RABU, 25 JANUARI 2017
YOGYAKARTA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY menyebut tergenangnya sejumlah titik pemukiman warga yang berada di bantaran sungai serta terendamnya sejumlah titik ruas jalan utama Kota Yogyakarta pada setiapkali terjadi hujan deras dengan intensitas tinggi, disebabkan persoalan infrastruktur perkotaan yang tidak terencana dengan baik.
![]() |
| Banjir di Kota Yogyakarta yang terjadi kemarin, Selasa (24/1/2017) |
Buruknya saluran resapan air atau drainase di sejumlah ruas jalan, serta alih-fungsi lahan yang masif di sejumlah lokasi resapan air, dinilai menjadi penyebab utama masalah tersebut. Termasuk juga penyempitan badan sungai yang berada di tengah Kota Yogyakarta seperti Sungai Manunggal (Sungai Mbelik) dan Sungai Gajahwong, sehingga menyebabkan sungai tak mampu lagi menampung debit air setiapkali turun hujan deras, hingga meluap ke jalan-jalan maupun pemukiman warga.
Baca:
Diguyur Hujan, Sungai Mbelik Meluap Genangi Puluhan Rumah Warga Kampung
Hujan Deras Guyur Yogya, Sungai Meluap, Jalan Tergenang
Hujan Deras Akibatkan Bandara Adisucipto Ditutup Sementara
“Memang ini bukan lagi persoalan kebencanaan. Namun, lebih pada persoalan infrastruktur,” ujar Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY, Wahyu Pristiawan, di Kantornya, Rabu (25/01/2017).
Wawan menyebutkan, pihaknya sendiri pernah mekalukan survei pada aliran-aliran sungai di DIY, dan menemukan sejumlah titik penyempitan badan sungai yang cukup ekstrim, khususnya di Kota Yogyakarta, sehingga berpotensi meluap dan menggenangi kawasan bantaran sungai jika terjadi peningkatan debit air. Salah-satunya, di Sungai Manunggal sekitar Jalan Solo-Yogyakarta, yang ddiapati badan sungai di wilayah itu ditutup, dan dibangun hotel di atasnya.
“Jadi, di bawah sebuah hotel di Jalan Solo itu sebenarnya ada sungai. Sungai itu ditutup dan dibuat menjadi semacam selokan, sehingga badan sungai mengalami penyempitan secara ekstrim. Akibatnya, setiapkali hujan deras air pasti meluap,” ujarnya.
Menurutnya, alih-fungsi lahan yang masif di daerah hulu aliran sungai yakni wilayah Yogyakarta sebelah utara maupun Sleman, juga turut memberikan andil besar. Banyak lahan-lahan, khususnya di kawasan Kabupaten Sleman, yang dulu merupakan lahan hijau terbuka kini telah beralih-fungsi menjadi hotel, mall maupun pemukiman. Sehingga air hujan yang mestinya meresap ke dalam tanah, justru mengalir melalui jalan-jalan raya dan mengumpul menjadi genangan.
“Kita tidak memiliki kewenagan untuk mengatasi persoalan ini. Karena ini merupakaan ranahnya pemerintah. Kita hanya bertugas memberikan rekomendasi kebijakan saja. Dan, hal itu sudah kita lakukan sejak dulu,” jelasnya.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : Koko Triarko / Foto : Jatmika H Kusmargana