SELASA, 24 JANUARI 2017
MAUMERE — Wilayah Kabupaten Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur di Pulau Flores termasuk daerah endemik antraks. Dari hampir wilayah di Pulau Flores tersebut, hanya Kabupaten Flores Timur dan Lembata yang belum ditemukan penyebaran penyakit ini.
![]() |
| Ternak di areal sawah di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda. |
Meski demikian, masyarakat seolah tertutup dan tidak melaporkan bila ditemukan adanya hewan yang meninggal mendadak dan dicurigai akibat penyakit antraks. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Ir. Hengky B. Sali, melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan Drh. Maria Margaretha Siko, M.Sc., saat ditemui Cendana News di ruang kerjanya Senin (23/1/2017).
Dikatakan Maria, daerah endemik di Kabupaten Sikka hanya ada di Kecamatan Magepanda, sementara 20 kecamatan lainnya masih belum ditemukan adanya kasus antraks, baik pada hewan maupun manusia. “Masyarakat takut melaporkan ke dinas dan petugas kesehatan, sebab takut nanti binatangnya disuruh dikubur di tanah. Ini yang menyebabkan mereka masih mengkonsumsi daging binatang ini,” ujarnya.
Antraks di Kabupaten Sikka, lanjut Maria, ditemukan pertama kali pada 2002 di Magepanda, yang menyerang 2 ekor kerbau dan mati. Sementara pada 2007 juga ditemukan di Magepanda dengan ditmukannya 4 ekor kerbau yang terjangkit, dan 3 di antaranya mati dan dikonsumsi, sedangkan 1 ekor lagi masih bisa diselamatkan setelah diberi vaksin.
| Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Drh. Maria Margaretha Siko, M.Sc. |
“Tahun 2007, juga ada dua orang tertular antraks, mungkin karena sedang ada luka di kulit sehingga virus antraks menulari mereka saat sedang memotong daging,” ungkapnya.
Dinas Pertanian Kabupaten Sikka melalui Bidang Kesehatan Hewan, sebut Maria, selalu menyebarkan petugas untuk memantau di berbagai kecamatan dan berkordinasi dengan Dinas Kesehatan Sikka dan Puskesmas serta Kepala Desa, khususnya di daerah Magepanda, guna melaporkan bila ditemukan kematian hewan yang tidak wajar, sehingga pihaknya bisa segera turun melakukan pemeriksaan.
Selain Pulau Flores, beber Maria, Pulau Timor di Provinsi NTT juga merupakan daerah endemik antraks, seperti Sumba dan Timor yang merupakan daerah penghasil sapi dan kuda. “Kami sudah berulangkali memberitahukan kepada masyarakat, agar jangan mengkonsumsi daging hewan yang mati mendadak, dan baru satu kecamatan yakni Palue yang masyarakatnya sudah sadar dan menguburkan hewan yang mati terkena penyakit,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary