di atas dompet wanita berbahan kulit atau sejenisnya. Selain itu, industri kreatif hantaran pernikahan juga mulai disosialisasikan, karena dianggap cukup mudah dilakukan oleh warga.

Hingga kini, kerajinan tangan tersebut masih terus diupayakan Yana, agar bisa menjadi komoditas anggota Tabur Puja Posdaya Bahagia dalam mengangkat ekonomi keluarga mereka masing-masing.

Jurnalis: Miechell Koagouw/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...