Harga Sawit di Lampung Timur Anjlok

JUMAT 9 DESEMBER 2016

LAMPUNG—Produktifitas komoditas perkebunan kelapa sawit di Lampung Timur yang cukup baik tak diimbangi dengan membaiknya harga jual bahan baku pembuat minyak goreng tersebut. Salah satu pekebun di Kecamatan Marga Sekampung, Suhadi bahkan menyebut saat ini petani yang harus rela menjual buah sawit segarnya dengan harga yang tak memuaskan meski produksi buah sawit atau tandan buah segar (TBS) yang ia miliki cukup melimpah. Sebagian besar produksi kelapa sawit yang ia miliki dijual ke pengepul yang akan mengirim ke pabrik pengolahan kelapa sawit menjadi minyak goreng di Panjang Bandarlampung.
Proses pemanenan kelapa sawit di Lampung Timur.
Suhadi mengakui harga kelapa sawit yang ditanam oleh petani di Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur mengalami penurunan hingga kisaran harga Rp1.000 perkilogram. Menurutnya harga di pasaran mencapai Rp1.300 perkilogram bahkan sempat naik di pada level Rp1.300 hingga Rp1.400 perkilogram meski tidak bertahan lama. Harga pada level pengepul tersebut hingga kini masih belum bisa dirasakan oleh petani di wilayah pedalaman yang menjual kelapa sawit dengan harga Rp1.000 perkilogram. Jika sebelumnya harga tandan buah segar menyentuh harga diatas Rp2.000 perkilogramnya namun kini mencapai level cukup rendah dalam kurun waktu setahun terakhir.
Kebutuhan akan bahan baku pembuatan minyak goreng tersebut diakui Suhadi dan sejumlah petani kelapa sawit di Lampung Timur cukup memberatkan petani khususnya  biaya operasional yang dikeluarkan tak sebanding dengan harga jual. Suhadi bahkan mengungkapkan untuk mengirim tandan kelapa sawit dari kebunnya ia harus menggunakan tenaga kendaraan roda tiga akibat medan yang sulit untuk dilewati kendaraan roda empat.
“Kalau medannya mudah dengan harga yang rendah tak masalah namun kami memiliki kebun yang aksesnya sulit butuh alat angkut dengan pengeluaran bahan bakar yang tinggi jadi kalau harga rendah kami merugi,”terang Suhadi petani pekebun di Lampung Timur, Jumat (9/12/2016).
Nilai jual yang anjlok terhadap komoditas perkebunan khususnya kelapa sawit tersebut menurut Suhadi tak serta merta membuat Suhadi dan petani kelapa sawit membongkar tanaman yang mereka miliki. Suhadi beralasan dengan kondisi saat ini yang cukup banyak curah hujan kualitas kelapa sawit terbilang rendah sehingga masih sulit untuk naik namun ia masih berharap pada komoditas pertanian lain yang ia miliki diantaranya kelapa dalam serta hasil pertanian lain.
Ia berharap pemerintah setempat melakukan upaya untuk memperhatikan nasib petani pekebun kelapa sawit sebab selama ini petani kelapa sawit melakukan pola penanaman secara swadaya dan belum melakukan pola kemitraan (plasma) dengan perusahaan. Selain harga yang rendah sebagian petani bahkan masih menerapkan cara cara tradisional dalam penanaman,perawatan kelapa sawit sehingga hasilnya kurang maksimal.
“Petani sawit di wilayah kami memang cukup banyak namun sebagian merupakan pekebun perseorangan dan belum ada mitra dengan perusahaan pengolahan minyak goreng sehingga saat harga anjlok kami tak bisa berbuat banyak,”ungkap Suhadi.
Sebagai langkah mengurangi kerugian ia mengaku menerapkan sistem pemanfaatan limbah dari perkebunan kelapa sawit untuk diterapkan dengan peternakan sapi. Sebagian besar daun yang dipangkas digunakan untuk pakan sapi dengan pola sistem peternakan kelapa sawit dan peternakan sapi (Siskapi).  Pakan sapi dari pelepah, daun kelapa sawit dicacah menggunakan alat khusus untuk sekitar 6 ekor sapi yang dimilikinya. Pola tersebut diakuinya sebagai investasi jangka panjang sekaligus untuk menghindari kerugian lebih besar saat harga sawit sedang anjlok seperti saat ini.
Berbeda dengan petani di Kecamatan Marga Sekampung, Petani di Sukadana Lampung Timur terpaksa membongkar lahan pertanian sawit yang mereka miliki dengan beralih ke tanaman jagung. Peralihan tersebut diantaranya proses penanaman jagung lebih mudah dan umur panen yang cukup pendek sehingga perputaran modal lebih cepat kembali dibandingkan kelapa sawit yang harus menunggu waktu berbulan-bulan.
Jurnalis: Henk Widi/Editor: Irvan Sjafari/Foto: Henk Widi
Lihat juga...