Peran Pelaku Seni Budaya dalam Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter

SENIN, 19 DESEMBER 2016

MALANG — Keterlibatan pelaku seni dan budaya dalam dunia pendidikan ke depan akan menjadi aktor, partner yang penting dalam gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Hal itu disampaikan Prof. Dr. Djoko Saryono yang merupakan salah satu Tim Pengarah Pendidikan Karakter dari Kementerian Pendidikan Indonesia saat menjadi pembicara dalam acara sarasehan dan bengkel budaya bertajuk Peran Pelaku Seni Budaya dalam Gerakan PPK di Sekolah Budaya Kampung Tunggulwulung.

Prof. Dr. Djoko Saryono (kanan) memaparkan perihal peran penting pelaku seni dan budaya dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah.

“Peran pelaku seni dan budaya sangat fundamental, strategis, sentral, dan vital karena merupakan bagian penting dari gerakan PPK,” ujarnya, Minggu (18/12/2016).

Dikatakan fundamental, karena kebudayaan menjadi poros, as, dan akar gerakan PPK sebab nilai karakter merupakan dimensi terdalam kebudayaan. Dikatakan strategis, karena kebudayaan terutama kearifan lokal menjadi jiwa dari pengembangan dan implementasi gerakan PPK. Sedangkan yang dimaksud memiliki kedudukan sentral dan vital, karena kebudayaan menjadi wahana, bahan sumber, serta media implementasi gerakan PPK. Dengan begitu, pergerakan dari para pelaku seni dan budaya ini juga bisa bergerak di dalam struktur kurikulum yang terdiri dari intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan non kurikuler.

“Jadi boleh misalnya nanti siswa Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ada di Malang diajak datang ke sekolah budaya Tunggulwulung untuk belajar mengenai budaya,” ucapnya.

Menurutnya, tempat belajar bukan menjadi hal penting, namun yang penting adalah ekosistem sekolah yang berarti anak sekolah itu tidak harus selalu berada di kelas saja. Tetapi siswa boleh diajak keluar kelas maupun keluar sekolah.

“Bahkan struktur kurikulum yang non kurikuler itu tidak dirancang oleh guru maupun pihak sekolah tetapi atas inisiatif orang tua dan anak untuk ikut sesuatu yang relevan dengan pelajaran,” terangnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, jika gerakan PPK ini dilakukan maka waktu belajar akan berubah dan anak-anak akan lebih lama berada di sekolah sekitar 8 jam per hari selama 5 hari. Tetapi pelajaran kurikuler hanya boleh sampai jam 12 siang, setelah jam itu bisa digunakan untuk berkesenian, berkebudayaan, teater, menari, jurnalistik, dan sebagainya.

“Jadi 8 jam di sekolah itu bukan berarti harus di kelas terus. Maksimal, di kelas sampai pukul 12 siang saja,” tuturnya. Yang terpenting selama lima hari itu dari lima penguatan nilai utama yaitu religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas, harus ada yang ditonjolkan setiap harinya.

Sementara itu Djoko juga mengaku, meskipun gerakan penguatan pendidikan karakter ini belum secara resmi di-launching Presiden, namun sejak bulan Oktober sampai Desember 2016, gerakan PPK sudah diuji cobakan secara bertahap di 542 sekolah SD/SMP dari 34 provinsi.

“Sampai hari ini sudah ada 7 kabupaten/kota yang berkomitmen untuk menerapkan model pendidikan seperti ini dan salah satu di antaranya yaitu Kota Malang. Jadi, mulai semester depan siswa SD/SMP di Kota Malang pulang pukul 4 sore, sedangkan Sabtu dan Minggu bersama orang tua maupun komunitas melakukan kegiatan PPK,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq

Lihat juga...