Semua Aparat Negara Menjelma Puntadewa

OLEH THOWAF ZUHARON

SENIN, 2 JANUARI 2017
 
CATATAN KHUSUS — Daripada sibuk berdiskusi meningkatnya jumlah koruptor, atau sibuk membahas operasi tangkap tangan Bupati Klaten, saya sarankan, lebih baik kita melamun dan bermimpi yang mustahil terjadi. Meskipun tidak mungkin, setidaknya di dalam tidur lelap kalian, bermimpilah sebuah suasana, semua aparat negara Indonesia menjelma Puntadewa (kakak sulung Pandawa). Barangkali, ini imajinasi gila! Namun, daripada cita-cita luhur bangsa ini tidak bisa terwujud, lebih baik kita bermimpi saja, agar kita tak pernah kecewa.

Thowaf Zuharon

Maka, lebih baik segera bayangkanlah, jika semua aparat negara menjelma Puntadewa, maka negara Indonesia akan lebih tertata dan maju sangat pesat dalam bidang apapun, mengalahkan bangsa-bangsa lain. Bisa jadi, kebenaran akan lebih mudah ditegakkan. 

Bagi yang berani memimpikan Puntadewa, anda akan melihat berbagai sifat luhur Puntadewa bersemburat dalam kehidupan sehari-hari seorang Presiden hingga Lurah. Tentu, seluruh pelaksana eksekutif Negara (dari Presiden hingga Lurah) akan lebih mengayomi rakyatnya, selalu mendengarkan keluh kesah seluruh warganya, welas asih bagi yang lemah dan tertidas, dan berbagai keindahan moral lainnya dalam kehidupan. Barangkali, roda pemerintahan akan berjalan sesuai ketentuan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Bermimpilah seluruh pengampu legislatif (seluruh wakil rakyat di pusat maupun DPR) kita setegas dan seidealis Puntadewa. Barangkali, dengan kejujuran Puntadewa, anggaran pendapatan belanja pemerintahan tidak akan ada yang disunat, diselewengkan, atau dikorupsi. Tentu tak akan ada rakyat yang tidak terurus, miskin, dan kelaparan. Apalagi jika seluruh aparat hukum negara ini menjelma Puntadewa. Barangkali, semua hakim kita akan adil, Jaksa kita akan berani menuntut para koruptor tanpa tebang pilih, para polisi akan menegakkan hukum tanpa pandang bulu, dan para pengacara bisa menjadi bijak dalam mendampingi para tersangka. Masyarakat akan hidup dengan tenang dan damai berkat Puntadewa.

Sebaiknya, kalian juga berandai-andai, seluruh orang tua pencinta wayang mengenalkan kepada anaknya sejak kecil tentang sosok tokoh wayang Puntadewa yang sangat jujur dan tak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Bisa jadi, ketika seluruh anak-anak kita mengidolakan sosok Yudhistira atau Puntadewa, perilaku tidak jujur dan budaya korupsi lambat laun habis terkikis dari kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagaimana John Ruskin pernah berucap, “Membuat anak-anak bisa berkata jujur adalah permulaan pendidikan.”

Dalam dunia pewayangan, Yudhistira adalah sosok pendiam dan tidak banyak bicara. Ketika berbicara tidak banyak direkayasa supaya menarik perhatian orang. Ia sangat jujur, sabar, adil, serta tabah dalam menghadapi cobaan hidup. Apa yang dia sampaikan sama persis dengan apa yang ada di dalam hatinya.

Nama Yudhistira dalam bahasa Sanskerta bermakna teguh atau kokoh dalam peperangan. Yudistira juga bisa berarti pandai memerangi nafsu pribadi. Ia juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja atau raja Dharma, karena ia selalu berusaha menegakkan Dharma dan kejujuran sepanjang hidupnya. Ia juga memiliki Ajatasatru, yang berarti tidak memiliki musuh. Berkat keluhuran budi pekertinya yang luar biasa, Yudhistira juga berjuluk Puntadewa, yang artinya derajat keluhurannya setara para dewa. Ia juga disebut Gunatalikrama karena pandai bertutur bahasa. Bahkan, ia sering dipanggil Samiaji, karena menghormati orang lain bagai diri sendiri. Bagi seorang Yudhistira, jujur harus disertai ketabahan dan kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa. Dengan jujur, Yudhistira mampu memenjarakan nafsu. Ia memiliki prinsip adil dan jujur harus jauh dari sifat serakah. Jika manusia mencintai dunia, maka ia akan menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah. Jika masih demikian, wataknya masih suka menghilangkan kebenaran dan mengaburkan penglihatan.

Sosok Yudhistira merupakan sosok yang sangat pantas untuk dijadikan teladan kepada anak sejak usia dini. Bagaimanapun, wayang telah menjadi kearifan lokal yang senantiasa lestari di ranah nusantara ini. Perjalanan hidup dan prinsip hidup seorang Yudhistira, bergitu mirip dengan ungkapan Vernon Howard yang mengisyaratkan, “Jujurlah pada diri sendiri, karena hal tersebut akan membukakan pintu apapun.” Dengan kejujuran dan ketabahan yang luar biasa menghadapi kesengsaraan, Yudhistira akhirnya mencapai keluhurannya menjadi raja Hastina yang menguasai seluruh mayapada. Hal ini seperti kata-kata Henry Fielding yang menyebut, “Tanpa mengalami kesengsaraan, seseorang jarang sekali mengetahui apa dia jujur atau tidak.”

Selain wayang, banyak sekali mutiara kebijakan kejujuran yang telah dipunyai bangsa Indonesia, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Semua nilai-nilai kejujuran itu banyak terangkum dalam peribahasa Indonesia maupun peribahasa daerah. Berbagai peribahasa yang mengajarkan tentang nilai kejujuran dan tidak korupsi tersebut, bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini. Niscaya, karakter anak-anak kita akan sekuat Yudhistira.

Bagaimanapun, perjalanan batin dan pencarian makna kehidupan Yudhistira menjadi pribadi yang luhur, sudah dimulai sejak usia masih kanak-kanak. Yudhistira banyak memperdalam ilmu kautaman. Pemahamannya akan berserah diri sebagai makhluk ciptaan Sang Pencipta, membuat segala pikiran, ucapan dan perilakunya seakan sejalan dengan kehendak alam.

Yudhistira dikenal memiliki pemahaman yang begitu dalam akan makna ‘ngelmu suwung’. Dalam terminologi Jawa, ‘suwung’ berarti sebuah rumah yang kosong. Tidak hanya kosong ditinggal penghuninya, tapi juga kosong dari perabot dan segala macam isi rumah. Ngelmu Suwung, adalah pengertian dimana sang empunya bisa membawa diri pada pemahaman hidup bahwa dirinya tidak punya apa-apa, karena pada dasarnya segala yang ada dan merasa dipunyai, secara hakiki, adalah milik Sang Pencipta. Sehingga sesuai analogi sebuah rumah kosong tadi, tempat kediaman yang ‘suwung’ akan selalu bisa dan dengan mudah diisi dengan segala macam hal. Rumah suwung akan lebih mudah menampung lebih banyak orang, rumah suwung akan terlihat lebih mudah bila dibutuhkan untuk mengatur alat-alat rumah tangga.

‘Ngelmu Suwung’ membawa pengertian, bila saja ada orang yang mengambil semua hal yang ada pada diri, maka si empunya tak akan pernah merasa kehilangan, karena pada dasarnya yang ada pada dirinya hanya sementara dan bukan miliknya secara mutlak. Pada saat yang sama si ‘ngelmu suwung’ akan selalu mengisi dirinya dengan segala macam rahasia alam, dan tak pernah merasa dirinya penuh akan proses pembelajaran. Gambaran ‘ngelmu suwung’ ini pertama diselami dalam kisahnya, oleh Pandu, kemudian diajarkan kepada Yudhistira. Kemudian, justru oleh Yudhistira, makna ilmu ini semakin didalami, dan hanya dialah satu-satunya yang bisa memaknai begitu dalam dan mengamalkan ilmu ini secara sempurna.

Jadi, Jika kalian ingin negara Indonesia ini dihuni oleh para pribadi yang luhur dan jujur, segeralah menjelmakan seluruh batin dan perilaku kita pada keluhuran dan kejujuran Puntadewa. Segera kenalkan wayang Puntadewa kepada anak-anak kita. Niscaya, Komisi Pemberantasan Korupsi akan segera pensiun. Penjara akan kosong.

Yang jelas, mimpi tidak waras itu tidak akan pernah terjadi. Bumi ini memang tersusun oleh kebaikan dan keburukan sekaligus. Saya yakin, kisah kebenaran murni di dunia, hanya bisa kita wujudkan dalam mimpi dan mitologi. Lebih baik segera tidur sambil mendengarkan kaset berisi lakon wayang Puntadewa Sang Penegak Pancasila di Indonesia. Lakon itu memang masih jarang dipentaskan. Segeralah dipentaskan di seluruh desa di Indonesia!

Thowaf Zuharon adalah penulis buku Ayat-ayat yang Disembelih dan Mencokok Ahok.

Lihat juga...