SELASA, 13 DESEMBER 2016
MALANG — Bagi seorang seniman lukis, inspirasi untuk membuat suatu lukisan bisa datang darimana saja, tidak terkecuali inspirasi dari sebuah kritikan yang di tujukan kepadanya. Hal ini juga yang terjadi pada Romy Setiawan, salah seorang pelukis asal Mojokerto yang kini tinggal di Malang.
![]() |
| Romy dengan lukisan Apatheia |
Dalam pembuatan salah satu lukisan yang berjudul ‘Apatheia’, Romy mengaku bahwa karyanya tersebut dibuat untuk menjawab sebuah kritikan dari salah satu pengunjung saat dirinya menggelar pameran tunggal di Surabaya.
“Waktu saya membuat pameran tunggal tahun 2013 di Surabaya, saat itu datang seorang pengunjung yang ternyata juga salah satu dosen seni di Surabaya mengatakan bahwa karya lukisan saya itu ‘Jinak’,” ceritanya, saat memamerkan lukisan Apatheia di ajang Dedicated Aesthetic 2, Selasa (13/12/2016).
“Setelah mengatakan seperti itu, tanpa memberikan penjelasan tiba-tiba pengunjung itu langsung pergi begitu saja. Seperti sengaja ingin meninggalkan persoalan yang belum terjawab kepada saya,”sambungnya.
Dari situ kemudian selama kurang lebih tiga minggu, ia terus terngiang sekaligus bertanya-tannya dengan kata ‘Jinak’ dari pengunjung tersebut. Selanjutnya, selang satu bulan dari kejadian itu, Romy akhirnya mendapat kesempatan bertemu lagi dengan pengunjung yang pernah ditemuinya saat itu di Surabaya dan ia pun langsung menanyakan apa arti kata jinak yang dimaksud.
“Menurut pengunjung tersebut ternyata karya saya terlalu terkungkung pada garis outline sehingga kurang bebas, oleh karena itu ia menyebut lukisan saya itu dijinakkan oleh garis sehingga kurang bebas,” ungkap pria yang juga berprofesi sebagai dosen seni di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB).
Setelah mendapatkan jawaban dari arti kata jinak, Romy justru menolak pendapat tersebut dan ia semakin mantab bahwa tidak ada yang salah dengan karyanya. Oleh karena itu akhirnya Romy membuat lukisan Apatheia sebagai jawaban atas kritikan yang ia dapat pada saat itu.
“Melalui karya lukisan Apatheia yang menonjolkan garis ini, saya ingin membuktikan sekaligus jawaban bahwa garis bukan sebagai pembatas kebebasan dalam melukis, tetapi dengan garis justru bisa menjadi kekuatan dalam lukisan saya,” ujarnya.
“Dengan adanya kritikan, jika disikapi dengan positif justru bisa dijadikan sebagai inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya,” tandas pria yang merupakan lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut.
Sementara itu, lebih lanjut Romy menyampaikan bahwa lukisan berjudul Apatheia menggambarkan kondisi masyarakat pasca perang dunia II dimana segalanya hancur termasuk mental mereka.
“Mereka sedih, salah. Bahagia juga salah. Jadi mereka ada di posisi ambang batas yang akhirnya mereka hanya bisa diam atau apatis. Tapi apatis disini bukan acuh, melainkan diam untuk mengumpulkan kekuatan,” pungkasnya.
Jurnalis : Agus Nurchaliq / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Agus Nurchaliq