RABU 25 JANUARI 2017
BOGOR— Menjelang Imlek Candra Kesuma berpuasa selama tiga hari. Pria keturunan Tionghoa ini mengartikan puasa berpantang makan daging. Menurut sesepuh di Vihara Pan Kho Bio ini dalam ajaran Buddha ada larangan membunuh mahluk hidup. Ada juga larangan untuk tidak memakan bahan dari hasil pembunuhan itu sendiri.
![]() |
| Altar sembahyang di sbeuah Vihara, Bogor. |
Pria setengah baya ini seperti halnya warga Tionghoa yang menyambut imlek mengikuti tradisi, di antaranya membeli baju baru, menyiapkan perangkat-perangkat yang diperlukan, tradisi kim sin ritual memandikan rupang), dan membeli sejumlah angpao untuk dibagikan.
“Selain itu juga belanja untuk persiapan malam tahun baru. Belanja sebelum hari raya adalah hal yang mutlak, ” katanya kepada Cendana News, Rabu (25/1) dalam logat Sunda yang kental.
Tutur Candra biasanya bagi warga yang mempunyai altar di rumah, mereka membersihkannya dulu, kemudian berdoa bagi arwah leluhur. Bagi orang-orang yang membantu di rumah ibadat mereka ada persiapan-persiapan yang lebih dari persiapan yang dilakukan di rumah. Keluarga Tionghoa biasanya berkumpul di kediaman kakak tertua. “Kami juga bersilaturahim,” ucapnya.
Namun yang menjadi hal penting katanya apakah di tahun yang baru kita melakukan hal yang lebih baik dari yang pernah dilakukan di tahun sebelumnya.
Ivander Wijaya, 24 tahun warga Bantar Gerbang, Bogor membenarkan adanya tradisi membeli baju baru. Menurut pegawai swasta ini malam Imlek sesudah mandi sore, ia sudha mengenakan baju baru. Dia dan keluarganya berkumpukl di rumah nenek yang mempunyai meja altar.
“Namun tradisi yang khas berkaitan dengan Imlek di Bogor adalah Cap go Meh yang dirayakan bersama warga lain, “ kata Ivander dihubungi Cendana News dalam kesempatan terpisah.
Apa yang diungkapkan Ivander dibenarkan Djahar, seorang warga Bogor berusia 50 tahunan. Masyarakat Tionghoa Bogor yang turun temurun membaur dengan etnis lain. Perantau Cina di Bogor itu, yang awal, kebanyakan adalah kelompok yang berpendidikan. Dia sendiri sewaktu kecil kerap diajak ikut dalam perayaan Imlek. “Waktu kecil saya diajak main barongsai. Saya dan teman-teman suka diajak main ke klentengm “ kenangnya.
Menurut bebrapa sejarawan, di antaranya Denny Lombard, ahli sejarah Indoensia dari Prancis dalam bukunya Nusa Jawa Silang Budaya, masyarakat Tionghoa sudah menempati Kota Bogor sejak 200 tahun yang lalu. Di antaranya mereka banyak bermukim di kawasan Jalan Suryakencana. Di jalan ini terdapat Vihara Dhanagun (dahulunya disebut sebagaiKelenteng Hok Tek Bio) yang dibangun pada abad ke 18. Pemukiman masyarakat Tionghoa erat kaitannya dengan peristiwa yang terjadi di Batavia pada 1740 dan mereka eksodus ke Bogor.
![]() |
| Tradisi Imlek tempo dulu di Bogor. |
Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/dokumen Pemkot Bogor.
