Damandiri Ikut Dorong Kearifan Lokal Sebagai Peluang Usaha

SABTU, 25 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan yayasan Damandiri — Berawal sebagai pancingan pertama sebagai pengguna Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja), Marliah mengajukan pinjaman modal usaha sejumlah Rp 2 juta dengan termin cicilan selama 6 bulan di Posdaya Cempaka, RW04 Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Hantaran Pernikahan buatan Marliah (Lili)

Tapi Lili, sapaan akrab Marliah, tidak canggung untuk mengalokasikan modal tersebut karena di kediamannya ia memiliki warung kelontong. Dibelanjakanlah sebagian modal usaha dari Damandiri dengan barang-barang dagangan melengkapi apa yang sudah ada sebelumnya. Lili menambah sembako, tabung gas 3kg, buah-buahan untuk menambah minuman ringan seperti jus buah serta berbagai dagangan lain yang sekiranya cepat laku terjual.

“ Sistem saya dalam berdagang adalah, menghindari stock barang yang kurang laku. Uang mati adalah keruguan bagi pengusaha, oleh sebab itu modal usaha yang diperoleh sedapat mungkin untuk belanja barang-barang dagangan fast moving seperti sembako dan lain sebagainya,” terang Lili mengawali.

Dengan mendapat modal usaha, walaupun awalnya sebagai pancingan saja, ternyata membawa dampak cukup signifikan dengan berkembangnya sayap usaha. Lili memberanikan diri untuk membuat manisan pepaya dan pare. Ibu anak dua ini menuturkan juga, di samping manisan yang adalah salah satu makanan khas Betawi, ia juga membuat rempeyek kacang.

Tiga hari sekali Lili membuat 30 kemasan ukuran setengah kilogram rempeyek kacang, 30 kemasan plastik kecil manisan pepaya serta pare ditambah 5 toples khusus manisan pepaya. Untuk rempeyek dan manisan kemasan plastik di taruh di warung miliknya dan beberapa tukang sayur keliling. Untuk kemasan plastik baik manisan maupun rempeyek dijual Lili seharga Rp.4.000 untuk tukang sayur dan Rp.5.000 untuk konsumen di warungnya.

“ Agar lancar dengan rekan usaha, saya harus membedakan harga jual langsung kepada konsumen dengan harga distribusi,” Sambung Lili.

Semakin hari usaha Lili semakin berkembang dan terus memproduksi manisan dan rempeyek kacang. Tak terasa pula hubungannya dengan Tabur Puja Damandiri sudah masuk putaran pinjaman ke-7 saat ini.

“ Lili menjaga performa termin pengembaliannya 6 bulan setiap putaran pinjaman. Itulah mengapa hanya dia yang sudah tujuh putaran di sini,” Sri Mulyati, Bendahara sekaligus Kasir Tabur Puja meneguhkan performa Lili.

Marliah dan beberapa usaha lain seperti manisan dan warung kelontong

Bahkan dua putaran Tabur Puja belakangan ini, Lili kembali membuat sayap usaha berupa hantaran pernikahan. Awalnya ia mensosialisasikan kepada warga bahwa membuka usaha hantaran pernikahan, juga menyebarkan info tersebut melalui media sosial. Hasilnya cukup baik, dalam satu minggu ia bisa melayani 3 hingga 5 paket hantaran pernikahan.

Hitungan minimal tiga paket per minggu, berarti dalam satu bulan Lili bisa membuat 12 paket hantaran pernikahan. Ini hanya hitungan minimum saja, karena terkadang pemesanan bisa maksimal lima paket per minggu.

“ Bisnis hantaran pernikahan itu begini, biasanya isi hantaran dipersiapkan mempelai laki-laki. Lalu dia minta dibuatkan paket hantaran pernikahan kepada saya untuk diserahkan kepada calon isteri dihadapan mertua sebelum akad dan resepsi,”jelasnya.

Sebenarnya untuk masyarakat modern perkotaan, hantaran pernikahan sudah banyak dilupakan atau mirisnya ditinggalkan. Namun untuk daerah pemukiman jauh dari keramaian kota seperti Jagakarsa, masih ada yang mempergunakan kearifan lokal tersebut.

“ Adat Jawa, Sunda dan Betawi kental sekali menggunakan hantaran pernikahan sebelum akad nikah. Sekarang memang sudah banyak ditinggalkan tapi setidaknya masih ada yang menghargai kearifan lokal tersebut. Buktinya bisnis saya lancar dan saya yakin di tempat lain ada pula yang menjalankan bisnis serupa,” jelas Lili lebih detil.

Di wilayah RW04 Jagakarsa, Lili mematok harga Rp 30 ribu untuk satu paket jasa hantaran pernikahan. Di luar Jagakarsa, Lili mematok harga Rp 80 ribu per satu paket hantaran pernikahan. Bahan yang digunakan untuk paket seharga Rp 30 hingga 80 ribu adalah sprei dan handul eksklusif. Tapi jika client meminta paket spesial, Lili akan membuatnya dengan bahan bed cover dan membanderol jasa hantaran tersebut Rp.210 ribu per paket.

Membuat satu paket hantaran membutuhkan waktu selama satu minggu. Akan tetapi jika memang pemesanan sedang banyak, Lili bisa mempercepat penyelesaian dengan pencapaian 5 paket dalam satu minggu.

“ Kuncinya hanya persiapkan bahan-bahan yang diperlukan sebelum membuat paket hantaran. Jangan ada yang belum tersedia, karena sulit sekali mendapat harmoni keindahan jika rangkaian paket sempat terbengkalai. Disamping itu, membuang waktu juga jika selalu terhenti pembuatannya,” pungkas Lili.

Lili belum memiliki rencana lagi untuk menambah usaha karena menurutnya yang dijalani sekarang sudah terlalu banyak. Lili memilih fokus pada apa yang sekarang dilakukannya agar hasilnya juga bisa maksimal.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...