Cetul Pustaka Lampung Ajak Anak-anak Baca Buku

JUMAT, 20 JANUARI 2017

LAMPUNG — Sugeng Hariyono mulai menyiapkan buku-buku yang akan dibawa untuk berkeliling ke pelosok-pelosok desa yang ada di sekitar Kecamatan Penengahan. Sore ini, Sugeng Hariyono yang dikenal sebagai penggagas armada Pustaka Bergerak Lampung secara khusus mengajak Cendana News berkeliling untuk mencari lokasi tempat anak-anak berkumpul saat sore hari untuk bermain bersama kawan-kawannya. Di antaranya bermain bola atau permainan lain. Setelah mengisi bahan bakar untuk kendaraan roda dua yang diberi nama Cetul Pustaka Nusantara, sebuah tas khusus yang diletakkan di kanan dan kiri kendaraan mulai diisi dengan berbagai jenis buku di antaranya yang dominan merupakan ragam buku, majalah, bacaan anak anak usia sekolah serta bacaan umum. Semua itu dipergunakan untuk membaca bagi masyarakat yang secara kebetulan berada di wilayah yang dikunjungi.

Para ibu membantu anak-anak membaca buku-buku.

Sugeng mengaku, sebelum berangkat, ia selalu memetakan wilayah yang akan dikunjunginya sebagai armada Pustaka Bergerak terutama di wilayah-wilayah yang jauh dari kota kecamatan. Lokasi yang akan dikunjungi pun terkadang tanpa direncanakan, melihat situasi dan kondisi saat Cetul Pustaka berjalan keliling kampung dan melihat anak-anak bermain. Salah satunya di Dusun Pahabung, Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan, yang dikunjungi oleh Sugeng Hariyono dengan menggunakan kendaraan roda dua bertuliskan Cetul Pustaka Nusantara. Sekitar 100 lebih buku bacaan rata-rata buku cerita bergambar (cergam) yang memenuhi tas di kanan dan kiri jok Cetul Pustaka telah disiapkan.

“Buku-buku yang saya bawa rata-rata merupakan buku-buku cerita anak-anak dan sebagian besar dilengkapi gambar-gambar berwarna. Buku-buku itu sebagian merupakan donasi dari para relawan, komunitas yang peduli pada literasi dan tentunya disukai anak-anak,” terang Sugeng Hariyono, saat dikonfirmasi Cendana News sambil memilihkan buku-buku bacaan yang disukai anak-anak di Dusun Pahabung, Desa Ruang Tengah, Kecamatan Penengahan, Jumat sore (20/1/2017).

Anak-anak memilih buku bacaan.

Tanpa rencana, tanpa persiapan, mengalir begitu saja, demikian diungkapkan Sugeng Hariyono dalam pemilihan tempat. Tak jarang, bahkan anak-anak yang ditemui sedang bermain di rerumputan membuat Sugeng ikut “menggelar” lapak perpustakaan keliling yang dibawanya. Menyesuaikan lokasi yang didatangi. Tanpa meja, tanpa tikar beralaskan rerumputan pun membuat anak-anak tersebut terlihat menyukai kegiatan membaca. Sebagian anak-anak merupakan siswa usia Sekolah Dasar (SD), sebagian siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan sebagian anak-anak yang masih belum bisa membaca. Beruntung dalam kesempatan tersebut kaum, ibu yang mengajak anak-anaknya yang belum bisa membaca, ikut memilihkan buku-buku bacaan bergambar yang membuat anak-anak tertarik.

Sugeng Hariyono mengaku, terkadang anak-anak menyukai melihat gambar-gambar yang ada di buku tanpa mau membaca keseluruhan isi buku. Namun, cara tersebut, ungkap Sugeng, merupakan cara untuk menarik minat baca anak-anak sehingga buku-buku yang dibawa tidak melulu buku bacaan. Bahkan sebagian hanya buku-buku bergambar seperti cerita dongeng, fabel (cerita binatang), komik, serta buku-buku bergambar lainnya. Meski demikian, sebagian anak-anak usia sekolah yang memanfaatkan waktu bermain di sore hari akan menyukai menggunakan waktu saat sore membaca buku bersama dengan kawan-kawannya.

Sugeng Hariyono membawa kendaraan Cetul Pustaka sebelum bertemu anak-anak di pedesaan.

Saat datang pertama kali ke tempat yang belum mengenal Sugeng Hariyono sebagai pegiat literasi, ia mengaku, kerap dikira penjual buku atau sales buku yang akan menjual buku kepada anak-anak dan warga desa. Namun, setelah diberi penjelasan, bahwa buku yang dibawanya di kendaraan roda dua tersebut merupakan buku-buku gratis yang bisa dibaca dan dipinjam untuk selanjutnya dikembalikan lagi. Akan diganti pula dengan buku-buku bacaan lain yang baru. Setelah mendapatkan penjelasan itu, sebagian masyarakat yang dikunjungi pun senang dan mulai asyik membaca buku.

“Kalau pertama kali saya kunjungi, maka biasanya mereka belum paham sehingga saya memutuskan untuk datang dan membiarkan mereka membaca buku yang disukai. Pada kunjungan berikutnya, buku akan saya tinggal agar dipinjam dan selanjutnya bergilir membawa buku yang lain,” terang Sugeng Hariyono.

Sugeng Hariyono juga memberikan donasi alat tulis kepada anak-anak kurang mampu.

Sugeng Hariyono mengungkapkan, sebetulnya Cetul Pustaka merupakan armada Pustaka Bergerak yang terkadang dijalankan oleh istrinya, Asih Kurniawati. Namun, di saat yang sama, ia juga terkadang menggunakan kendaraan tersebut untuk berkeliling ke kampung-kampung membawa buku-buku bacaan untuk anak-anak usia sekolah di pelosok pelosok desa. Kendaraan roda dua dengan warna putih dan merah tersebut, kerap menarik perhatian karena membawa buku-buku yang bisa dibaca setiap motor antik tersebut berhenti.

Menurut Sugeng Hariyono, Cetul Pustaka Nusantara dibuat sesuai nama kendaraan yang digunakan, bertipe Honda C70 seri tahun 1981. Kendaraan tersebut, merupakan donasi dari Wiwied, salah seorang anggota komunitas CSN (C50, C70, C90, C100 Series Nusantara) yang dikirim langsung dari Semarang.

Ia sendiri kerap membawa Motor Pustaka dan giat berkeliling dari kampung ke kampung mendorong armada Pustaka Bergerak lain di antaranya Onthel Pustaka (sepeda) serta Perahu Pustaka yang menggunakan perahu dan membawa buku-buku bacaan ke pesisir pantai serta pulau-pulau terluar. Relawan-relawan tersebut, ungkap Sugeng Hariyono, telah bergerak ke berbagai kecamatan secara mandiri dan kini sudah mulai dikenal anak-anak usia sekolah yang membutuhkan buku-buku bacaan.

Menularkan virus literasi, bagi Sugeng Hariyono, merupakan panggilan jiwa, saat ia prihatin akan sulitnya anak-anak di pelosok pedesaan memperoleh buku-buku bacaan bermutu. Berbekal ketulusan dan niat tanpa pamrih, ia mengaku, mengumpulkan buku-buku tersebut dari uang pribadinya dan sebagian merupakan buku-buku yang diperoleh berkat donasi dari berbagai pihak. Gerakan hati dan tangan yang telah menjangkau berbagai wilayah di Lampung tersebut, ungkap Sugeng Hariyono, bahkan mampu menggerakkan donatur lain untuk memberikan donasi berupa alat-alat tulis bagi anak-anak. Sore ini, selain membawa buku-buku, berbekal informasi dari warga akan adanya anak yatim dan pencari pasir di kali, Sugeng Hariyono membawa tiga buah tas berikut buku-buku untuk anak di Dusun Pahabung di antaranya bagi Adit (12), Dandi (11) dan Dimas (9) yang masih duduk di bangku SD.

“Alat tulis yang saya bawa merupakan donasi dari pihak yang peduli akan pendidikan anak-anak di pedesaan dan dikhususkan bagi anak-anak yang tidak mampu,” ungkap Sugeng Hariyono.

Ketiga anak tersebut merupakan siswa kelas 6, kelas 5 dan kelas 3, sebuah sekolah dasar di Lampung Selatan yang sehari-harinya bekerja mencari pasir di Sungai Way Pisang. Keprihatinan akan nasib anak-anak sekolah tersebut juga menurut Sugeng menyatu dengan semangat literasi karena bagi anak-anak di pedesaan yang masih bekerja keras untuk memperoleh uang, untuk membeli buku tulis pun mereka tidak sanggup apalagi membeli buku-buku bacaan. Selain menebarkan virus literasi, ia terus mengunjungi beberapa desa untuk membawa buku-buku bacaan agar anak-anak usia sekolah bisa membaca buku secara gratis.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Lihat juga...