Asiah Besarkan Cucu dengan Dana Tabur Puja Damandiri

SABTU, 4 FEBRUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Anak ibarat guratan pelangi dalam sebuah rumah tangga. Namun bagi Asiah, kehadiran seorang cucu membawa kesejukan hati tersendiri. Sehingga memiliki tujuh orang cucu merupakan kebanggaan sekaligus kebahagiaan bagi sosok nenek yang berdagang nasi uduk di RT08, RW01, Kelurahan Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.

Asiah

Asiah perempuan asli Betawi, kelahiran Desember 1959 ini memiliki empat orang anak dan sudah dikaruniai tujuh orang cucu. Salah satu cucu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) tinggal bersama Asiah. Bersama sang suami, Asiah merawat cucunya sambil berdagang setiap hari. Kegemarannya memasak ditambah kebiasaan berdagang sejak muda, membuat Asiah menikmati keseharian untuk melayani sarapan pagi masyarakat.

“ Anak saya gagal dalam berumah tangga, jadi saya selamatkan cucu saya ini. Akhirnya dia sekarang tinggal bersama saya, dan akan saya rawat hingga besar dengan hasil berjualan nasi uduk,” ucap Asiah kepada Cendana News.

Sejak pukul dua pagi, Asiah sudah mempersiapkan dagangan nasi uduknya. Empat sampai lima liter beras dihabiskan untuk membuat nasi uduk gurih andalannya. Semur tahu, bihun goreng, tempe orek, kerupuk, sambal, dan ragam cemilan goreng dipersiapkan juga sebagai pelengkap. Pukul 05.00 WIB pagi hari, Asiah sudah mulai berdagang dan pukul 06.30 WIB dagangannya sudah ludes atau habis terjual.

Untuk sekali pembuatan nasi uduk, Asiah mengeluarkan modal sejumlah Rp 300-350 ribu. Omset yang didapat per hari antara Rp 450-500 ribu, dengan laba kotor antara Rp 150-200 ribu. Setelah dikurangi biaya lain-lain, laba bersih Asiah biasanya antara Rp 100-150 ribu. Dengan keuntungan bersih sejumlah itu, ditambah sudah tidak ada lagi anak yang harus dibiayai, bagi Asiah sudah lebih dari cukup dan layak disyukuri.

Dengan penghasilan berjualan nasi uduk itulah Asiah dan suaminya merawat cucu yang tinggal bersama mereka berdua. Tidak ada keberatan atau pertimbangan apapun, wujud kasih sayang Asiah murni dan tulus. Hal inilah yang mengawali pertemuan Asiah dengan Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) Yayasan Damandiri.

“ Namanya cucu, sedang masa pertumbuhan, permintaannya selalu susu,” sambung Asiah dengan logat Betawi yang kental.

Tanpa terasa, seiring pertumbuhan sang cucu, kebutuhan pasti semakin meningkat. Biaya sekolah maupun kebutuhan sehari-hari mulai jadi pemikiran Asiah. Bukan berpikir bahwa keadaan ini akibat merawat cucu, akan tetapi ia berpikir harus mengembangkan usahanya, demi sang cucu. Pada 23 November 2016, Asiah datang ke Posdaya Melati 3, RW01 Pengadegan, yang tidak jauh dari kediamannya. Ia mengajukan pinjaman modal usaha untuk menambah volume dagangannya.

Tabur Puja menyetujui permohonan Asiah dengan memberikan pinjaman modal usaha sejumlah Rp 2 Juta. Alangkah senang hati Asiah, ia pulang ke rumah dan segera merancang dagangan apa saja yang harus ditambah. Suami Asiah yang sudah lama pensiun dari sebuah perusahaan sepatu nasional terkemuka juga berkomitmen untuk membantu lebih giat lagi berdagang nasi uduk agar bisa membayar cicilan Tabur Puja dengan lancar.

“ Dagangan cemilan saya bertambah, dari sebatas gorengan bakwan, jadi ada tempe, tahu, risoles, roti goreng dan beragam cemilan lain. Lalu sisa dari dana itu saya simpan sambil mengamati keadaan, usaha apalagi yang bisa saya kembangkan nanti,” lanjut Asiah lagi.

Dengan bertambahnya dagangan, berarti penghasilan Asiah juga bertambah. Walau dagangannya bertambah, setiap pukul tujuh pagi, warung nasi uduk Asiah sudah tutup karena habis terjual berikut semua cemilan gorengannya. Berarti memang layak Asiah mendapatkan pinjaman Tabur Puja, karena usahanya lancar. Dan walau volume barang dagangannya bertambah, tetap habis terjual.

“ Sekarang sudah lega hati saya. Penghasilan bertambah, jadi saya bisa terus merawat cucu saya. Bagi saya, apapun akan saya lakukan untuk cucu saya itu. Dia adalah alasan saya melakukan ini semua. Rejeki bisa dicari, cicilan bisa dibayar, tapi cucu tidak bisa dicari dan dinilai dengan uang,” pungkas Asiah.

Bersama adiknya, Siti Rohmah di Sekretariat Posdaya Melati 3

Sekarang Asiah sudah memasuki cicilan ketiga kali untuk pinjaman Tabur Puja. Dan sambil berdagang serta membesarkan cucunya, ternyata ia sedang menunggu antrian berangkat ibadah Haji ke tanah suci. Dan sebelum keberangkatannya tahun depan, Asiah bertekad untuk berdagang lebih giat agar bisa meninggalkan biaya bagi cucunya.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...