Tradisi Kunjungan Usai Ibadah Natal Pagi, Bukti Kerukunan Antar Umat Beragama di Lampung

MINGGU, 25 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Tradisi perayaan hari raya Natal dilakukan oleh umat Katolik di Unit Pastoral Bakauheni, wilayah Gerejawi Keuskupan Tanjungkarang dengan Misa Malam Natal di malam hari dan ibadah Natal di pagi hari. Seusai melakukan Misa Natal dan ibadah Natal, tradisi kunjungan dilakukan secara bergantian dari desa satu ke desa lainnya.
Merayakan Natal dalam keberagaman.
Tradisi kunjungan usai perayaan Natal pagi, dilakukan secara bergantian untuk memastikan tuan rumah tetap berada di rumah, saat mendapat giliran dikunjungi. Dan, umat Katolik dari wilayah lain, mendapat bagian mengunjungi. Tradisi tersebut menurut tokoh umat Katolik di Lampung Selatan, Pokro (60), sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu sejak umat Katolik datang di wilayah tersebut. Saling kunjung dilakukan tidak hanya di antara umat Katolik. Namun, juga dilakukan di antara umat beragama lain seperti muslim dan Hindu.
Tradisi kunjungan, ungkap Pokro, dilakukan penuh keakraban, tanpa memperhatikan perbedaan. Hal demikian terlihat dari keberagaman yang ada, saat umat muslim juga berkunjung dan berkumpul bersama keluarga yang merayakan Natal, dan terlihat akrab tanpa memperhatikan pakaian yang dikenakan. Kunjungan dimulai sejak pagi hingga malam hari dengan mengunjungi satu rumah ke rumah lain yang merayakan Natal.
Tradisi saling kunjung Natal di Lampung
“Keberagaman dan tradisi saling berkunjung ini memang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Saat kami merayakan Natal, umat muslim berkunjung ke rumah kami, sebaliknya, saat Idul Fitri pun kami berkunjung ke rumah mereka,” ungkap Pokro, Minggu pagi (25/12/2016).
Seperti perayaan hari raya yang telah umum, hidangan kue-kue Natal yang disediakan oleh umat Katolik yang dominan berasal dari Pulau Jawa, khususnya para transmigran dari Provinsi Yogyakarta, di antaranya kue tradisional seperti keripik pisang, keripik singkong, tape ketan hitam serta hidangan lain. Kentalnya tradisi Jawa tersebut, menurut Pokro, sesekali juga diselingi dengan penggunaan bahasa Jawa, terutama bagi para orangtua yang hadir dalam perayaan Natal di gereja.
Keberagaman begitu terlihat selama kunjungan tradisi Natal itu dengan adanya beberapa biarawati yang mengunjungi umat Katolik dari rumah ke rumah. Para biarawati tersebut bahkan tak canggung saat bertemu dan justru terlihat akrab saat bertemu dengan umat yang berasal dari agama lain. Rasa persaudaraan yang terjalin tersebut salah-satunya akibat kekerabatan yang sudah terjalin erat dan senasib sepenanggungan sebagai warga trasmigran dari Pulau Jawa, yang hingga kini tinggal di Lampung.
Pantauan Cendana News, kunjungan dari rumah ke rumah masih berlangsung sejak pagi dan masih akan terus berlangsung hingga malam hari nanti. Letak rumah warga yang saling berdekatan, memungkinkan kunjungan dilakukan dengan berjalan kaki secara bersama sama dari satu rumah ke rumah yang lain, untuk mengucapkan selamat Natal bagi umat yang merayakan.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : Koko Triarko / Foto : Henk Widi

Lihat juga...