Jelang Imlek, Permintaan Buah Naga di Lampung Meningkat

KAMIS, 19 JANUARI 2017

LAMPUNG — Menjelang pergantian tahun baru Tionghoa yang dikenal dengan perayaan Imlek tahun 2567 menuju tahun 2568 menurut penanggalan Tionghoa berimbas pada permintaan buah naga di sejumlah sentra budidaya buah naga di Lampung serta beberapa penjual buah. Menurut Andi, salah satu penjual buah di pasar Kalianda Lampung Selatan, buah naga yang semula hanya dijual Rp 20 ribu per kilogram menjadi Rp 23 ribu hingga Rp 25 ribu untuk per kilogramnya. Kenaikan buah naga (dragon fruit) tersebut, menurut Andi, akibat permintaan yang meningkat menjelang perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa yang menjadikan buah naga sebagai buah untuk keperluan perayaan serta dijadikan buah segar.

Panen buah naga sebelum dijual ke pembeli.

Saat ini pasokan buah naga yang ia jual berasal dari wilayah Lampung Timur dan sebagian dari Lampung Selatan. Faktor penurunan produksi pada lahan pertanian buah naga, menurut Andi, diduga menjadi penyebab mahalnya harga buah naga terutama menjelang Imlek. Sebab, selama ini, ia langsung membeli buah naga serta buah semangka dari Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, serta wilayah Desa Margajasa, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan. Pasokan lain, biasanya dibeli dari luar wilayah Lampung, di antaranya wilayah Prabumulih, Sumatera Selatan, yang didatangkan oleh para distributor buah naga skala besar.

“Buah naga di sini masih menjadi buah yang cukup digemari karena masih sedikit pasokan dan belum banyaknya petani yang mengembangkan buah naga sehingga harganya masih mahal,” terang Andi saat dikonfirmasi Cendana News di pasar Kalianda Lampung Selatan, Kamis (19/1/2017).

Selain buah naga terutama jenis buah naga merah, penjualan buah lain di antaranya jeruk mandarin, jeruk keprok juga mengalami peningkatan meski tidak terlalu mengalami kenaikan sangat signifikan. Jeruk mandarin yang selama ini ia jual dipatok dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram sementara buah jeruk jenis keprok yang merupakan hasil pertanian lokal mencapai Rp 15 ribu hingga Rp  17 ribu per kilogram. Buah-buahan lain yang dijual oleh Andi di antaranya jenis buah alpokat, buah salak serta buah pepaya kalifornia.

Sebagian tanaman buah naga yang belum dipanen.

Permintaan buah naga tersebut, jelang Imlek, juga berimbas pada para petani di Desa Margajasa, Kecamatan Sragi, yang membudidayakan buah naga. Meski mengaku mengalami penurunan pada musim panen tahun ini hasil budidaya tanaman buah naga yang dilakukan Ahmad (35) dan Sumini (34) diakuinya masih bisa memberi keuntungan. Buah naga yang bisa dipetik setiap tiga bulan sekali tersebut, menurut Ahmad, dimilikinya sebanyak 200 hingga 500 batang tersebar di beberapa lokasi yang semula hanya ditanami pisang dan jagung.

“Kalau hasil tahun ini masih lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya. Tapi karena banyaknya permintaan menjelang Imlek pada tahun ini kami masih bisa panen,” ungkap Ahmad.

Buah yang dalam keseharian banyak dicari oleh masyarakat karena memiliki khasiat yang cukup bagus untuk kesehatan di antaranya untuk mengobati penyakit tertentu membuat buah naga tak pernah sepi peminat. Saat ini di tingkat petani, ia mengaku, buah naga yang dipanennya dijual dengan harga Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu sehingga di tingkat pengecer dijual dengan harga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu tergantung kualitas buah. Sementara saat panen raya pada tahun sebelumnya buah naga yang berhasil dipanennya hanya mencapai kisaran Rp 15 ribu hingga Rp16 ribu per kilogram.

Ia mengungkapkan, selain dibeli oleh konsumen perseorangan, konsumen pedagang yang akan menjual buah naga tersebut, beberapa pedagang untuk pasokan supermarket pun telah melakukan survei terhadap buah naga yang dibudidayakannya. Meski demikian, ia mengaku, permintaan dari supermarket masih belum bisa dipenuhi karena jumlah produksi yang masih terbatas dan untuk kebutuhan lokal pun, ia mengaku, masih kewalahan memenuhi.

“Kami masih melakukan perluasan lahan untuk bisa memenuhi permintaan pasar yang lebih besar karena saat menjelang Imlek saja kebutuhan lokal sangat besar,” ungkap Ahmad.

Sumini menunggu buah naga yang akan dibeli.

Kebutuhan yang begitu besar tersebut, ungkap Ahmad, terutama dari pembeli keturunan Tionghoa di wilayah Lampung Selatan yang sengaja membeli untuk dikirim ke kerabatnya di beberapa wilayah sebagai buah tangan serta untuk sesaji dalam kegiatan persembahyangan. Pergantian tahun baru Tionghoa atau Imlek yang akan jatuh pada 28 Januari mendatang, diakuinya, memberi dampak positif bagi petani buah naga seperti dirinya dan para penjual buah.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...