![]() |
| KRL Jabodetabek setelah pembenahan masih belum mampu menampung pertambahan penumpang jam sibuk. |
Tren
- Muslim: Narasi Simbolik dan Arsitektur Kemenangan
- Urgensi Indikator Hukum Pancasila
- Energi Netizen dan Produktivitas Bangsa
- Kenapa Iran tidak Fokus Israel dan Kapal Perang AS
- Ronda Sahur: Lebih dari Sekadar Ritme Dini Hari
- Kenapa Gaza “di Transaksikan” dengan Iran ?
- Desakan Indonesia Keluar BoP Sejalan Kehendak Israel
- Jatuh Bangun Peradaban dalam Al-Qur’an
- Lupa Prabowo Teman Raja Jordan
- Perintah-Larangan dan Kebahagiaan Otentik
JUMAT 20 JANUARI 2017
BOGOR—Pada 2008, PT. Kereta Api Indonesia membentuk satu divisi khusus Divisi Angkutan Perkotaan yang bertanggungjawab untuk menangani permasalahan jasa angkutan KRL. Divisi Angkutan Perkotaan ini merupakan cikal bakal dari PT. KAI Commuter JABODETABEK (KCJ) yang dibentuk sesuai dengan Inpres No.5 tahun 2008 dan surat Meneg BUMN No. S-653/MBU/2008 pada 12 Agustus 2008. Pada 15 September 2008 Perseroan ini resmi menjadi anak perusahaan PT.KAI.
Salah satu hal yang menarik adalah pola perjalanan KRL hingga 2011. Ada ketidakteraturan pola perjalanan, ketika itu ada lebih dari tiga puluh relasi perjalanan KRL di jabodetabek. Pada 2011, PT.KCJ mengadakan penyederhanaan relasi menjadi lima relasi perjalanan. Bogor-Jakarta Kota PP, Bogor-Sudirman-Jatinegara PP, Jakarta-Bekasi PP, Tanah Abang-Maja PP, dan Duri-Tangerang PP.
Hal ini yang menyebabkan ada istilah transit di stasiun Manggarai, karena tidak ada pemberangkatan KRL dari Bekasi-Sudirman atau Tangerang-Jakarta Kota. Tentu ada banyak pro dan kontra dalam penerapan pola baru ini, hal ini terjadi karena penumpang KRL yang sudah terlalu nyaman dengan rute perjalanan yang sebelumnya sudah berada di zona nyaman dan enggan untuk transit di Manggarai.
Selain memperbaiki pola perjalanan, PT KCJ juga turut membantu PT. KAI dalam menertibkan penumpang atap kereta “KCJ sering bantu penertiban untuk hilangkan penumpang di atap,” kata Manajer Coorporate Communictaion PT KRL Commuter Jabodetabek , Adli Hakim Nasution ketika dihubungi Cendana NewsKamis (19/1).
Beberapa hal yang dilakukan PT.KCJ diantaranya bola-bola besi di Bekasi Line, papan penghalang di Bogor Line, dan cat semprot di beberapa titik. Namun tetap ada alasan untuk merusak apa yang telah diupayakan oleh PT.KCJ. Atapers memiliki persiapan untuk menghadapi itu semua, ada yang membawa trash bag sebagai tameng menghadapi cat semprot, mereka akan tiarap ketika melewati papan penghalang maupun bola-bola besi penghalang. Merupakan hal yang menyedihkan melihat kenyataan bahwa masyarakat lebih senang melanggar peraturan.
Kehadiran ataperstidak lepas dari keberadaan KRL Ekonomi. Atapers dan KRL Ekonomi bagaikan sepasang kekasih yang saling berjalan bergandengan tangan. Hingga pada akhirnya PT.KAI dan PT.KCJ membuat kebijakan kereta satu kelas “Pak Jonan waktu itu menginginkan KRL jadi single class.” kata Adli.
Dengan dihapuskan operasi KRL Ekonomi di jabodetabek, penumpang atap pun sirna dengan sendirinya. Lebih lanjut Adli menjelaskan; “karena memang ini kondisi ideal untuk transportasi publik.” segmentasi kelas KRL menjadikan warga negara pengguna jasa angkutan KRL tidak mendapat pelayanan yang sama. Padahal, semua warga negara berhak mendapatkan pelayanan yang sama layaknya.”
Adli mengakui bahwa saat ini Indonesia masih kurang dalam hal infrastruktur “Sehingga kereta jenis apapun, menggunakan rel yang itu-itu juga” Tidak ideal jika ada beberapa kelas pelayanan menggunakan rel yang sama. “Hal tersebut akan sangat mengganggu terlebih dari segi pengaturan operasi nya”.
Dari data kekuatan armada PT.KCJ yang diberikan kepada Cendana News, pada tahun 2011 ada 374. 2012 ada 484, 2013 ada 664, 2014 ada 840, 2015 ada 960. Pada tahun 2016 ada 1120, 2017 ada 1220, 2018 ada 1320 dan 2019 ada 1450 jumlah pemberangkatan. Dari tahun 2016-2019, PT.KCJ akan membeli 100-160 unit KRL setiap tahunnya.
Mengubah kebiasaan manusia memang tidak semudah membalikan telapak tangan, kendala yang dihadapi tidak bisa dihitung jumlahnya “Terlalu banyak kendala dan otomatis solusinya juga banyak sampai-sampai kita bikin buku Untold Story E-Ticketing kisah “Dibalik” Layar Modernisasi KRL JABODETABEK”.
Dalam lima tahun PT.KCJ mampu merubah pola kerja dan pelayanan mereka. Tidak hanya itu, PT.KCJ juga mampu mengubah pola perilaku masyarakat pengguna jasa angkutan KRL. Pada pertengahan 2015 PT.KCJ memiliki taklimat Best Choice For Urban Transport atau pilihan terbaik untuk transportasi massa.
Pengguna jasa kereta api seperti Klewung (tahun) mengakui adanya perubahan ini. Dia mengusulkan tambahan seperti keberadaan angkutan langsung Serpong-Citayam PP akan sangat membantu. Menurut Klewung, pelayanan KRL lima-enam tahun belakangan sudah lebih baik daripada jaman sebelum ada revolusi KRL.
Darmaningtyas, pengamat transportasi menilai bahwa apa yang telah dilakukan PT.KCJ merupakan satu terobosan bagus. “Kalau Anda lihat di Bogor, Cilebut, banyak yang menitipkan kendaraan di sana, itu tanda kalau Commuter Line sudah menjadi pilihan bagi masyarakat” katanya ketika dihubungi oleh Cendana News.
Namun Darmaningtyas masih menyoroti kurangnya itu armada perjalanan KRL. Begitu juga kalau perlintasannya masih sebidang. Terlepas dari itu menurutnya, saat ini KRL Commuter Line sudah menjadi Best Choice for Urban Transportsesuai dengan motto PT.KCJ. Reformasi selanjutnya masih ditunggu. Tentu saja harus berpacu dengan pertumbuhan penduduk.
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugtoho.
Lihat juga...