Posdaya Jingga dan Tabur Puja Menginspirasi Kegiatan Warga

KAMIS, 15 DESEMBER 2016

JAKARTA — Pemberdayaan aspek ekonomi di masyarakat digagas Yayasan Damandiri melalui sebuah program bernama Tabur Puja atau Tabungan Kredit Pundi Sejahtera dengan koperasi sebagai pelaksana lapangan. Koperasi Sudara Indra ditunjuk sebagai pembina sekaligus pengawas untuk seluruh Posdaya wilayah DKI Jakarta dalam menjalankan Program Tabur Puja.

Murniasih Martono, bendahara Posdaya, menjelaskan perihal pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berbasis pada simpan pinjam dengan cara kredit lunak.  

Posdaya Jingga di Gang Abah No.41 Cilandak KKO, RT 05/RW 05, Kelurahan Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, adalah salah satu contoh Posdaya Tabur Puja Mandiri binaan Koperasi Sudara Indra. Keikutsertaan Posdaya Jingga dalam Program Tabur Puja ini, menurut Ketua Posdaya Jingga, Hj. Suwartini Djuwarno, dimulai sejak 2014 atau dua tahun setelah mereka bergabung dengan Yayasan Damandiri. Penanganan Program Tabur Puja di Posdaya Jingga oleh Ketua Posdaya diserahkan kepada Bendahara Posdaya, Murniasih Martono.

Menurut Murniasih, kuota awal yang mereka terima sebesar Rp 100 juta. Dari jumlah itulah coba dikembangkan dalam bentuk simpan pinjam bagi anggota masyarakat sekitar Posdaya untuk pemberdayaan ekonomi.

Pengenalan kewirausahaan semenjak masih usia muda.

“Bentuknya simpan pinjam dan masyarakat yang kami berikan kredit lunak adalah mereka yang memang membutuhkan modal usaha kecil sampai menengah demi peningkatan ekonomi keluarga,” jelas Murniasih, Bendahara Posdaya Jingga kepada Cendana News.

Setelah mendapat kepercayaan melalui pemberian kuota awal sebesar Rp 100 juta, Posdaya Jingga segera melakukan gebrakan awal berupa pasar murah selama empat bulan. Dari modal sekitar Rp 15 juta (gabungan antara modal pembelian sembako dan subsidi internal Posdaya), berputar keuangan secara perlahan selama kurang lebih empat bulan diadakannya pasar murah.

Setelah acara itulah mulai berdatangan satu persatu baik perorangan maupun berkelompok warga sekitar untuk bergabung dalam lingkaran Posdaya Jingga. Mulai dari 4 orang sampai sekarang sudah menyentuh angka di atas 100 orang dengan jumlah pinjaman berkisar Rp 2 juta sampai Rp 4 juta untuk perorangan dan Rp 10 juta sampai Rp 15 juta untuk kelompok masyarakat dengan klasifikasi kegiatan usaha tertentu.

Sari Jeruk Nipis, salah satu produk yang bisa dikembangkan secara online.

Untuk saat ini, jumlah kreditur terbesar masih dari perorangan. Secara persentase, dari 100% kreditur Tabur Puja di Posdaya Jingga, 75% kreditur berasal dari perorangan. Banyak pedagang kecil yang sudah terbantu melalui Program Tabur Puja dari Posdaya Jingga. Mulai dari pedagang mi keliling, pedagang buah, sampai pedagang kecil lainnya. Ada sekitar 30 pedagang aktif di sekitar Posdaya, baik itu warga asli maupun pendatang yang terbantu oleh Program Tabur Puja. Lalu ada juga warga setempat yang meminjam untuk membuka usaha kecil-kecilan berdagang makanan di rumah seperti nasi uduk atau sejenisnya serta membuka usaha warung kelontong.

Walau lebih besar persentase peminjam perorangan, untuk peminjaman secara berkelompok tetap menjadi prioritas. Artinya sesuai dengan visi dan misi Yayasan Damandiri di mana majunya ekonomi dilakukan secara bersama-sama dengan azas gotong royong. Namun hal itu masih terus diupayakan oleh Posdaya Jingga dengan membuka ruang-ruang komunikasi menggunakan acara-acara pertemuan PKK setempat, rapat RT maupun RW bahkan sampai kegiatan Karang Taruna dengan memberikan edukasi kepada anak muda bahwa untuk memulai wirausaha harus dari usia muda. Dari sisi pembayaran angsuran kredit, ada penanganan khusus serta batasan baku dari Posdaya Jingga. Untuk perorangan biasanya hanya menjadi tanggung jawab pihak yang meminjam. Artinya tanggung jawab sepenuhnya ada pada kreditur. Sistem kekeluargaan diberlakukan dalam penagihan angsuran pinjaman.

“Maksudnya kekeluargaan adalah kami bukan sebagai pihak bank. Kami adalah koperasi yang mengayomi mereka, sehingga membina hubungan kekeluargaan dalam konteks ikatan emosional kami kedepankan,” tambah Murniasih lagi.

Untuk peminjaman secara berkelompok pembayaran angsurannya menggunakan sistem Tanggung Renteng. Yakni jika ada salah satu kredit macet maka seluruh anggota kelompok menanggung pembayaran angsuran itu. Selama ini tidak ada peminjaman dari kelompok yang bermasalah, justru kerap timbul masalah dari kreditur perorangan. Menurut Murniasih, walaupun jumlahnya tidak terlalu besar namun mereka tetap berusaha meminimalisir kredit macet dari pinjaman perorangan.

Oleh karena itu, maka cara Posdaya Jingga menangani masalah yang timbul dari kreditur perorangan adalah dengan melibatkan pengurus RT setempat yaitu Ketua RT. Bukan untuk membebani siapa pun, akan tetapi lebih kepada perlahan melatih masyarakat agar tumbuh rasa tanggung jawab jika melakukan transaksi simpan pinjam. Ketua RT hanya sebatas mengetahui bahwa ada salah satu warganya yang meminjam kepada koperasi sehingga jika terjadi kemacetan maka Ketua RT membantu mengingatkan bagi warga terkait untuk melakukan pelunasan. Turut sertanya Ketua RT dalam menyelesaikan kredit macet warganya itu biasanya dilakukan setelah pihak Posdaya memberikan toleransi pembayaran angsuran yang tertunggak selama 1-2 bulan kepada kreditur terkait.

“Beragam kendala berikut penanganan yang kami kembangkan akhirnya membawa Program Tabur Puja menjadi semakin maju di sini. Kendala pasti ada, namun jika diselesaikan dengan baik maka kami yakin itu perlahan terkikis dengan sendirinya,” pungkas Murniasih yang juga pensiunan Badan Atom Nasional ini kepada Cendana News.

Cara pengelolaan simpan pinjam Program Tabur Puja yang dijalankan Posdaya Jingga adalah sangat terprogram serta terukur hasilnya. Indikator dari hal itu adalah bukan dari bagaimana perubahan ekonomi masyarakat, akan tetapi dapat dilihat secara perlahan melalui bagaimana kegiatan masyarakat yang tadinya banyak diisi dengan kegiatan tidak berpotensi ekonomi menjadi kegiatan yang menjanjikan atau nantinya bisa berujung kepada kegiatan untuk menambah gerak ekonomi keluarga masing-masing. Contohnya, jumlah anak muda yang bergerombol di Pos Keamanan untuk sekadar berkumpul tanpa hasil mulai terkikis secara perlahan. Mereka disibukkan untuk membantu usaha orang tua masing-masing baik itu untuk berdagang maupun melakukan usaha lainnya dengan uang yang didapat dari Posdaya Jingga melalui Program Tabur Puja. Di samping itu, karena kegiatan anak-anak muda sudah mengarah positif, implikasi untuk kegiatan lain adalah kegiatan olah raga Karang Taruna maupun kegiatan sosial pendidikan Kejar Paket A, B, dan C yang diadakan Posdaya Jingga ikut terdongkrak naik. Dengan bantuan yang didapat melalui Posdaya Jingga, maka anak-anak putus sekolah di wilayah sekitar Posdaya Jingga mulai terarah serius mengikuti pendidikan. Perlahan mereka menyadari bahwa untuk menjadi seorang yang berhasil bukan semata dari mengharapkan pinjaman koperasi saja, melainkan bagaimana mereka harus menjadi orang yang mandiri dan cerdas agar kelak bisa menjadi harapan keluarganya masing-masing.

Anak-anak Karang Taruna juga tanpa sadar mulai terarah melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi kecil seperti bazaar maupun berdagang secara online. Kegiatan salah satu anggota Karang Taruna yang sekarang sedang berkembang adalah usaha Sirup Lemon dan Sari Jeruk Nipis yang dipasarkan secara online. Peralatan untuk membuatnya disiapkan oleh Posdaya Jingga sehingga proses produksi bisa rutin dilakukan walau belum dalam jumlah besar. Dengan diberi bantuan kredit lunak, masyarakat berangsur sadar akan pentingnya wirausaha, pentingnya mengenyam pendidikan, bahkan menyadarkan masyarakat untuk membangun usaha kecil-kecilan secara mandiri seperti Sirup Lemon dan Sari Jeruk nipis. Sehingga boleh dikatakan keberhasilan Program Tabur Puja di lingkungan Posdaya Jingga tidak hanya sebatas satu sisi saja yaitu peningkatan pendapatan masyarakat baik personal maupun secara keseluruhan. Namun dapat dilihat dari bagaimana Tabur Puja ternyata bisa menginspirasi sekaligus menggerakkan sektor lainnya sebelum menuju peningkatan pendapatan masyarakat tersebut.

Jurnalis: Miechell Koagouw / Editor: Satmoko / Foto: Miechell Koagouw

Lihat juga...