KAMIS, 22 DESEMBER 2016
PONOROGO — Memperingati hari ibu, tidak semua ibu-ibu di Indonesia bisa duduk dengan nyaman menikmati hari tuanya bersama cucu tercinta. Setidaknya, hal ini menjadi potret beberapa kuli panggul perempuan di Pasar Legi Songgolangit, Ponorogo. Di hari tuanya, bukannya menikmati masa tua di rumah bersama cucu, malah harus bergulat dengan kerasnya kehidupan pasar. Menjadi kuli panggul bukanlah pekerjaan mudah. Setiap hari para kuli panggul ini harus rela mendatangi para pembeli maupun pedagang di pasar menawarkan tenaganya dengan upah seadanya. Rutinitas ini terjadi setiap hari di Pasar Legi Songgolangit.
![]() |
| Dua kuli panggul di Pasar Legi. |
Salah satu kuli panggul asal Karanglo, Siti Maryam (55) menjelaskan, ia sudah menjalani profesi ini selama 20 tahun terakhir. Upah yang ia terima tidak seberapa, terkadang sekali panggul ia hanya menerima Rp 3-20 ribu, tergantung pemberian pemakai jasanya.
“Daripada menganggur dan meminta uang dari anak, lebih baik saya bekerja sendiri meskipun hasilnya tidak seberapa,” jelasnya kepada Cendana News di lokasi, Kamis (22/12/2016).
Ia menambahkan, sekarang sudah mulai jarang yang menggunakan tenaganya, karena orang mulai jarang belanja kebutuhan sehari-hari di pasar ini lagi. Apalagi setelah kebakaran hebat tahun 2009 lalu. Selain itu, para pembeli biasanya sudah membawa orang suruhan sendiri untuk membawakan barang belanjaannya.
Hal senada juga diungkapkan Sumanah (53) warga Singosaren. Ia menerangkan, dalam sehari ia hanya mampu mengantongi Rp 20-25 ribu saja. Itu pun ia menjajakan tenaganya dari pukul 07.00-17.00 WIB.
![]() |
| Kuli panggul perempuan di Pasar Legi. |
“Di sini kuli panggul ada 100 orang, lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Kadang saat harus mengangkat beras atau pun barang lainnya yang berat, para pembeli lebih memilih menggunakan kuli panggul laki-laki,” ujarnya.
Nenek dua cucu ini berharap, setiap hari selalu ada orang yang menggunakan tenaganya. Ia merasa pekerjaan ini lebih baik daripada mengemis di jalan. Karena menurutnya, selama uang yang dihasilkan halal, ia sudah bersyukur.
“Lebih-lebih lagi bisa membelikan cucu saya jajan, bahagianya lebih,” pungkasnya.
Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti
