Di Balik Nama Kota Jayapura, Tersimpan Cerita Mereka (1)

JUMAT, 13 JANUARI 2017

JAYAPURA — Tahukah Anda Kota Jayapura sebagai ibu kota Provinsi Papua saat ini, ternyata telah merubah nama sebanyak lima kali? Ingin tahu proses perubahan nama tersebut? Berikut Cendana News merangkum dalam catatan nama dalam sejarah.

Suasana jalan berupa papan di Kampung Enggros saat ini.

Papua terletak di bagian Barat Daya Samudera Pasifik, di selatan khatulistiwa. Bentuknya bagaikan burung raksasa yang sedang tidur. Ada juga yang menganggap, tanah Papua lebih mirip seekor dinosaurus, yaitu binatang dari kala Mezoikum yang kini telah punah.

Dilihat ukurannya, Papua merupakan pulau kedua terbesar di dunia sesudah Greenlandia. Luas seluruhnya 419. 660 kilometer persegi, dengan panjang 2.400 kilometer, dan lebar di bagian yang terbesar lebih kurang 700 kilometer. Dengan luas tersebut, wilayah Papua hampir 2 kali lebih besar dari luas wilayah negeri Inggris, 12 kali lebih besar dari luas negeri Belanda, dan 3 kali lebih besar dari luas Pulau Jawa, dengan batas posisi 1 Lintang Selatan, 9 Lintang Selatan, dan 129–141 Bujur Timur.

Kampung Injros pada 1932 silam.

Cendana News mengajak pembaca kembali ke era tahun 1526 silam, kala itu ada seorang Portugis bernama George de Menezes sebagai orang Eropa pertama yang melihat Tanah Papua. Pada kala itu, belum ditemui. Di tahun 1545, tepatnya 20 Juni 1545, Ynigo Ortiz de Rentes asal Spanyol mengunjungi Tanah Papua dan memberi nama “NUEVA GUINEA”. 223 tahun kemudian, tepatnya 1768, seorang pelaut berkebangsaan Perancis, Louis Antonie Baron de Bougainville menyinggahi Teluk Imbi menggunakan kapal “Fregat Boundeuse dan kapal D’Etoile” pada 13 Agustus 1768 silam. Kedua kapal berlayar menuju negaranya, Spanyol, setelah mengadakan penelitian di Rio de Jeneiro yang kini ibu kota negara Brasil.

Dalam perjalanan itu, pelaut tersebut melihat Gunung Dafonsoro menjulang tinggi dengan pantai laut yang berwarna biru serta pemandangan alam sungguh indah. Namun, juga membawa kesan kepercayaan yang dapat menakutkan. Lalu, gunung Dafonsoro dinamakan Cycloop yang menurut Mythe bangsa Grika, seorang raksasa bermata satu dalam legenda Yunani yang bernama De Deux Cycloops. Nama ini dimunculkan karena berdiri gugusan bagaikan  makhluk yang kokoh laksana raksasa. Sementara Gunung Tami dinamakannya Gunung Bougainville.

Salah satu rumah peninggalan zaman Belanda di Jalan Raya Abepura yang hanya menambah pagar tanpa merombak rumah.

“Pegunungan Cycloop yang saat ini ada di Kabupaten Jayapura pertama kali tercatat dalam perjalanan orang Perancis bernama Sabastian Caesar Dumondt d’ Urville tanggal 12 Agustus 1827, berlayar dengan kapal layarnya Astrolabe mengunjungi Teluk Imbi melihat olehnya teluk yang indah ini, maka diberikannya nama Humboldt Baai,” demikian dikatakan Hanggua Rudi Mebri, selaku Ketua Pemuda Adat Port Numbay (Kota Jayapura), saat ditemui Cendana News belum lama ini.

Nama Humboldt Baai itu sebagai bentuk penghargaan dan kenang-kenangan terhadap sarjana penyelidik bangsa Jerman yang bernama F.H Aleksander Baron von Humboldt yang terkenal dalam perjalanan di tahun 1799-1805 melalui Amerika Selatan Tengah menuju Teluk Imbi. Ketika melintasi daerah Pasifik dan singgah di Jayapura kemudian menamakan daerah ini Humboltd Bay dan Teluk Youtefa untuk pertama kali.

Ketika kapal perang Belanda datang 23 Juni hingga 4 Juli 1858 silam bertujuan membawa seorang peneliti berkebangsaan Jerman bernama “Etna” di bawah pimpinan Lt.G.Rijn, masuk dan berlabuh di Teluk Imbi atau Humboldt dengan membawa ekspedisi ilmiah di bawah pimpinan Residen dari Bangka, Tuan H.D.A van der Goes.

Salah satu rumah peninggalan zaman Belanda di Jalan Raya Abepura.

“Komisi ini masuk ke dalam Teluk Youtefa dan menanncapkan bendera Nederland pertama kali di teluk ini,” demikian dijelaskannya.

Pada waktu itu, komisi ini memberikan nama-nama Belanda pada pulau-pulau dan gunung-gunung di dalam Teluk Humboldt dan Teluk Youtefa sebagai berikut: Pulau Janus (saat ini Metu Debi), Pulau Slavante (Injemoch), Suidkerbrond (Gunung Mer), Pulau Mathilde (Missioditj), Pulau Magdalena (Kayu Pulau dan Meturau), Pulau Meeuwen (Pun), Pulau Muskiten (Sibir), dan Hagenaars hoek (Tanjung Juar).

Residen D.F. Van Bram Morris dengan kapal “Sing Tjin” tanggal 5 sampai 7 September 1883 mengunjungi Kampung Tabati Injros (saat ini Kampung Tobati dan Enggros) dan menyerahkan bendera Belanda serta Tidore. Dua tahun kemudian, 17 Mei 1885, antropolog Jerman O. Finsch datang menggunakan kapal “Samoa”, kunjungi Kampung Tabati Injros.

 “Tahun 1892, datang orang Inggris bernama William Doherty, seorang penghimpun jenis-jenis hewan menyinggahi Teluk Humboldt dan Teluk Youtefa, tinggal di Pulau Metu Debi Kampung Tobati Injros,” katanya. Di tahun itu ia juga menemukan Danau Sentani lewat Zedeling G.L Bink, memohon ijin kepada Harsori Numadic dalam Bahasa Tobati Injros Sansaoyi (Sentani) dan mengimbau jangan pergi itu tempat orang-orang jahat atau daerah konflik dan peperangan.

“Saat Zendeling G.L Bink tiba di Metu Debi 3 April 1892, ketika itu kembali ke Yende Roon Wasior dengan membawa kedua pemuda Tobati Injros, yakni Waro Wasa Itaar dan Padai Hamadi. Kedua pemuda ini langsung dibaptis bersama setahun kemudian pada 29 Mei di Yende Roon Wasior,” demikian diungkapkan Rudi.

Ada tiga hal positif yang dapat dipegang saat Pdt G.L Bink ada di Teluk Youtefa. Pertama, kampung-kampung adalah cukup besar dan penduduknya suka menetap di suatu tempat. Kedua, tidak ada pengacauan dan perbudakan. Ketiga, orangnya tidak mengenal tuak (minuman keras lokal). (Bersambung)

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto:  Indrayadi T Hatta, Dokumen LMA Port Numbay

Lihat juga...