Perjalanan KRL Jabodetabek (1) Putra Mahkota Austria Pernah Menumpang Kereta ke Bogor

JUMAT 20 JANUARI 2017
BOGOR—Kereta api adalah salah satu moda transportasi massal yang tertua di Indonesia. Di antara rute yang punya sejarah panjang ialah yang kereta api yang melayani Jakarta-Bogor, yang kemudian menjadi  Kereta Rel Listrik.  Alur Jakarta (masih bernama Batavia0 ke bogor diresmikan pada 1873, yang merupakan jaringan  kedua setelah Semarang-Tanggung pada 1867.
KRL Jabodetabek sebelum pembenahan.
Pada waktu itu naik kereta api  lebih banyak dinikmati oleh pejabat Hindia Belanda, tamu-tamunya dan sebagian kecil orang Indonesia. Sejumlah orang penting menumpang kereta api ini mulai dari Raja Muangthai, Putra Mahkota Austria dan Pangeran dari Rusia.  Surat kabar Bintang Barat edisi April 1893  menyebutkan perjalanan Putra Mahkota Austria menggunakan akses kereta api dari Stasiun Gambir ke Stasiun Bogor. 

Frans  Ferdinand Sang Puta Mahkota diceritakan berlibur ke Tanah Priangan selama berapa minggu. Ketika pulang ke negerinya dia  diantar Konsul Fock hingga Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di Stasiun Gambir dia disambut Asisten Residen Batavia.   Sejarah mencatat Frans Ferdinand ini adalah putra mahkota Austria yang dibunuh militan Serbia pada 1914 dan memicu Perang Dunia I.

Pada masa Perang Kemerdekaan hubungan kereta api Jakarta-Bogor sempat terputus.  Namun setelah Indonesia membentuk Jawatan Kereta Api jalur ini dipulihkan, seperti yang dikutip dari Majalah Pantja Raya, 15 Januari 1946.  Jawatan kereta api sendiri didirikan pada 28 September 1945.

Setelah Indonesia merdeka jalur Jakarta-Bogor ini transportasi massa yang paling diminati oleh masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Ada yang menggunakan kereta api semenjak kecil hingga dia bekerja. 
Di antara mereka terdapat Klewung, (46 tahun) seorang guru sudah menumpang KRL sejak 1970-an. Ketika itu Angkutan Kereta Listrik di jabodetabek mulai beroperasi sejak tahun 1976. Kala itu Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) menjadi operator penyelenggara jasa angkutan KRL.
 “Waktu saya kecil karena dulu belum banyak orang  masih enak menumpang kereta api.  Namun ketika perkantoran banyak berdiri di kawasan Sudirman hingga TB Simatupang, maka peminat KRL menjadi bertambah dan kereta menjadi sesak. Orang Depok yang ingin ke Serpong atau dari Serpong ingin ke TB Simatupang (Tanjung Barat) pada naik kereta, ngumpul-ngumpul juga di Manggarai dan Tanah Abang,” papar Klewung.   
Apa yang diungkapkan Klewung dirasakan bagi menumpang kereta api di era 1990-an. Pada jam pulang kantor para penumpang berjejal hingga naik ke atap kereta api.  Apalagi setelah kampus Universitas Indonesia dibuka pada 1987 juga keberadaan Kampus Universitas Pancasila dan perkembangan pemukiman di sekitar Tanjung Barat, Citayam, Bojonggede dan sebagainya. 
Bertahun-tahun lamanya, pelayanan KRL menjadi satu hal yang menakutkan bagi masyarakat. Jasa angkutan KRL merupakan pelayanan terburuk pada masa itu. Memang kereta adalah angkutan transportasi yang paling cepat untuk menempuh jarak jauh, namun kondisi di dalam rangkaian KRL menjadi satu hal yang menakutkan, kasus jambret, copet, pemalakan hingga pelecehan seksual, tidak bisa dihitung dengan jari. Hal ini terus terjadi tanpa adanya pengawasan dari pihak penyelenggara jasa angkutan KRL. Hal ini yang menyebabkan satu keterpaksaan dalam menggunakan jasa angkutan KRL (Bersambung)

Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugtoho. 
Lihat juga...