KAMIS 22 DESEMBER 2016
LOMBOK—Ia bukan sosok perempuan terpandang, terkenal dan hartawan di kampungnya, bukan pula perempuan berpendidikan seperti kebanyak perempuan sekarang, istri pejabat pemerintahan maupun perempuan seumuran yang sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) era Presiden Soeharto.
![]() |
| Mindri |
Mindri 50 tahun hanyalah sosok ibu rumah tangga, perempuan pedesaan yang semasa kecil sampai sekarang ditempa dengan kerasnya kehidupan dalam kemiskinan, memikul beban pekerjaan domestik, sebgaimana perempuan pedesaan lain, bergulat dengan lumpur menggarap lahan pertanian,tanpa pernah bekesempatan mengenyam pendidikan.Tapi faktor kemiskinan dan latar belakang sebagai perempuan tidak berpendidikan dan lantas tidak membuat Mindri berfikiran kampungan tentang kehidupan dan masa depan anak – anaknya.
Kemiskinan dan latar belakang sebagai orang yang tidak pernah mengenyam nikmatnya pendidikan serta adanya keyakinan, bahwa pendidikan menjadi kunci memperbaiki kehidupan dan melawan kemiskinan, justru dijadikan Mindri sebagai spirit memperjuangkan empat anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi – tingginya.
“Saya tidak pernah sekolah dan buta huruf, tapi sadar dan meyakini bahwa kebodohan dan kemiskinan hanya bisa dilawan dengan pendidikan,” cerita Mindri kepada Cendana News, Kamis (22/12/2016).
Untuk itulah kondisi kemiskinan tahun 90 puluhan dan krisis moneter yang sempat melanda Indonesia, dimana uang saat itu sangat sulit, ditambah suaminya yang seringkali sakit – sakitan samasekali tidak menyurutkan semangat Mindri menyekolahkan anaknya sampai jenjang Perguruan Tinggi.
Ejekan dan cibiran bernada sinis dari tetangga satu kampung ketika mendengar rencananya melanjutkan pendidikan dua anaknya ke salah satu perguruan tinggi ternama di NTB sempat mewarnai perjuangannya, bahkan tidak sedikit yang menakut – nakuti kalau biaya kuliah mahal dan akan banyak menghabiskan biaya.
Ejekan dan cibiran tetangga tersebut memang bukan tanpa alasan, selain kondisi prekonomian sebagian besar masyarakat pedesaan saat itu sangat memprihatinkan, Mindri juga hanya petani penggarap sawah milik orang dan tidak memiliki lahan sendiri, sehingga secara logika tidak akan banyak mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.
“Allah Maha kaya dan anak sekolah itu rezekinya selalu ada dari yang tidak diduga, karena yang mereka lakukan adalah menuntut ilmu, meski harus minjam sana sini” tuturnya.
Keyakinan dan kerja keras itulah yang membuat Mindri sukses mengantarkan anaknya bisa mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi dan pada perjalanannya telah menjadi inspirasi dan penyemangat bagi masyarakat Desa Banyu Urip lain berani menyekolahkan anaknya sampai jenjang perguruan tinggi sampai sekarang.
Kini di usia yang telah senja, dari segi fisik, Mindri memang sudah tidak sekuat dulu, tapi buah dari kerja keras serta semangtnya akan tetap diwariskan anak – anaknya, menginspirasi dan menyadarkan masyarakat di desanya, bahwa kemiskinan tidak harus jadi alasan untuk tidak sekolah, bahwa kemiskinan hanya bisa dirubah dengan pendidikan. Selamat hari ibu Mindri, ibu tetap jadi pahlawan bagi anak – anakmu.
Jurnalis: Turmuzi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Turmuzi